Menjelang Putaran 2 Pilkada DKI, Politik Uang Merajalela



Selasa, 18 April 2017 | 07:07 WIB

Menjelang Putaran 2 Pilkada DKI, Politik Uang Merajalela


Sejumlah warga berpartisipasi dalam simulasi pengawasan berbasis teknologi untuk Pilkada serentak 2017 di kantor Bawaslu, Jakarta, 8 Februari 2017. TEMPO/Ilham Fikri.

TEMPO.CO, Jakarta- Badan Pengawas Pemilu menemukan indikasi politik uang oleh tim pasangan inkumben Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat. Sedangkan lawan mereka, Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno, disebutkan melakukan kampanye hitam.



 Pengawas menerima laporan dari setidaknya tujuh tempat penyimpanan bahan pokok milik tim pasangan nomor urut dua yang hendak dibagikan ke pemilih sejak Ahad pekan 16 April 2017 lalu. Dua lokasi di Jakarta Selatan, dua di Jakarta Barat, dan masing-masing satu di Jakarta Utara, Jakarta Timur, serta Kepulauan Seribu. “Akan kami klarifikasi lebih lanjut," ujar Mimah Susanti, ketua lembaga itu, Senin 17 April 2017.



Baca: Cegah Massa ke Jakarta, Polisi Perketat Pengamanan di Brexit



 Ahok mengklaim sejak dulu menolak politik uang. Karena itu, ia menyatakan tidak terlibat kegiatan tersebut. “Saya paling enggak suka bagi-bagi sembako," kata dia di Monumen Nasional. Ia meminta masyarakat melapor ke polisi atau pengawas pemilu bila menemukan kegiatan itu oleh timnya.




Tempo mengecek ke sejumlah tempat yang disebut sebagai penyimpanan bahan pokok, di antaranya satu rumah dinas anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Penghuni rumah di Blok D IV-323, Kalibata, Jakarta Selatan, itu diduga anggota Fraksi PDIP, partai pengusung Ahok-Djarot. Tumpukan mi instan, gula pasir kemasan, dan berkarung-karung beras terlihat di dalam rumah.



 Teguh, yang mengaku sebagai kader partai dari Banyumas, Jawa Tengah, mengatakan bertanggung jawab menjaga rumah itu. Menurut dia, distribusi bahan pokok diatur oleh orang lain yang juga berasal dari Jawa Tengah. Sayang, nomor petugas distribusi ini tak bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi.

Baca: Ingin Situasi Pilkada DKI Aman, Kapolda Sambangi Sejumlah Ulama



 Jejak pemesanan bahan pokok tercatat di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. Pedagang beras Billy Haryanto--lebih dikenal dengan panggilan “Billy Beras”--mengatakan menerima pesanan berton-ton beras dari anggota Fraksi PDIP DPR, Aria Bima. Ia merinci catatan pemesanan senilai Rp 500 juta lebih yang, menurut dia, belum dibayar. Bahan pokok lalu dibagikan ke berbagai wilayah, terutama Jakarta Timur dan Selatan, yang pada putaran pertama dimenangi Anies-Sandi.



 Pemesan lain, menurut Billy, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Djan Farid yang mendukung Basuki-Djarot. Ia memesan 30 ton beras yang dikirim ke Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di depan Tempo, Billy menelepon Aria Bima dan menyatakan semua pesanan sudah dibagikan.



 Dimintai konfirmasi secara terpisah, Aria Bima mengakui pernah meminta beras ke Billy. Tapi, kata dia, permintaannya tak dipenuhi pedagang beras asal Sragen, Jawa Tengah, itu. Ia menyebut Billy adalah pendukung Anies karena “Ahok merusak distribusi di Cipinang”. Djan Farid menyatakan Billy memfitnahnya, “Saya bukan pedagang, tidak jualan beras. Pilkada? Saya juga bukan calon.”

Baca: Ahok: Saya Paling Enggak Suka Kalau Ada Bagi-bagi Sembako



Hingga kemarin, belum ada laporan pembagian bahan pokok oleh tim Anies-Sandi ke pengawas. Namun, menurut anggota Badan Pengawas Pemilu Jakarta, Muhammad Jufri, pasangan ini banyak diadukan dengan tuduhan memasang spanduk provokatif. “Black campaign,” katanya. 





ERWAN HERMAWAN | IRSYAN HASYIM | ARKHLAUS W | LINDA HAIRANI





 Simak: Ada Video Anies Membagikan Sembako, Timses: Itu Arsip Lama  

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru