Warga Jakarta Masih Rindu Sosok Ali Sadikin  

Minggu, 27 Mei 2012 | 17:50 WIB
Warga Jakarta Masih Rindu Sosok Ali Sadikin  
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. TEMPO/Yosep Arkian

TEMPO.CO, Jakarta - Mayoritas warga Jakarta ternyata masih merindukan sosok mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai figur idaman yang memimpin Jakarta dari masa ke masa. Bang Ali dianggap berperan besar dalam pembangunan infrastruktur Jakarta, hingga mengawal Jakarta menjadi kota modern. "Figur Bang Ali Sadikin masih sosok yang diidamkan karena berani mengawal Jakarta menjadi kota modern," kata Direktur Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia, Toto Izul Fattah, Minggu 27 Mei 2012.

Fenomena ini, menurut Toto, adalah hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia pada 15-22 Mei 2012 yang diikuti 440 responden di Jakarta. Kecenderungan itu disampaikan Toto saat pemaparan LSI "Publik Jakarta Rindukan Figur Ali Sadikin" hari ini di Jakarta.

Menurut Toto, di mata masyarakat Ali Sadikin adalah figur yang berani mengawal Jakarta menjadi kota modern. "Mereka mendambakan Jakarta berkembang menjadi kota global dengan aneka budaya dunia yang beragam dapat hidup berdampingan," kata dia.

Ketika masyarakat ditanya mengenai apa yang diidealkan dari Ali Sadikin, sebanyak 42,3 persen memilih menyukai karakter Ali Sadikin dari mengawal Jakarta menjadi kota modern, kemudian sebanyak 35,8 persen karena isu lainnya dan sebanyak 21,8 persen responden tidak menjawab.

Dalam survei yang berlangsung pada 15-22 Mei 2012, sebanyak 75,6 persen responden mengidolakan kepemimpinan ala Ali Sadikin sebagai yang terbaik. Kemudian 12,3 persen menyatakan tidak ideal dan sisanya sebanyak 12,3 persen tidak menjawab.

"Uniknya, publik tak melihat figur kepemimpinan Ali Sadikin di antara enam calon Gubernur DKI 2012," katanya. Sebanyak 41,2 persen responden menyatakan tak ada figur seperti Ali Sadikin di pilkada DKI tahun ini.

Namun ada sekitar 22,4 persen responden yang menganggap Fauzi Bowo sebagai figur yang cukup mendekati sosok Bang Ali. Perolehan itu kemudian disusul oleh Wali Kota Solo Joko Widodo sebesar 8,6 persen.

Dalam survei yang diikuti oleh 440 responden ini, muncul kekhawatiran publik terhadap perubahan Jakarta menjadi kota primordialisme. "Kasus pembubaran diskusi Irshad Manji dan penolakan konser Lady Gaga oleh ormas tertentu," kata Toto menjelaskan.

Untuk itu, figur Ali Sadikin muncul sebagai jawaban dari kekhawatiran masyarakat. "Sosoknya yang berani dan kontroversial menjadi idaman untuk tetap menjaga keragaman kota Jakarta," kata dia.

Riset ini menggunakan dua metode sampling. Pertama, survei opini publik dengan jumlah responden 440 orang yang dipilih secara acak di seluruh wilayah DKI Jakarta dan menggunakan tatap muka responden dengan kuesioner. Kedua, dilengkapi dengan riset kualitatif berupa FGD, deep interview dan analisis media.

"Yang penting itu akurasi survei dari metodologinya bukan jumlahnya. Ini sudah terbukti akurat. Artinya bisa diibaratkan seperti untuk mencicipi satu mangkuk sup saja pasti bisa dengan hanya satu sendok saja," kata dia.

Diketahui Ali Sadikin berkiprah sebagai Gubernur DKI Jakarta pada masa 1966-1977. Ia dikenal cakap membangun infrastruktur DKI Jakarta seperti membangun Ancol, mengadakan Pekan Raya Jakarta (PRJ), dan mengembangkan aspek budaya betawi dan makanan asli seperti kerak telor.

SUBKHAN | WDA | ANT

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan