Jumat, 22 September 2017

Kolaborasi Dua Raksasa yang Sia-sia

Rabu, 11 Januari 2017 | 17:36 WIB

.

TEMPO.CO, Jakarta - Maestro Zhang Yimou seperti pelanduk di antara dua raksasa: hasilnya sebuah film dengan pretense sejarah tembok raksasa Cina bercitarasa Hollywood.

***
THE GREAT WALL
Sutradara    : Zhang Yimou
Skenario    : Tony Gilroy, Carlo Bernard, Doug Miro, Max Brooks, Edward Zwick dan Marshall Herskovitz
Pemain        : Matt Damon, Andy Lau, Willem Dafoe, Pedro Pascal, Jiang Tian

***
Zhang  Yimou, Hollywood dan mitos tembok raksasa.

Mengapa tidak? Itu yang muncul dari kepala Thomas Tull, bos Legendary Entertainment, perusahaan film kerjasama Hollywood dan Beijing. Maka hasilnya adalah mengirim Matt Damon sebagai pahlawan yang menyelamatkan sebuah kerajaan fiktif di masa lalu. Tembok Raksasa  Cina yang sudah dibangun sejak berabad-abad silam itu memang melahirkan puluhan cerita legenda. Dan inilah salah satu legenda versi para pemilik mesin hitung uang Hollywood itu:

Syahdan, setiap 60 tahun, Kekaisaran akan selalu diserbu oleh ribuan monster pimpinan Sang Ratu. Monster itu disebut  Taotie, spesies berbentuk seperti dinosaurus pemakan manusia. Mereka bukan cuma berlari-lari dan menganga seperti dalam film-film lain yang berfantasi  tentang dinosaurus, tetapi Taotie luar biasa agresif berjumlah jutaan; memiliki kemampuan strategis  untuk menyerang. Lihat saja, mereka tahu bagaimana dan kapan menyerbu tembok raksasa kerajaan; mereka tahu bagaimana melindungi  dan melayani sang Ratu yang tak kunjung kenyang mengganyang manusia. Tentu saja  Sang Kaisar yang masih kecil, yang mungkin diinspirasikan oleh  tokoh nyata Kaisar Pu Yi, memiliki pimpinan militer dan ahli stategi peperangan seperti Wang (Andy Lau) dan  Komandan  Lin Mae (Jiang Tian) yang luar biasa cekatan dan prima, namun tetap saja serangan monster itu mengancam kepunahan seluruh kekaisaran dan rakyatnya.


Muncul William Garin (Matt Damon) dan kawan-kawannya, antara lain Pero Tovar (Pedro Pascal).  Mereka prajurit bayaran yang datang ke Timur untuk mencari “bubuk hitam” ajaib yang kelak kita kenal sebagai bahan peledak. Meski diawali dengan saling curiga antara kelompok asing dan tentara kekaisaran, toh akhirnya ketika terjadi serangan ribuan monster , Garin dan Tovar ikut membantu mereka menghalau binatang keji itu. Bayangkan saja serangan Taotie itu seperti jutaan rayap yang menggerogoti rak kayu Anda, tetapi ini dalam ukuran gigantik dan yang digerogoti adalah tubuh Anda. Jijik dan mengerikan.

Dari sisi cerita tentu saja kita tak bisa mengharapkan apa-apa. Ini ide cerita Hollywood: manusia versus monster, yang kemudian dicangkokkan ke masa kekaisaran Cina. Apakah mereka memang butuh seorang maestro seperti Zhang Yimou untuk film seperti ini? Tidak. Jika mereka ingin sekedar blockbuster dengan latar belakang kisah legenda Tembok Raksasa, tak perlu  menyeret-nyeret sineas sekelas Zhang Yimou, karena toh plot cerita sama saja seperti kisah monster versus manusia buatan Hollywood. Bedanya ini ditambah “rasa Timur”  dan komandan perempuan cantik serta  keahlian pasukan perempuan yang mampu bertempur sambil melayang-layang; meski toh jagoannya tetap si pemanah kulit putih, William Garin.

Plot cerita tidak ruwet. Sinematografi penuh citarasa Zhang Yimou yang selalu mementingkan warna , gerak dan format yang cantik bahkan dalam bentuk kolosal seperti film Curse of the Golden Flower (2006). Bahkan sebelum adegan perang yang keji dan menjijikkan itu-- jutaan binatang buatan CGI  mempersembahkan manusia untuk dilahap oleh sang Ratu—Zhang Yimou masih memerlukan genderang perang yang ditabuh dan ratusan bendera yang dilambaikan.

Persoalan berikut yang diramaikan adalah: apakah film ini sebuah upaya whitewashing, ini sebuah istilah dalam industri film di mana film yang seharusnya menampilkan tokoh kulit berwarna diperankan oleh aktor kulit putih (seperti film The King and I, raja Thailand Mongkut diperankan Yul Bryner; atau film Lawrence of Arabia , Pangeran Faisal diperankan oleh aktor kulit putih Alec Guiness). Dalam hal ini, tokoh William Garin sejak awal digambarkan sebagai orang asing yang meluncur masuk ke Cina, karena cerita ini adalah produk dari perkawinan industri film Hollywood dan Tiongkok. Ini sama seperti film The Last Samurai (Edward Zwick, 2003) ketika tokoh Tom Cruise masuk ke sebuah kampung di Jepang menjadi pahlawan sekaligus mengalami pencerahan. Jadi tak ada whitewashing dalam film ini, yang ada hanyalah cerita klise dari produksi raksasa. Dan kesia-siaan menggunakan Zhang Yimou dan Andy Lau dalam film ini.

Leila S.Chudori


Video Trailer Film Great Wall


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.