Bangsa Hebat, Bangsa Pembuat

Kamis, 22 Mei 2014 | 00:36 WIB

Ade Febransyah,
Prasetiya Mulya Business School

Inovasi dipuja; imitasi begitu dihina
Inovasi dirindukan; imitasi begitu dilupakan
Inovasi membuat kita terkesima; sedangkan imitasi sulit diterima
Dan inovasi adalah sebuah kemahakaryaan; sedangkan imitasi hasil dari kemalasan

Benarkah demikian? Silakan lihat di YouTube bagaimana seorang remaja 14 tahun, Tina S. Cover, memainkan karya sulit milik salah satu dewa gitar, John Petrucci, personel band Dream Theater. Secara teknik, dia luar biasa, penjiwaannya juga sudah dapat. Poinnya adalah Tina dan beberapa orang lainnya di luar sana mampu mengikuti/mengimitasi karya masterpiece seorang maestro.

Teringat kembali bagaimana ketika tablet Apple generasi pertama diluncurkan Steve Jobs pada awal 2010. Hanya berselang dua bulan, sudah muncul tablet-tablet serupa versi Taiwan. Juga lihat apa yang dilakukan oleh pabrikan mobil di Cina. Terakhir ada Landwind E32 yang merupakan kembaran dari Range Rover Evoque. Mereka dapat membuat hampir apa saja.

Persaingan dalam dunia inovasi tidak ubahnya seperti balap F1. Penginovasi dan pengimitasi berkejaran. Apa pun yang dilakukan oleh penginovasi akan selalu (dengan mudah) diikuti oleh pengimitasi. Jika penginovasi lengah, pengimitasi justru bisa mengambil alih posisi.

Jadi, jangan anggap remeh pengimitasi. Tidak mudah untuk menjadi Tina S. Cover dan pengimitasi lainnya. Pengimitasi sudah begitu berkeringat untuk membangun kapabilitasnya yang menyerupai penginovasi. Segala kerja keras mereka juga perlu diacungani jempol. Selanjutnya, jika mereka cerdas (smart imitator), dalam artian juga menghasilkan karya orisinal sendiri, mereka dapat pindah kelas menjadi penginovasi sejati.

Di tengah kepungan penginovasi global lewat keunggulan berbagai produknya, masih tersisakah peluang berinovasi untuk pelaku bisnis di Indonesia? Jika para macan bahkan naga Asia, seperti Korea, Cina, India, dan Taiwan mampu, kita pun sebenarnya mampu. Mulailah dengan berimitasi, asal dengan cerdas. Itulah pintu masuk menjadi bangsa pembuat.

Tidak ada bangsa yang hebat tanpa menjadi pembuat. Dengan membuat, mereka jadi berdaulat, mampu mandiri, dan tidak selalu bergantung pada pihak luar. Namun kedaulatan tidaklah gratis, harus dicapai lewat proses berkeringat.

Bagaimana bisa berdaulat secara ekonomi jika kita tidak setara dengan para penguasa dunia. Untuk bisa bersanding dengan kepala tegak, tidak ada cara lain selain terus membangun kemampuan untuk persaingan global. Jika lemah dalam daya saing, risiko untuk dieksploitasi pihak luar tidak terhindari. Itulah takdir bagi yang tidak siap dalam globalisasi.

Sekali-sekali, ada baiknya menengok perjalanan bangsa lain dalam memajukan negaranya. Korea Selatan misalnya. Siapa pernah menyangka bahwa Korea yang sekarang dulunya termasuk negara termiskin di dunia. Ya, pada awal 1960-an, mereka bukan apa-apa. Namun keberanian, keyakinan, dan komitmen yang tinggi dari pemimpinnya dalam membangun industri nasionalnya akhirnya berbuah manis.

Bagaimana dengan Indonesia? Tidak dimungkiri berbagai produk made in Indonesia sudah banyak dijumpai. Namun adakah pelakunya di sini yang termasuk pengimitasi pintar hingga penginovasi? Silakan lihat pemilik merek lokal. Adakah yang berhadapan langsung dengan Apple, Samsung, Intel, Google, Amazon.com, dan perusahaan berbasis teknologi dan telekomunikasi lainnya? Sepertinya belum.

Atau, adakah pelaku bisnis di sini yang berencana berinvestasi dalam R&D tentang pengembangan biofuel dari mikroba hasil rekayasa genetika, baterai lithium-ion untuk menghadirkan mobil elektrik masa depan dengan harga terjangkau, kabel listrik superkonduktor berkapasitas sekian kali lebih besar dibanding kabel tembaga konvensional, pembuat mesin DNA sequencing untuk mendeteksi mikroba dan sebaran virus dalam tubuh, penghasil uap bertenaga matahari untuk pembangkit listrik, sampai kaus olahraga hasil daur ulang botol plastik? Masih jauh. Oportunitas inovasi untuk keberlangsungan manusia pada masa depan masih belum menjadi agenda pelaku bisnis di sini.

Oportunitas inovasi tidak datang dengan sendirinya. Butuh suatu jejaring penginterpretasi (network of interpreter) untuk berinovasi (Verganti, 2009). Adanya institusi-institusi riset penghasil invensi menjelaskan "iklim membuat" suatu bangsa. Iklim membuat juga tidak tumbuh jika kebijakan pemerintah tidak memberi kemudahan bagi penginvensi dan pelaku inovasi. Iklim membuat juga lesu jika dari pelaku bisnisnya sendiri belum menjadikan inovasi sebagai strategi perusahaan untuk bertumbuh. Inovasi masih dilihat sebagai alternatif terakhir. Sesuatu yang mahal, berisiko, dan harus dihindari. Kesemuanya membuat kelambanan inovasi di Tanah Air. Akhirnya, inovasi hanya sebatas selebritas, asyik dibicarakan tapi enggan dibumikan.

Menjadi bangsa hebat adalah sebuah kerinduan bersama yang tidak perlu didebat. Salah satu upayanya adalah lewat membuat. Apa saja yang membuat bangsa ini berdaulat. Tidak mudah memang. Hanya pembuatlah yang mengubah dunia!*

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru