Tentang Pertempuran Orang-orang Biasa  

Sabtu, 31 Desember 2016 | 11:04 WIB

Tentang Pertempuran Orang-orang Biasa  
Film Star Wars Rogue One (2016)

TEMPO.CO, Jakarta-  Kali ini Disney menelurkan satu episode tunggal yang berdiri sendiri dari rangkaian film Star Wars. Beberapa tokoh terkemuka tampil sekelebat.



*** 



ROGUE ONE
Sutradara : Gareth Edwards
Skenario : Chris Weitz dan Tony Gilroy
Berdasarkan cerita John Knoll dan Gary Whitta
Dan berdasarkan tokoh-tokoh ciptaan George Lucas
Pemain : Felicity Jones, Diego Luna, Ben Mendehlson, Donnie Yen, Mads Mikkelsen, Jiang Wen, Forest Whitaker
Produksi : Lucasfilm Ltd dan Walt Disney Studips

***

Di jagat  Star Wars yang selalu memulai dongengnya dengan teks “long long ago in a galaxy far far away” itu, tersebutlah orang yang ‘awam’, tokoh-tokoh biasa, yang hidup di masa yang sama dengan Luke, Leia, Han dan si Pangeran Hitam Darth Vader.

Mereka adalah keluarga Galen Erso (Mad Mikkelsen) , sang isteri (Valene Kane) dan puteri kecil Jyn Erso. Yang membuat keluarga ini tak biasa adalah karena mereka hidup dalam  pengejaran Kekaisaran Galaktik. Galen adalah seorang ilmuwan jenius. Adalah Orson Krennic, Direktur Persenjataan Canggih  dari Kekaisaran yang akhirnya berhasil  menangkap Galen untuk memaksanya membangun senjata Death Star, sebuah senjata gigantik yang mampu menghancurkan satu planet. Pada saat  penangkapannya, Galen dan isterinya sudah membuat skenario di mana Jyn kecil harus bersembunyi dan kelak dia akan diselamatkan pemberontak veteran sekaligus sahabat Erso: Saw Gerrera (Forest Whitaker).

Setelah dewasa, Jyn Erso (diperankan oleh Felicity Jones) lebih dikenal sebagai perempuan yang penuh kemarahan , dendam dan tak kenal takut bahkan pada lelaki bersenjata. Aliansi Pemberontak yang berhasil mendeteksi posisi Jyn Erso, ‘menculik’nya dan mengajaknya bekerja sama dengan Cassian Andor (Diego Luna) untuk mencari sang ayah. Tujuan awal: membunuh Galen Erso agar senjata Death Star  tak bisa diledakkan pihak Kekaisaran. Tapi yang terjadi akhirnya Jyn  dan  Cassion malah bersekutu. Dibantu  pilot Bhodhi Rook (Riz Ahmed) ; Chirrut îmwe (Donnie Yen), ksatria buta yang mampu menghajar lusinan stormtrooper sekali sikat dengan satu tangan; Baze Malbus (Jiang Wen) pembunuh bayaran yang tambun dan juga di android K-2SO  (Alan Tudyk).

Dengan setting dan waktu tepat sebelum Star Wars ke IV yang menggebrak jagat perfilman, film ini adalah satu episode yang disebut “stand alone piece”, sebuah bagian yang terpisah dari kisah keluarga besar Star Wars yang lazim membicarakan para Jedi, keluarga Skywalkers dan kekelaman “nasib” si keji Darth Vader. Mereka semua ada di satu jagat raya dan berbagai nama disebut di sana-sini (bahkan akan ada penampilan beberapa tokoh ciptaan Geoge Lucas yang pasti akan membuat para penggemar fanatik kelojotan begitu melihat sosok mereka). Tapi sekali lagi, para tokoh dalam Star Wars adalah tokoh sakti mandraguna, sedangkan ini adalah kisah rakyat jelata yang mencoba memberontak dengan cara dan hati yang menggelegak.



Meski penampilan Felicity Jones bagus, sutradara Gareth Edwards seperti tak bisa menghilangkan pengaruh gaya tokoh Katniss Everdeen dalam seri film Hunger Games. Tingkah Jyn Erso yang cemberut sepanjang film penuh kemarahan, dendam dan perasaan yang ruwet menghadapi ketakjelasan nasib Ayahnya, sukar dibedakan dengan gaya Katniss yang siap menghajar Presiden Snow. Penampilan Donnie Yen justru mencuri perhatian bukan saja karena adegan perkelahian martial art di tengah jagat Star Wars itu  menyegarkan, tetapi karena ada semacam kejenakaan bercampur keseriusan Zatoichi dan “The Force” yang diucapkan berkali-kali. Perkawinan dua dunia —silat dan elemen penting Star Wars—menjadi asyik.

Bahwa ada beberapa bagian yang terasa kurang dikembangkan: Saw Gerera, para penjahat di kelompok Imperial dan juga peran Galen Erso yang selalu dalam dilema,  adalah risiko yang diambil sutradara karena dia ingin fokus kepada perjalanan Jyn dan Andor  dan pasukan pemberontak yang menghadang penghancuran senjata Death Star.

Tetapi peperangan itu, perjuangan pasukan itu, satu persatu kawan-kawan Jyn dan Andor yang mulai melekat di hati menjadi penting sekaligus drama terbesar dari seluruh film. Seperti cerita-cerita yang melibatkan perang besar dari  kisah klasik Mahabharata hingga film berlatar Perang Dunia ke II, pasti ada tokoh-tokoh yang terlanjur kita sukai yang harus kita relakan untuk pergi.

Hiburannya tentu saja, meski sekelebat, munculnya tokoh-tokoh besar Star Wars itu. Yang menjadi alasan mengapa kita mencintai George Lucas dan  jagat yang diciptakannya.

Leila S.Chudori

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru