Warga Tak Kenal 'Markas' Kampanye Hitam ke Jokowi  

Sabtu, 05 Juli 2014 | 20:34 WIB
Warga Tak Kenal 'Markas' Kampanye Hitam ke Jokowi  
Ilustrasi kampanye hitam

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah warga RT 06/07 Kelurahan Ragunan tak tahu di kawasannya ada markas tim kampanye hitam yang melancarkan serangan kepada calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo. Di Jalan Haji Niih yang buntu, dekat Pengadilan Agama Jakarta Selatan itu, warga menyatakan tak ada aktivitas mencurigakan di bidang politik.

"Enggak pernah denger dan lihat ada yang aneh-aneh begitu. Di sini damai," kata Rahmat, 32 tahun, warga sekitar, kepada Tempo, Sabtu, 5 Juli 2014. (Baca: Cari Otak Kampanye Hitam, Tim Jokowi: Kontra Intel)

Ia pun menyatakan tak pernah mendengar ada lembaga Indonesia Center di kawasan itu. Ketika dicek, di sepanjang jalan tersebut, tak ada tanda kubu penyebar kebencian itu beraktivitas di wilayah ini.

Ketika disebut sejumlah nama yang dituding terlibat kelompok tersebut, warga pun mengaku tak pernah mendengar. "Kalau yang namanya Agus dan Slamet di sini ada, tapi ngojek kerjanya," ujar Suhardi, 36 tahun, warga lain, sambil tertawa. (Baca: Hendropriyono: Otak Kampanye Hitam Sudah Diketahui)

Sebelumnya, kubu Jokowi melalui A.M. Hendropriyono menyatakan telah mengetahui identitas pelaku penyebar kampanye hitam terhadap Jokowi. Mereka bernaung di sebuah rumah di simpang Jalan R.M. Harsono, 100 meter sebelah selatan kantor DPP Partai Gerindra.

Komunitas bernama Indonesia Center ini diisi oleh sejumlah nama, antara lain Sugiono, Edi Prabowo, Agus Gombong, dan Slamet Budioko. Total ada sembilan orang terlibat dalam gerakan itu. "Kami akan mengambil langkah hukum terkait dengan ini, bila terus-menerus ada kampanye hitam," ujarnya. (Baca: Tim Prabowo Sebut Hendropriyono Pintar Mengarang)

M. ANDI PERDANA

Berita lainnya:
PDIP Yogya Desak TV One Minta Maaf
Di Jawa Barat, Prabowo Unggul karena Televisi
Orang Tua Korban Pedofil Datangi Polres Bangkalan

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan