Singa Itu Mencari Sang Ibu

Selasa, 07 Februari 2017 | 14:56 WIB

Singa Itu Mencari Sang Ibu
Film Lion yang dibintangi oleh Dev Patel dan Nicole Kidman.

TEMPO.CO, Jakarta - Film Lion ini merupakan kisah nyata seorang anak India yang hilang dan diadopsi oleh pasangan Australia. Meraih enam nominasi Academy Awards tahun ini.

***
LION
Sutradara    : Garth Davies
Skenario    : Luke Davis
Berdasarkan buku karya Saroo Brierley
Pemain    : Dev Patel, Nicole Kidman, Sunny Pawar, Abhishek Bharate, Rooney Mara
                               
***
Saroo adalah seekor singa.

Dia adalah seekor singa kecil yang liat, gesit dan kuat yang ternyata berhasil bertahan melalui begitu banyak penderitaan pada usia yang begitu belia.

Di tahun 1986, saat Saroo masih berusia lima tahun, Saroo–putera ke empat dari seorang ibu tunggal—memaksa Guddu ( Abhishek Bharate) , si abang sulung untuk ikut-ikutan membantu bekerja serabutan untuk menambah keuangan Ibunya. Sang Ibu sehari-hari bekerja sebagai tukang batu. Sang Bapak meninggalkan keluarganya untuk kawin dengan perempuan lain. Dan situasi kemiskinan yang luar biasa inilah yang membuka film berjudul Lion, yang diangkat dari buku  A Long way Home  karya Saroo Brierley yang dia tulis atas dasar pengalaman hidupnya.

Si kecil Saroo (Sunny Pawar), yang terpisah dari si abang Guddu, di sebuah stasiun kereta api lantas terbawa oleh kereta api ke Kolkata, 1600 kil ometer dari kampung halamannya di Madhya Pradesh. Bukan saja dia terlunta di kota yang tak dikenalnya dan merasa terasing karena di Kolkata mereka menggunakan bahasa Bengal, sedangkan dia berbahasa Hindi, tetapi Saroo harus selalu berkelit dari marabahaya di kota sebesar Kolkata. Menggelandang hidup dari remah-remah makanan sampah dan terus menerus dikejar berbagai macam orang jahat –entah mereka ingin menjual atau memperkosanya—Saroo selalu saja berhasil menggeliat karena dia mampu berlari  cepat. Saro akhirnya terdampar di sebuah rumah yatim piatu yang meski akan menjamin persediaan makanan dan kasur tidur, tetapi itu juga tetap tak  langsung membuatnya aman, karena tak semua penjaga akan memenuhi aturan. Tapi Saroo memang beruntung. Ada sesuatu dalam dirinya ,entah wajahnya yang lucu dan manis atau moralitasnya yang selalu menghalangi untuk mengambil barang yang bukan miliknya.  Setelah sekian lama upaya mencari ibu dan kakaknya sia-sia,  akhirnya Saroo harus merelakan diri diangkat sepasang orangtua Australia, Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley  (David Wenham) dan akhirnya dia menetap di Hobart, Australia.

Film lantas meloncat ke Saroo dewasa yang diperankan oleh aktor terkemuka Dev Patel. Dia tumbuh menjadi Saroo dewasa beraksen Australia yang menempuh pendidikan manajemen perhotelan di Melbourne dan memadu kasih dengan gadis Amerika Lucy (Rooney Mara). Dia juga masih belum melupakan ibu kandungnya dan kakak adiknya. Titik ledakan yang menyebabkan ia memutsukan untuk mencari keluarganya adalah sesuatu yang sederhana dan penuh kenangan: jelabi, sebuah kudapan manis India. Pada tahun 2005, Saroo mulai mencari kampung keluarganya dengan menggunakan Google Earth.

Film yang memperoleh enam nominasi Academy Awards tahun ini, termasuk Film, Skenario dan Aktris Terbaik, digarap oleh Garth Davies,  seorang sutradara baru yang sangat menghargai buku karya Saroo, sehingga sang penulis merasa “hampir 90 persen yang diceritakan tak menyimpang dari yang saya tulis,” katanya kepada Tempo pekan lalu. Persoalan kemiskinan, kekerasan struktural yang kemudian menimpa jutaan anak di India (dan negara berkembang lainnya) tentu bukan sebuah tema baru. Sutradara Mira Nair sudah pernah mengguncang penonton dengan film Salaam Bombay (1988) yang juga berkisah tentang anak miskin yang hilang dan terpisah dari keluarganya. Yang membedakannya tentu saja karena film Lion adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada Saroo Brierley.  Bukan sekedar kisahnya yang mengharu biru, tetapi lebih lagi karena si kecil Sunny Pawar yang memerankan Saroo yang bandel, lucu, dan kuat bak seekor anak singa itu berhasil menjadi bintang yang mencuri perhatian seluruh film.

Keistimewaan lain adalah pilihan sutradara untuk menggunakan pendekatan realis film yang kemudian berbaur dengan elemen surealis: Saroo dewasa  melihat Guddu, kakaknya  di mana-mana. Di setiap pojok, di atas bukit, di rel kereta api, memanggil-manggilnya dan bahkan ‘berbincang’ dengannya. Bayangan sang kakak yang berkelebat dan kudapan jalebi yang manis di masa kecilnya adalah sesuatu yang senantiasa membuat Saroo tetap merasa harus memburu identitas dirinya ke India, meski dia tetap mengaku sebagai seorang warga Australia. Adegan-adegan ini, di maan Saroo sesekali memandang kakaknya yang muncul dan tersenyum padanya, atau mengajaknya menyusuri rel kereta api terkadang terasa nyata, meski penonton tahu betul itu adalah sebuah bayang-bayang kerinduan dan keinginan Saroo untuk menemui kakaknya.

Sebagai film debut, sutradara Garth Davies sungguh telah berhasil meletakkan dirinya pada peta sinema dunia. Dan Sunny Pawar, si Saroo kecil? “Oh dia sekarang sedang syuting dengan Demi Moore, film tentang trafficking. Dia sudah menjadi bintang terkenal,” demikian jawab Saroo Brierley tertawa.

Leila S.Chudori
                   

WAWANCARA SAROO BRIERLEY:
“Saya selalu Teringat Keluarga Saya di India”

Enam tahun yang lalu, Saroo Brierley memutuskan untuk berkutat dengan Google Earth untuk menyusuri kampung halaman keluarganya. Kesulitannya bukan saja karena India adalah sebuah negara besar dengan penduduk yang banyak, tapi juga Saroo tak terlalu ingat nama desanya. Dia hilang pada usia lima tahun, dan hanya paham bahwa nama Ibunya adalah “Ami” (yang berarti: Ibu) . Ayah Saroo sudah lama meninggalkan keluarganya karena menikah dengan perempuan lain dan “kami ditinggalkan dalam keadaan sangat miskin,” kata Saroo.Saat ia hilang, Saroo kecil tak tahu bagaimana mengeja kampungnya secara akurat. Tapi Saroo—yang seharusnya Sheruu yang berarti singa—bertahan. Setelah diangkat pasangan Australia dan menetap di Hobart dan selama enam tahun Saroo mencari dan berhasil menemukan kampung halamannya, ibunya dan adiknya di Khandwa. Mereka saling berkomunikasi dengan penerjemah karena Saroo sudah tak bisa berbahasa Hindi.  Kehebohannya reuni keluarga  setelah perpisahan 25 tahun, media  meliputnya habis-habisan. “Saya diminta menulis buku yang menceritakan pengalaman saya,” kata Saroo yang berkunjung ke kantor Tempo. Diterbitkan oleh Penguin Australia dengan judul “A Long Way Home, sukses bukunya di Australia lantas saja Penguin Amerika ikutan ingin menerbitkan di AS.  “ Pihak Pengun AS meminta saya bercerita lebih detail, jadi saya menambah  tambahan, misalnya  adegan di kereta api mereka ingin lebih detail,” kata Saroo tertawa. Dan sebuah buku jika sudah menyentuh Amerika, maka artinya  Tak lama kemudian, dia sudah diajak makan siang dengan Dev Patel, dengan Nicole Kidman dan dengan berbagai nama besar yang di masa lalu hanya dikenal melalui layar lebar atau Google.

Bukunya yang kemudian diangkat menjadi film yang mendapat enam nominasi Academy Awards telah membawa Saroo berkeliling dunia mempromosikan film ini. Dia sudah 14 kali mengunjungi ibu dan adik-adiknya, selama empat tahun terakhir.Yang paling membanggakannya adalah membelikan sebuah rumah untuk ibunya, “agar dia tak perlu khawatir membayar uang sewa rumah lagi,” katanya. Berikut adalah perbincangan Saroo dengan Moyang Kasih Dewimerdeka , Dian Yuliastuti dan Leila S.Chudori :

Bagaimana Anda bisa ingat semua yang terjadi pada Anda untuk ditulis menjadi buku? Apakah Anda mencatatnya pada sebuah buku harian?

Tidak. Semuanya benar-benar berdasarkan ingatan yang tertanam begitu dalam. Pintu ingatan itu tak pernah tertutup dan saya terus menerus mengunjungi masa lalu saya itu. Setiap kali saya tertidur, saya gelisah dan selalu bangun dengan perasaan lelah karena alam bawah sadar saya selalu teringat keluarga saya di India.  Karena semakin lama semakin mengganggu, saya merasa harus melakukan sesuatu, karena jika tidak akan menghancurkan saya.

Apakah selama enam tahun itu Anda melakukan pencarian dengan Google Earth itu sendirian?
Ya. Dalam film memang ada kawan yang mengusulkan saya mencari dengan Google Earth. Sesungguhnya, ide mencari keluarga saya itu dari saya dan saya lakukan sendirian.

Ceritakan bagaimana produser menghampir Anda setelah buku Anda sukses.
    Ada banyak produser yang ingin membeli hak untuk mengangkat buku ini menjadi film. Produser Lionsgate hingga Fox Search Light.Tentu kami harus memilih. Tak lama kemudian See-Saw Films yang memproduksi film The Kings Speech dan kami memutuskan bekerja sama dengan mereka.

Dalam film yang diangkat dari kisah nyata, biasanya sutradara melakukan lisensi kreatif, termasuk mendramatisir kenyataan. Adakah yang berbeda di daam film di banding kisah nyata yang Anda alami?
    Tokoh Lucy agak berbeda. Sebetulnya ada beberapa perempuan dan dijadikan satu tokoh.

Ada satu adegan saat si kecil Saroo yang berusia lima tahun didatangi dan dipeluk lelaki asing yang seperti akan ‘membeli’nya, lantas Saroo segera kabur. Apakah itu bagian dari kisah nyata Anda?
    Ya. Itu bagian yang menakutkan. Buat saya, sangat mengerikan karena saya harus memutuskan meninggalkan rumah yang lengkap dengan makanan dan minuman  itu, sementara ada suasana yang terasa ‘tidak beres’. Saya merasa harus lari karena lelaki dewasa ini membuat saya merasa ada yang tidak sreg, tidak aman. Saya lari sekencang-kencangnya.

Apa benar Anda di masa kanak-kanak berlari secepat yang tergambar di film?
    Saya memang  pelari cepat. Dari SMA hingga kuliah, tak ada yang mengalahkan saya dalam pertandingan sprint 100 meter. Untuk marathon, saya kurang bisa.

Seberapa jauh Anda terlibat dalam produksi?    
    Saya membaca skenario draf awal. Untuk keluarga saya dan saya, kami hanya ingin yakin bahwa mereka cukup setia pada kisah nyata . Kami sama-sama membaca, dan memberi catatan.

Di dalam film, saat kuliah, tokoh Saroo mengatakan dia orang Australia. Setelah menemukan kudapan India, barulah dia menjadi obsesif mencari kampung halamannya. Benarkah itu titik balik bagi Anda?
    Bukan hanya makanan. Ada beberapa hal yang merupakan kenangan dan banyak pertanyaan, tentang asal usul saya, tentang bagaimana saya bisa sampai di Australia. Itu semua selalu menjadi pertanyaan. Semakin lama-semakin mengganggu saya, dan seperti yang ditunjukkan film, ketika saya kuliah, saya bertemu kawan orang India , saya menikmati kudapan Jalebies yang manis.

Bagaimana rasanya ketika nominasi Oscar diumumkan?
    Saya sedang tidur dan terbangun karena pesan itu. Saya sangat gembira ketika saya membacanya dan tertidur lagi. Setelah 30 detik, saya terbangun lagi dan mengecek pesan itu karena syaa maish tidak percaya. Saya merasa kami semua dihargai dan terharu.

Apakah Anda ikut terlibat dalam casting?
Nicole Kidman dan Dev Patel sebetulnya yang tertarik untuk main dalam film ini. Setelah membaca buku, mereka mengatakan ingin menjadi bagian dari film ini, dan itu mereka nyatakan jauh sebelum skenario selesai.  Saya rasa selalu berbeda jika seseorang memang sangat menginginkan peran itu.

Bagaimana dengan Sunny Pawar yang memerankan si kecil Saroo?
Dia terpilih di antara 2000 anak-anak, dari Mumbay ke Kolkata. Kami tak terlibat dalam casting itu.

Apakah Nicole Kidman bertemu dengan Ibu Anda untuk mempelajari perannya?
Ya, mereka bertemu beberapa kali dan mereka sangat cocok. Nicole Kidman juga mempunyai dua anak angkat sehingga dia sangat paham dengan perannya.

Bagaimana dengan Dev Patel?
Kami bertemu dan dia sangat luar biasa. Dia memutuskan untuk konsentrasi dalam film ini selama delapan bulan, salah satunya mempelajari aksen Australia.

Apakah Anda akan menulis lagi?
Ya, saya sudah ada kontrak untuk menulis prequel A Long Way Home.(*)


Baca juga:
Dev Patel Dianggap Berhasil Perankan Saroo di Film Lion

Film Lion Masuk Nominasi Academy Awards

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru