Marissa Anita: Tak Ingin Sekadar Meniru

Rabu, 18 Januari 2017 | 10:14 WIB

Marissa Anita: Tak Ingin Sekadar Meniru
Marissa Anita berperan sebagai istri aktvis Wiji Thukul dalam film Istirahatlah Kata-kata. (Foto: Andrew Trigg)

TEMPO.CO, Jakarta - “Aku tidak pernah menangis saat kamu pergi.Aku menangis justru saat kamu kembali…”
   
Ini satu-satunya adegan tangisan yang menggelegak setelah hampir dua jam yang sunyi dan minim dialog dalam film Istirahatlah Kata-kata. Sipon yang diperankan oleh Marissa Anita tampil sebagai seorang isteri aktvis Wiji Thukul yang memahami aktivitas suaminya yang bergerak di bawah tanah, terutama setelah dia dinyatakan buron setelah 27 Juli 1996. Tetapi tentu saja akhirnya pertahanan kesabaran Sipon bobol juga karena berbagai fitnah dan serangan bertubi-tubi.  Menghadapi tangis Sipon,  sang suami (diperankan oleh Gunawan Maryanto)  kikuk karena tak tahu bagaimana menghibur isterinya.

Pasangan ini tampil bersinar sehingga keduanya, sekaligus sutradara dan film Istirahatlah kata-kata adalah pilihan Tempo tahun ini. Akan hal Marissa Anita, pemain film yang masih terhitung baru sebetulnya bukan seorang pemain yang bisa dibayangkan memainkan sosok Sipon. Selain tubuh dan wajahnya jelas sangat “urban” , demikianlah komentar para orang film, Marissa sebelumnya lebih dikenal sebagai pembawa berita di Metro TV dan kemudian Net TV.  Belakangan Marissa pernah tampil dalam film Selamat Pagi, Malam (Lucky Kuswandi, 2014) dan serial HBO Asia “Halfworld” (Joko Anwar, 2015).

Secara mengejutkan,  pada layar itu kita tak lagi menyaksikan Marissa Anita perempuan urban lulusan Australia dan Inggris itu. Kita melihat Sipon yang menyimpan derita ke dalam tubuhnya, sendirian menghadapi fitnah dan cibiran orang yang mengembangkan imajinasi sendiri tentang hidupnya.   

“Marissa berhasil menghidupkan karakter Sipon dengan konsisten, sekalipun karakternya sangat kompleks,” kata Joko Anwar sebagai salah satu juri.  Menurut Joko, definisi aktris atau aktor yang bagus adalah mereka yang bisa menjadi karakter yang mereka perankan, sehingga tidak lagi terlihat seperti tengah memerankan seseorang. Artinya, setiap saat pilihan aksi reaksi mereka dalam setiap adegan harus konsisten.  Dalam film ini, Marisa Anita berhasil memenuhi itu semua. Tak terlalu lama para juri Tempo untuk memutuskan Marissa Anita sebagai Aktris Pilihan Tempo tahun ini.
   
Lahir di Surabaya 33 tahun lalu, Marissa sebetulnya tak terlalu asing dengan dunia seni peran, karena sebelumnya sudah berteater bersama Jakarta Players. Namun untuk memerankan tokoh nyata seperti Sipon dalam film layar lebar memang sesuatu yang besar dan baru baginya. Menurut Marissa, sutradara Yosep Anggi Noen dan produser Yulia Evina Bhara  sengaja tidak mempertemukan Marissa dengan Sipon karena “mereka tidak ingin saya mengimitasi atau meniru Sipon,” kata Marissa kepada Tempo. Sutradara Anggi Noen mengarahkan Marissa agar “saya merepresentasikan apa yang mungkin dirasakan Sipon di masa pelarian Widji.”
   
Maka dengan modal membaca edisi khusus Widji Thukul Majalah Tempo dan menyaksikan film dokumenter tentang Thukul yang dibuat Metro TV, Marissa mengaku mempelajari konteks kehidupan Widji dan Sipon. “Saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang istri aktivis yang bisa dikatakan terus menerus hidup dalam pengawasan kekuatan yang enggan memberikan demokrasi kepada Indonesia,” ungkap Marissa.
   
Marissa tetap mengaku bahwa satu tantangan terberat memerankan Sipon adalah aksen bahasa Jawa   “Aksen Jawa Sipon berbeda dengan aksen Jawa saya. Sipon beraksen Jawa Tengah, dan saya berdarah Jawa Timur, Padang dan Cina,” kata Marissa. Meski sudah dilatih, Marissa merasa terkadang ada aksen Jawa Timur yang menyelip. Tapi dia akhirnya memutuskan untuk mementingkan emosi yang otentik daripada memikirkan aksen yang kurang sempurna.
   
Hasilnya bisa disaksikan bagaimana Sipon yang diperankan Marissa menghadapi salah satu tokoh lelaki sialan yang memfitnah Sipon; atau ketika dalam diamnya Sipon memperlihatkan kekawatiran dan kesedihan yang harus dia tekan sebisa-bisanya demi keselamatan suaminya.
   
Mengagumi Christine Hakim, Merryl Streep dan Emma Thompson, Marissa punya cita-cita ingin disutradarai Teddy Soeriaatmadja. “Belum kesampaian, namun sangat ingin…”

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru