Menyaksikan Belle Versi Emma Watson  

Selasa, 28 Maret 2017 | 19:53 WIB

Menyaksikan Belle Versi Emma Watson  
Cover Film Beauty and the Beast 2017. twitter.com

TEMPO.CO, Jakarta -  Film ini memecahkan rekor dunia box-office pada penayangan akhir pekan pertama. Mengapa orang menghebohkan film ini?

Beauty and The Beast



 



Sutradara: Bill Condon
Skenario:  Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos
Pemain: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Ewan McGregor, Josh Gad , Emma Thompson, Ewan McGregor, Kelvin Kline, Ian McKellen, Stanley Tucci, Gugu Mbatha-Raw



 



****



 



Ada dua hal yang menjadi kontroversi (konyol) tentang film terbaru arahan sutradara Bill Condon ini.

Pertama, saat diumumkan film animasi yang pertama berhasil dinominasikan sebagai Film Terbaik Academy awards 1991 ini akan diangkat menjadi film layar lebar dengan aktris Emma Watson sebagai Belle, sudah timbul cekcok soal cerita.  Film produk Disney yang berasal dari dongeng Prancis karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont itu dianggap “melegitimasi” penculikan seorang perempuan muda (cantik dan cerdas) yang kemudian jatuh cinta pada penculiknya, si Beast yang sebetulnya seorang pangeran yang dikutuk.  Dongeng ini  kemudian diidentifikasi oleh sebagian penonton sebagai  cerita yang mengandung “Stockholm Syndrome”.

Kontroversi kedua adalah ketika sutradara Bill Condon menyatakan bahwa tokoh LeFou dalam film ini adalah tokoh gay pertama dalam sejarah produksi Disney. Tokoh LeFou  adalah sahabat Gaston. Jika Gaston adalah veteran perang bertubuh bak raksasa yang terdiri dari otot belaka itu, maka LeFou digambarkan sahabat yang tak henti-henti mengaguminya dan “ingin menjadi dirimu” . Maka jauh hari sebelum film beredar, beberapa pemerintah negara seberang ‘gelisah’ bahkan sebelum film itu beredar. Malaysia minta ‘adegan gay’ itu dipotong, dan Disney menolak.

Ada juga satu teater di Alabama, AS  yang menarik pemutaran film ini  karena tak nyaman dengan adegan dua detik itu. Apa sih adegan yang juga diperbincangkan di media sosial di Indonesia itu? Jika kita berkedip pada adegan pesta dansa walts akhir, kita juga tak akan menyadarinya dan tak perlu pusing. Hanya adegan LeFou berdansa. Itu saja. Dua detik. Sutradara Condon memang agak berlebihan dengan pernyataannya.

Selain film Beauty and the Beast berhasil meraup 174,8 juta dolar di AS pada akhir pekan pertama dan 180 juta dolar di negara-negara lain—artinya film ini memecahkan rekor box-office baru—apakah memang ada sesuatu yang baru dibanding film animasi arahan Gary Trousdale dan Kirk Wise 26 tahun silam?
                                  Film Beauty and the Beast 2017. movieplanet.org

Pertama-tama, Emma Watson aktris yang namanya melejit dan setengah hidupnya diabdikan pada serial film Harry Potter sebagai tokoh Hermione Granger adalah sebuah faktor penting dalam produksi film ini. Dongeng yang sudah dikenal ini mengalami perubahan yan cukup signifikan dan penambahan beberapa konteks latar belakang.

Plot utama tetap sama, bahkan berbagai adegan juga tetap seperti sebuah “copy-paste” animasi.

Seorang gadis cantik di sebuah desa terpencil Velleneuve nun di  pojok Prancis  bernama Belle (Emma Watson) berjalan dengan gaun biru dan menyanyikan betapa hidup di kampung kecil yang indah berarti dia menemukan pagi yang sama, reaksi yang sama dari orang yang sama. Sebuah desa yang berisi orang-orang yang memandang dirinya dipandang sebagai “perempuan yang aneh” hanya karena dia lebih suka membaca buku daripada kenes-kenesan dengan Gaston (Luke Evans), si ganteng-kekar-maskulin-narsistik yang senang berkaca dan merasa diri paling tampan itu.

Lagu pertamanya “Belle” yang dahulu dinyanyikan Paige O’hara kini disenandungkan Watson dengan suara yang lebih segar dan lincah tanpa vibrato . Pada menit-menit awal itu pula kita juga langsung menyadari Belle bukan sekedar putri seorang ilmuwan, tetapi dia juga seorang ilmuwan dan inventor yang juga peduli akan kemampuan membaca anak perempuan di desanya. Bagian inilah yang merupakan tuntutan Emma Watson yang dikenal sebagai feminis.

Pertemuan Belle dengan istana yang menakutkan yang ternyata milik Beast (Dan Stevens), si pangeran yang terkutuk dengan sekumpulan pelayannya yang juga ikut sial karena berubah menjadi jam, tempat lilin, teko teh, piano dan lemari itu tak terlalu jauh dari versi animasi. Hanya, sekali lagi, sutradara Condon merasa penting untuk memberikan latar belakang kedua sejoli ini dan apa yang bisa mengikat mereka selain sekedar “kisah penculik dan korban yang akhirnya saling mencintai”. Absennya ibu Belle dan orang-tua sang pangeran kini terjawab di dalam film ini. Bahkan para objek, para pelayan yang sibuk menjodohkan sejoli ini juga mempunyai ceritanya masing-masing.

                                 Aktris Emma Watson dan aktro Dan Stevens berpose bersama musisi Celine Dion dalam penayangan perdana film Beauty and the Beast di Los Angeles, California, AS, 2 Maret 2017. REUTERS
Menarik, segar dan sangat asyik untuk ditonton? Pasti, karena ada elemen nostalgia dengan lagu-lagu Alan Menken dengan lirik yang ditulis Howard Ashman yang terus melekat di benar kita sejak pertama kali kita menyaksikan versi animasi tahun 1991. Bahwa Condon memutuskan menggunakan beberapa lagunya yang penting seperti “Belle” , “Something There” hingga “Gaston” yang kini dinyanyikan oleh Emma Watson dan para pemain lain dalam film, adalah sebuah strategi bagus karena sebagian penonton akan datang untuk bernostalgia. Tetapi generasi milenial tetap bisa menikmatinya tanpa harus paham asal muasal kisah ini.

Lagu lama dan baru berbaur menjadi satu, teapi yang terpenting di sini, Condon kini memasukkan tema penting dalam Beauty and the Beast versi baru: pluralisme. Bukan saja soal “gay” –yang ternyata hanya adegan dua detik yang sama sekali tak jelas—tetapi yang terlihat setara nyata Condon memasukkan berbagai tokoh Afro-American. Si pemilik perpustakaan dan  Madame Gardorobe (Audra MacDonald)  dan Plummete (Gugu Mbatha-Raw)  semuanya diperankan aktor dan aktris kulit berwarna.

Tetapi sutradara Condon mungkin agak melewatkan peluangnya untuk lebih mendalam. Ketika Emma Watson menekankan betapa pentingnya mendalami pesan feminsime di dalam film ini, elemen itu tak sepenuhnya digarap. Bahwa Belle seorang inventor dan ilmuwan hanya menjadi hiasan pada awal film dan menguap pada babak dua dan tiga. Bahwa Belle seorang kutu buku yang mencintai pengetahuan hingga dia mengalami “bibliogasme” saat di bawa ke perpustakaan raksasa Beast, tidak terlalu dimaksimalkan kecuali pada beberapa adegan diskusi  karya Shakespeare.

Tentu  Condon beralasan bahwa ini film Disney. Tapi trend untuk menjungkirbalikkan citra para puteri Disney –yang biasanya lemah lembut dan harus diselamatkan pangeran—ini sebaiknya dilakukan habis-habisan, agar anak-anak perempuan kita jangan mengira tumbuh sebagai perempuan muda hanya bisa lengkap dan beres jika diselamatkan seorang pria.

Belle versi Watson sudah menunjukkan sikap itu, tetapi belum sepenuhnya.
LEILA S CHUDORI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru