Jumat, 22 September 2017

Tantangan Massa di Pertamina

Kamis, 16 Maret 2017 | 23:25 WIB

.

Masuknya orang luar sebagai nakhoda baru di perusahaan sebesar Pertamina selalu memberi harapan sekaligus rasa waswas. Elia Massa Manik, yang berhasil membawa perubahan positif di Elnusa, Bank BNI, dan induk PT Perkebunan Nusantara, akan diuji sekali lagi. Mampukah Massa memperkuat reputasinya atau, sebaliknya, akan larut ditelan permainan di arena yang seharusnya ia kendalikan?

Setidaknya ada dua hal pokok yang akan menjadi tantangan buat Massa Manik di perusahaan negara dengan aset sekitar Rp 600 triliun itu. Pertama adalah mewujudkan rencana Pertamina menjadi pemain global yang tangguh dalam industri minyak dan gas, baik di hulu maupun hilir. Dengan begitu banyak konsesi wilayah kerja yang dikantongi Pertamina dan belum maksimal digarap, ruang tumbuh masih sangat terbuka di sektor hulu.

Di hilir sama saja. Pertamina, yang sekian lama dimanjakan dengan berbagai fasilitas, harus membuktikan sanggup bersaing secara profesional menghadapi kompetitor lokal dan beberapa pemain asing yang mulai merangsek. Massa juga dituntut siap menjalankan beragam penugasan dalam pelayanan publik. Salah satunya adalah program bahan bakar minyak satu harga di seantero Nusantara, yang dicanangkan Presiden Joko Widodo-tugas yang pasti akan menggerus isi kantong perusahaan.

Pada saat yang sama, Pertamina dihadapkan pada utang sekitar US$ 16 miliar atau Rp 212 triliun lebih, yang akan jatuh tempo secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Ini adalah ujian tersendiri bagi Massa, yang sebelumnya dianggap sukses membalikkan keadaan beberapa perusahaan yang sempat megap-megap menjadi lebih sehat.

Hal kedua yang selalu ditunggu dari siapa pun yang memimpin Pertamina ialah kemampuan dan keberanian membersihkan perusahaan dari tangan-tangan mafia minyak dan gas. Sudah menjadi pengetahuan luas bahwa perusahaan yang tahun lalu membukukan laba Rp 40 triliun ini selalu digerogoti dari kanan-kiri. Banyak kepentingan bermain di Pertamina, dari jaringan pencuri yang melubangi pipa-pipa minyak mentah, transportasi dan pengapalan, hingga mereka yang memburu rente dari setiap transaksi yang mencapai kurang-lebih 1,5 juta barel per hari.

Beberapa pendahulu Massa sudah mencoba. Sebagian di antaranya menyerah dan berakhir dengan memilih bekerja sama atau menutup mata terhadap sepak terjang para mafia dan bekingnya. Satu-dua yang nekat melawan menemui nasib terpental dari posisinya karena tak kuat menahan tekanan dari sana-sini, juga intervensi kekuasaan.

Urusan lain yang tak kalah penting ialah konsolidasi manajemen. Massa mewarisi situasi perusahaan yang sempat diwarnai ketegangan akibat dualisme kepemimpinan antara Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, yang kemudian diberhentikan sebagai direktur utama dan wakilnya pada awal Februari lalu. Tak akan perlu waktu lama untuk melihat sejauh mana orang luar seperti Massa akan sanggup-atau justru larut.


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.