Kamis, 24 Agustus 2017

Dari Pojok Sunyi Wiji Thukul

Selasa, 08 November 2016 | 21:57 WIB
Cuplikan film Solo, Solitude (Istirahatlah kata-kata). youtube.com

Cuplikan film Solo, Solitude (Istirahatlah kata-kata). youtube.com.

TEMPO.CO, Jakarta-Sebuah film yang mengangkat  periode delapan bulan keadaan penyair dan aktivis Wiji Thukul sebelum akhirnya dia hilang. Sunyi, perih dan kelam.

***

Pada layar itu, tidak tertera bait puisi yang terkenal itu; yang telah mengibar-ngibarkan semangat : “Maka hanya ada satu kata: lawan!.

Pada layar itu, tidak ada api yang berkobar-kobar. Yang kita saksikan seorang Wiji Thukul yang sendiri, yang menghilang dalam kegelapan dan menyapa remang-remang sebagai bagian dari hidupnya. Saat itu, kita mengenal Wiji Thukul dalam persembunyiannya di Pontianak setelah peristiwa berdarah 27 Juli 1996 , para pemimpin dan aktivis PRD dianggap bertanggung jawab atas bentrokan yang terjadi di kantor DPP PDI. PRD  dan organ-organnya seperti SMID dan Jaker diburu dan ditangkap oleh aparat keamanan.

Film ini dimulai dengan ketegangan seorang lelaki berjaket yang sembari merokok mengulang-ulang pertanyaan yang sama pada seorang anak perempuan kecil  yang dempet di kaki ibunya. Si lelaki tengil itu jelas intel Orde Baru; si kecil adalah Fitri  Nganti Wani, putera sulung Wiji Thukul dan perempuan yang sabar itu adalah Sipon, isteri Wiji. 


Selanjutnya, kita tak akan menemukan keriuhan Jakarta atau kepal tangan aktivis dengan mata yang menyala. Wiji Thukul di Pontianak yang menyamar , kesehariannya yang sunyi , berkawan dengan kata-kata yang mengendap untuk kemudian muncul tertatih-tatih di atas kertas. Pinsil yang sudah tumpul tapi hati dan jiwa yang tetap membara itu menuliskan bait-bait puisi yang kelak kita kenal sebagai karyanya semasa di dalam persembunyian.

Dari tubuh yang ringkih, mata kanan yang cidera, rambut  awut-awutan ditutup topi yang lusuh dan lidah yang cadel tak kunjung bisa mengucapkan huruf “r” itu mengalir kalimat-kalimat yang terlihat sederhana, ritmik dan meledak. Saat pinsilnya berhenti bergerak, Wiji yang menyamar dengan beberapa nama (kadang Paulus atau Aloysius Sumedi ) mengendarai sepeda di jalan-jalan sunyi , tentu dengan kehati-hatian yang terukur. Dia tak akan melalui rute yang sama.

Kamera Bayu Prihantoro Filemon menyorot beberapa lokasi di mana tentara tengah mengadakan lomba bulutangkis dan poco-poco.  Wiji Thukul melalui gedung itu sambil membimbing sepedanya perlahan.  Adegan yang sunyi tapi justru melahirkan ketegangan. 

Tak banyak peristiwa dramatik selama persembunyian Wiji di Pontianak kecuali sesekali kita menyaksikan persahabatannya dengan kawannya Martin Siregar yang banyak membantunya selama di Pontiana meminjamkannya sepeda untuk berkeliling kampung. 

Sesekali kamera menyeberang ke pulau Jawa, tepatnya ke Solo, di mana Sipon ,sang isteri sendirian menghadapi cibiran dan fitnah tetangga.  Bahkan ketika Wiji Thukul akhirnya diam-diam menemui Sipon di sebuah motel di Solo, fitnah masih saja berurai dari mulut jahat di sekitarnya. 

Mungkin itulah satu-satunya adegan yang menyajikan tingkat emosi yang tinggi, yang dramatis sekaligus pedih karena untuk kali pertama Sipon yang diam itu bisa menunjukkan kemarahannya. Selebihnya, film ini bergerak seperti puisi: lembut, sunyi dan lirih.

Lantas kita menyadari. Puisi-puisi Wiji Thukul memang tidak hadir secara verbal dan tak selalu harus dikutip seperti sebuah pembacaan deklamasi belaka. Seperti judul film ini yang diambil dari salah satu puisi Thukul, maka film ini juga seperti menyarankan pada mereka yang bergejolak untuk mengistirahatkan kata-kata dan “kita bangkit nanti”. 

Sutradara Yosep Anggi Noen memang tidak memilih untuk  menciptakan biopic yang akan menyorot seorang tokoh sejak lahir hingga wafat. Kepada Tempo, Yosep menyampaikan bahwa fase Pontianak adalah fase yang krusial bagi Wiji Thukul. “Secara psikologis, Wiji dicap sebagai tersangka setelah peristiwa 27 Juli.”

Selama kehidupan yang merunduk itu, kita merasakan bagaimana Wiji Thukul yang seolah sedang ‘menidurkan’  kata-kata untuk kemudian “kita bangkit nanti/menghimpun tuntutan-tuntutan/yang miskin papa dan dihancurkan.” 

Ada saat Thukul kembali menjadi lelaki biasa yang merindukan isteri dan anaknya. Di Solo, mereka bertemu. Sipon yang dibalut handuk –memberi sugesti keintiman—antara pasrah dan pedih. Tidak banyak bicara, selain bercerita seadanya tentang intel yang mengelilingi rumah kediaman mereka, Sipon menyadari kehidupan mereka sungguh terancam. Dan tak cukup dia tak mengetahui keadaan suaminya, pada saat dia keluar dari motel, fitnah busuk betebaran dari mulut lelaki lain.

Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto dan Sipon oleh Marissa Anita seharusnya layak mendapatkan nominasi Pemeran Utama dalan Festival Film Indonesia tahun ini. Gunawan berhasil menjadi Wiji Thukul secara fisik dan jiwa. Marissa, meski ada yang menganggap berwajah terlalu Jakarta, menurut saya tampil baik sekali. Bahwa film ini hanya meraih dua nominasi FFI tahun-Sutradara dan Skenario asli -- ini adalah sebuah tanda tanya besar yang menyedihkan. 

Pilihan Yosep Anggi Noen untuk meringkas seluruh pengalaman Wiji Thukul dalam pengejaran menjadi “karya fiksi tafsiran saya terhadap seorang Wiji Thukul” –memang efektif sekaligus berhasil menjadi gambar-gambar estetis. Anggi mengaku tentu saja ada beberapa hal fiktif yang kira-kira membuat ceritanya bisa bertutur, misalnya tokoh lelaki sialan yang memfitnah Sipon tentang kebiasaanya ke motel (padahal tentu saja kita tahu Sipon menemui suaminya sendiri di motel). Atau bahwa dalam cerita sesungguhnya Sipon sebetulnya menemui Wiji Thukul di Parangtritis, namun sutradara memutuskan pertemuan mereka diadakan di Solo karena Anggi harus merangkum pelarian yang panjang menjadi dua jam yang efektif. Wiji Thukul juga digambarkan meneap di sebuah rumah di belakang bekas bioskop di Pontianak karena menurut Anggi, “saya ingin merangkum sejarah Wiji saat SMP menjadi calo”.

Tentu ‘pengingkaran akurasi fakta ini sudah disadari Anggi. Dalam film cerita layar lebar, keputusan tafsir memang ada pada tangan sutradara sebagai kreator.       

Setelah pecah tangis Sipon di hadapan suaminya yang kikuk karena tak tahu bagaimana menghibur isterinya-- satu-satunya adegan airmata dalam film yang sangat sunyi dan minim kata ini,--terdengar suara sapu lidi yang membersihkan kotoran halaman. Sipon tegas, mengusir airmatanya dan mencoba mengisi hari seperti biasa. Di antara bunyi sapu lidi itu, perlahan kita merasakan bait-bait Wiji Thukul”                                                                                          i

Istirahatlah kata-kata

jangan menyembur-nyembur

orang-orang bisu

Leila S.Chudori


ISTIRAHATLAH KATA-KATA
Sutradara : Yosep Anggi Noen
Skenario : Yosep Anggi Noen
Pemain : Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Boang ManaluProduksi: Limaenam Film

 

 

 

 

 

 


Grafis

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Ini jalur alternatif menghadapi rencana Dinas Perhubungan DKI Jakarta memperluas larangan sepeda motor di jalan Sudirman, Imam Bonjol, dan Rasuna Said.