Hoax

Hoax di Manado, Orang Tua Khawatir Anak Diculik dari Sekolah

Hoax di Manado, Orang Tua Khawatir Anak Diculik dari Sekolah

Beberapa warga menduga isu penculikan sengaja dihembuskan untuk mengaburkan persoalan e-KTP yang menyeret nama Gubernur.

  • Media, Hoax, dan Siluman Ular  

    Ketika media massa memberitakan kehadiran Presiden Jokowi dalam peringatan Hari Pers Nasional di Ambon, pekan lalu, serial sinetron Naagin di sebuah televisi swasta tiba pada adegan-adegan menegangkan. Serangkaian adegan tersebut tampak paralel dengan pesan penting Presiden bahwa media arus utama harus meluruskan kabar di media sosial yang bengkok. Presiden berharap media arus utama berperan melawan berita bohong alias hoax yang banyak muncul di media sosial.

  • Hoax dan Kenormalan Baru

    Seorang mantan presiden mengeluhkan betapa banyak berita bohong, fitnah, palsu, atau hoax dan bertanya bagaimana nasib rakyat kecil di hadapan semua itu. Keluhan itu bukan tak beralasan karena memang di media sosial bertaburan hoax yang berisi berita bohong, palsu, manipulatif, dan fitnah. Di sana ujaran kebencian, kemarahan, dan niat jahat bercampur-baur dengan provokasi yang sangat berbahaya. Bisa-bisa rakyat yang awam termakan dengan semua kebohongan dan fitnah itu lalu bergerak melakukan sesuatu. Sebuah kekacauan bisa saja terjadi, sebuah rasialisme bisa meledak. Malah pergantian kekuasaan bisa saja menjadi ujung dari kekacauan dan kegaduhan yang membakar massa.

    Seorang pengamat mengatakan bahwa produsen hoax paling besar dan sempurna adalah pemerintah karena pemerintah memiliki semua instrumen yang bisa diberdayakan untuk membuat hoax, lalu menyebarkannya. Ini bukan sekadar hoax, tapi di balik itu ada ikhtiar sistematis untuk menutupi kebenaran yang sengaja disembunyikan.

  • Hoax dan Islam

    Hoax sedang mendapatkan momentum sebagai bagian dari hiruk-pikuk politik Ibu Kota. Tulisan ini hendak mengaitkan hoax, yang berarti berita bohong atau fitnah, dengan wilayah yang paling sensitif, yakni agama, khususnya Islam.

    Jauh sebelum menyerang politik Ibu Kota, berita bohong telah menggerogoti sendi-sendi keberislaman, sehingga umat Islam hanyut dalam silang pendapat dan konflik yang sebenarnya semu karena ditopang oleh hoax. Seringkali kita bertengkar atas nama keyakinan (yang subyektif dan palsu), bukan kebenaran (obyektif dan nyata). Misalnya, yang kini kian populer, sebagian umat Islam yakin bahwa bumi datar dengan berbasis pada paradigma dan pendekatan "ayatisasi": mencocok-cocokkan ayat Al-Quran dengan pseudosains. Ini menjadi sesuatu yang bisa membawa persepsi salah bahwa Islam dan sains bertentangan serta mengingatkan kita pada "tragedi Galileo", yang menjadi kisah pertentangan agama-sains paling memilukan dalam sejarah.