Kamis, 24 Agustus 2017

Scamander, Binatang Gaib dan Sebuah Koper Tua

Selasa, 29 November 2016 | 14:26 WIB
Film Fantastic Beast (2016)

Film Fantastic Beast (2016).

TEMPO.CO, JakartaFilm prekuel dari seri Harry Potter tentang jagat keajaiban di Amerika. Bukan saja obat rindu tetapi juga relevan dengan politik ekstrim kanan yang tengah melanda dunia.


****

FANTASTIC BEAST AND WHERE TO FIND THEM
Sutradara       :  David Yates
Skenario        : J.K Rowling
Pemain          : Eddie Redmayne,  Katherine Waterston, Dan Fogler, Alsion Sudol, Colin Farrell, Samantha Morton, Ezra Miller,

****

New York tahun 1926.


Seorang lelaki Inggris tinggi, kurus, ringkih dengan jas berwarna biru, rompi cokelat bahan suede  membawa sebuah koper tua yang berisi sebuah dunia keajaiban yang tak terbayangkan. Seorang Amerika tambun berkumis yang tergesa-gesa menuju sebuah bank, untuk mendapatkan pinjaman modal membangun toko roti , juga membawa koper  kulit serupa. Mereka berpapasan dan bertabrakan. Koper tertukar. Dan yang terjadi adalah kekacauan sekaligus petualangan panjang: binatang-binatang gaib  dengan bentuk ganjil menyelip keluar dari koper cokelat itu dan ingin mencicipi kehidupan New York yang gilang gemilang.

Hanya J.K Rowling yang bisa memulai sebuah cerita (novel maupun film) dengan cerdas dan membuat pembaca /penontonnya tak ingin berhenti mencari tahu kelanjutan  kisah itu. Bagi para Potterhead, meski hanya sekilas, mereka mengenal nama Newt Scamander, si pemuda Inggris ringkih yang disebut-sebut dalam serial Harry Potter. Scamander adalah seorang magizoologis, ahli hewan gaib, yang karyanya berjudul Fantastic Beasts and Where to Find Them menjadi salah satu buku bacaan wajib para penyihir di sekolah Hogwarts.

Setting film ini adalah 70 tahun sebelum dunia Harry Potter dimulai. Scamander masih mengumpulkan dan merawat sekumpulan binatang gaib itu, dari si kecil Niffler, binatang serupa platypus yang gemar mencuri benda-benda berkilau; hingga Erumpent yang berbentuk seperti badak raksasa dan dalam tubuhnya memancarkan cahaya. Koper itu, seperti juga platform 9 ¾  atau boks telepon umum dalam jagat Harry Potter, seperti sebuah ‘gerbang’ yang memberikan sebuah dunia tak terbatas yang berisi jagat sihir. Di dalam koper itu, kita akan menyaksikan para binatang-binatang gaib yang dirawat dengan penuh kasih oleh Scamander.

Di dalam pencaharian binatang-binatang gaib yang terpencar ke sana kemari, kita berkenalan dengan Jacob Kowalski (Dan Volgler), no-maj alias manusia tanpa kemahiran sihir ( sama seperti kaum muggle di  dalam dunia Harry Potter) yang secara tak sengaja menyaksikan segala keajaiban yang terjadi. Tergopoh-gopoh bersama Newt, dan dua penyihir perempuan kakak adik Tina Goldstein (Katherine Waterston) dan Queenie (Alsion Sudol) keempatnya berkeliling kota mencari binatang yang hilang. Petualangan itu kemudian berubah menjadi perlawanan terhadap kumpulan fanatik masyarakat New York yang anti-sihir . Di antara kejar mengejar itu, keempatnya juga harus bermain petak umpet –dengan keagungan ilmu sihir mereka—dari mata MACUSA  (Magical Congress of the United States of America) yang kepala keamanannya dijabat oleh Percival Graves (Colin Farrell).

Tak seperti kedelapan film Harry Potter yang diangkat dari tujuh novelnya, kali ini J.K Rowling turun tangan menulis skenarionya. Jadi baru kali ini para Potterghead menyaksikan sebuah karya Rowling tanpa mengetahui detail plot dan cerita, apalagi kelokan dan kejutan pada akhir cerita. Rowling dan juga sutradara David Yates (yang sudah menyutradarai beberapa film terakhir Harry Potter) tentu saja melempar beberapa referensi yang sudah kita kenal. Bukan hanya mantra “Alohomora” dan serangkaian mantra yang kita kenal di Hogwarts, tetapi juga nama Albus Dumbledore dan si penyihir  yang sudah memilih ke jalan gelap Gellert Grindelwald disebut-sebut. Akhir dari film yang mengejutkan jelas memberikan karpet merah untuk empat episode berikutnya.

Kita masih harus menjelajahi apa yang terjadi dengan Albus Dumbledore dan penyihir ilmu hitam Grindelwald. Apalagi, J.K Rowling pernah mengutarakan di depan umum bahwa di dalam bayangannya Dumbledore adalah lelaki yang jatuh hati pada Grindelwald sebelum akhirnya mereka menjadi musuh besar akibat kematian Ariana Dumbledore, adik bungsu Albus.

Yang menarik sebetulnya adalah betapa konsistennya J.K Rowling dalam memasukkan tema anti fasisme dan anti-rasialisme dalam karya-karyanya. Jika di dalam seri Harry Potter para penyihir ilmu hitam selalu menghina manusia biasa  tanpa kemampuan sihir sebagai  kaum “mudblood” ; maka sebaliknya di tanah Amerika, Rowling memperlihatkan bagaimana masyarakat New York yang fanatik anti penyihir begitu militan hingga Presiden MACUSA Seraphina Picquery (Carmen Ejogo) melarang para penyihir untuk memamerkan kemampuan sihir mereka. Menurut sang Presiden, jika para no-maj mengungkap dunia sihir, maka akan terjadi perang besar. Meski ketika film ini tengah digarap,  Donald Trump dan politik AS belum heboh, namun Rowling dengan terbuka sudah menyatakan bahwa Trump jauh lebih buruk daripada tokoh Voldermort dan Rowling akan selalu menantang sektarian dan rasisme. Sentimen ini terasa menjadi ruh dari film ini: pertentangan dua kaum (sihir dan non sihir); tapi juga pertentangan manusia dan binatang gaib.

Dengan memasukkan beberapa referensi penting di dalam film pertama seri “Fantastic Beasts and Where to Find Them” ini, mungkin akan ada beberapa momen yang agak membingungkan mereka yang sama sekali awam dari jagat Harry Potter, terutama relevansi tokoh jahat  Grindelwald. Hal lain yang menjadi problem, film ini penuh sesak dengan subplot yang bercabang kian kemari.  Di dalam novel-novel Harry Potter, ketika Rowling menjahit beberapa subplot, maka sutradara dan penulis skenario langsung memangkasnya agar plot bisa fokus kepada cerita utama: Harry Potter.

Tapi karena Rowling kini sudah memulai debutny sebagai seorang penulis skenario, maka beberapa subplot itu berdesakan kian kemari dan cukup mengganggu

Selebihnya: Newt Scamander yang begitu mencintai para binatang gaib –mengingatkan kita pada tokoh Hagrid dengan piaraannya—menyajikan sebuah visual yang begitu fantastis hingga rasanya kita tak ingin keluar dari koper cokelat miliknya.

Leila S.Chudori


Grafis

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Ini jalur alternatif menghadapi rencana Dinas Perhubungan DKI Jakarta memperluas larangan sepeda motor di jalan Sudirman, Imam Bonjol, dan Rasuna Said.