Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

BNPB Akan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Kurangi Hujan di Sukabumi

BNPB berpacu dengan golden time untuk cari tujuh warga korban bencana banjir dan tanah longsor di Sukabumi yang masih hilang.

7 Desember 2024 | 11.38 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Giat operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BNPB bersama lintas kementerian/lembaga di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Sabtu, 6 Januari 2024.Tim Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi bencana susulan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tujuannya, mengurangi intensitas hujan di wilayah yang telah terdampak bencana.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Kami berupaya untuk meminimalisir atau mengurangi jumlah debit hujan yang turun di wilayah Sukabumi dengan operasi modifikasi cuaca," kata Kepala BNPB, Suharyanto, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 6 Desember 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Modifikasi cuaca ini diharapkan bisa mengurangi intensitas hujan yang turun. Dengan begitu, membantu upaya evakuasi maupun pencarian korban yang masih hilang. Berdasarkan data sementara BNPB pada Jumat, jumlah korban tewas yang telah ditemukan sebanyak lima orang. 

Dari lima itu, empat di antaranya berasal dari Kecamatan Simpenan dan satu berasal dari Kecamatan Ciemas. Selain itu masih terdapat korban hilang sebanyak tujuh orang.

Suharyanto memerintahkan seluruh tim SAR (Search and Rescue) gabungan untuk lebih mengoptimalkan operasi pencarian. "Apabila diperlukan menggunakan alat berat, dipersilahkan," katanya.

Dia mengingatkan, operasi pencarian memiliki golden time selama tujuh hari. Jika dalam waktu tersebut belum ditemukan, Suharyanto meminta pemerintah daerah setempat bersama tim SAR gabungan untuk segera menemui para ahli waris.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis 91S di Samudera Hindia, sebelah barat daya Banten. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebut dampak berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Jabodetabek.

Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memprediksi 91S bakal terus membesar sehingga sebagian besar area di selatan Indonesia, mulai dari Banten hingga Kupang (NTT), akan merasakan dampak hujan persisten. "Tak hanya pesisir selatan tapi juga pesisir, utara, tengah, dan pegunungan," kata profesor riset bidang klimatologi itu menambahkan.

M. Faiz Zaki

M. Faiz Zaki

Menjadi wartawan di Tempo sejak 2022. Lulus dari Program Studi Antropologi Universitas Airlangga Surabaya. Biasa meliput isu hukum dan kriminal.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus