Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Arsip

Mengukur Imbas Resesi Jepang terhadap Ekspor Indonesia

Jepang telah masuk ke dalam jurang resesi usai pertumbuhan ekonominya kontraksi atau minus dua kuartal berturut-turut. Bagaimana dampaknya ke perekonomian Indonesia?

2 Maret 2024 | 08.00 WIB

Ilustrasi Ekspor Import. Getty Images
Perbesar
Ilustrasi Ekspor Import. Getty Images

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Jepang telah masuk ke dalam jurang resesi usai pertumbuhan ekonominya kontraksi atau minus dua kuartal berturut-turut. Melansir dari Reuters, Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang menyusut 0,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal ke-IV 2023. Pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jepang juga menurun 3,3 persen (yoy).  

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan resesi yang dialami Jepang ini akan menjadi tantangan bagi lingkungan global, termasuk Indonesia. Dia menjelaskan, beberapa lembaga telah memproyeksikan kinerja perekonomian negara-negara maju yang akan cukup tertekan pada tahun ini. Hal tersebut terjadi karena kenaikan suku bunga di berbagai negara yang cukup tinggi dalam waktu singkat, sehingga turut mempengaruhi kinerja ekonomi negara maju.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyebut pihaknya akan terus memantau dampak resesi Jepang terhadap sektor keuangan Indonesia. “Kami akan cermati sekiranya ada dampak, tapi sejauh ini kami tidak mengharapkan dan antisipasi ada dampak terlalu berat. Karena kan hal yang juga sudah kita lihat beberapa waktu terakhir ini," ujar Mahendra ketika ditemui usai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024 di Jakarta, Selasa, 20 Februari 2024.

Sementara Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, meminta masyarakat tidak langsung percaya dengan ramalan atau prediksi International Monetary Fund (IMF) soal gejolak global. Menurut dia, kinerja ekonomi sejumlah negara maju cukup baik. Purbaya mengklaim perekonomian Amerika Serikat saat ini masih kuat, ditopang stimulus yang diberikan Cina.

Apa Kata Ekonom?

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa resesi Jepang bakal memberikan efek pada penurunan kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan, mengingat Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Menurut dia, pengaruhnya akan terasa secara langsung maupun tidak langsung. 

“Jepang juga merupakan partner dagang utama Amerika Serikat sehingga ada asumsi jika resesi Jepang ini berlanjut, tentu akan ikut mempengaruhi kinerja ekspor Amerika Serikat, sehingga secara tidak langsung juga akan ikut mempengaruhi kinerja ekonomi negara tersebut,” ujar Yusuf kepada Tempo, Jumat, 23 Februari 2024.

Artinya, kata Yusuf, hal ini masuk ke dalam dampak tidak langsung ke Indonesia karena Amerika Serikat merupakan salah satu negara penyumbang utama ekonomi global. Melemahnya ekonomi Amerika Serikat juga akan ikut melemahkan ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Selain dampak  melalui perdagangan internasional, Yusud menilai resesi Jepang juga berimbas pada sektor keuangan melalui sentimen di pasar keuangan. Tapi menurutnya, sentimen di pasar keuangan akan bersifat sementara dan jangka pendek. Meski begitu, hal ini juga perlu diantisipasi di tengah upaya untuk menjaga pasar keuangan di Indonesia, yang juga berkaitan dengan stabilitas nilai tukar rupiah.

Senada, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan situasi di Jepang saat ini bisa berpengaruh cukup besar bagi ekspor Indonesia. Tapi, di sisi lain, Bhima menilai fenomena ini bisa menjadi peluang karena Jepang pasti akan melihat potensi investasi di luar negerinya, salah satunya di Indonesia.

Selanjutnya: “Indonesia sebagai negara yang masih berkembang...

“Indonesia sebagai negara yang masih berkembang, prospeknya masih cukup bagus, ini akan membuat industri Jepang mungkin bisa lebih banyak lagi melakukan relokasi pabrik Indonesia atau menambah capital expenditure atau belanja modalnya untuk perluasan pabrik termasuk elektronik dan otomatif,” kata Bhima. 

Selain itu, Bhima mengungkap adanya potensi Jepang yang akan semakin agresif mengakuisisi sektor jasa keuangan Indonesia, baik perbankan maupun asuransi, untuk mengkompensasi terjadinya penurunan di dalam negeri Jepang. 

“Jadi ini satu hal yang kita bisa lihat sebagai sebuah tren investasi yang positif bagi Indonesia. Tapi di sisi lain juga kita perlu mewaspadai bahwa Jepang makin agresif mengakuisisi bank-bank. Itu akan membuat terjadinya penguasaan aset-aset jasa keuangan kepada perusahaan asing,” tuturnya.

Bhima pun mengungkap sederet upaya yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, melakukan mitigasi dengan mengalihkan produk-produk yang diekspor ke Jepang ke pasar alternatif. Kedua, melakukan monitoring terutama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dengan melakukan uji ketahanan terhadap berbagai indikator makroekonomi maupun stabilitas di sektor keuangan. Ketiga, pemerintah harus memberikan insentif yang lebih besar bagi para pelaku usaha yang bekerjasama dengan Jepang.

Sektor Apa Saja yang Akan Terdampak?

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS),  per Januari 2024, nilai ekspor Indonesia ke Jepang tercatat mencapai Rp 22,78 triliun atau US$ 1,46 miliar. Angka ini turun 22,73 persen (yoy) dibanding bulan yang sama pada periode sebelumnya. 

Pada 2022, Jepang menjadi salah satu tujuan ekspor terutama bagi Indonesia selain Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Malaysia yang berkontribusi sebesar 54,01 persen dari total ekspor. Sepanjang 2023 sendiri, nilai ekspor Indonesia ke Jepang mencapai US$ 18,8 miliar, atau terbesar keempat, dengan komoditas terutama mencakup batu bara, komponen elektronik, nikel dan otomotif, menurut catatan Kementerian Keuangan. Selain itu, ada juga ekspor produk perikanan seperti lobster mutiara, ikan segar, ikan hias, dan rumput laut, hingga produk kayu dan karet.  

Pelaksana Tugas Harian Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Yukki Nugrahawan Hanafi, menuturkan bahwa resesi Jepang saat ini membuat ekspor Indonesia berpotensi terpengaruh karena konsumsi domestik di Jepang akan melandai. 

“Kami melihat bahwa komoditas ekspor nasional yang akan terdampak meliputi batu bara, bijih, produk mesin, produk olahan kayu, karet, bahkan sektor perikanan baik ikan maupun olahan ikan dan lobster,” ujarnya. Yukki juga menggarisbawahi akan potensi penurunan kunjungan wisatawan Jepang ke Indonesia, terlebih karena demografi penduduk Jepang yang semakin menua dan konsumsi yang melambat.

Meskipun demikian, dari sudut pandang investasi, Yukki melihat adanya peluang investasi dari Jepang ke Indonesia yang masih positif, di mana hal ini turut disebabkan oleh positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk tetap memastikan geliat pertumbuhan ekonomi nasional, dunia usaha nasional berharap antisipasi dan strategi pemerintah.

Selanjutnya: “Salah satunya, pembukaan akses pasar baru ..."

“Salah satunya, pembukaan akses pasar baru dari negara-negara pasar non-tradisional juga penting dilakukan oleh pemerintah,” kata dia. Selain itu, Kadin menilai bahwa ekonomi domestik nasional perlu distimulasi oleh pemerintah.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, mengatakan resiko terbesar apabila Jepang mengalami resesi adalah perlembatan pertumbuhan Foreign Direct Invesment (FDI) asal Jepang. Dia memperkirakan perlambatan FDI akan berdampak paling banyak bagi sektor manufaktur. 

“Kita tidak tahu seberapa jauh perlambatan ini akan mempengaruhi secara keseluruhan sektor atau keseluruhan potensi penerimaan FDI, tetapi diproyeksikan yang akan lebih banyak terdampak adalah proyek-proyek investasi baru atau yang sifatnya venture investment,” kata dia. Sementara untuk industri-industri dengan investasi yang sudah eksisting cukup lama seperti sektor otomotif, kata Shinta, kemungkinan tidak akan banyak terdampak selama tidak ada kendala lain.

Di sisi ekspor, Apindo menilai sektor yang lebih banyak terdampak adalah komoditas seperti batu bara, tembaga, nickle matte, dan karet. “Karena komoditas-komoditas ini konsumsinya sangat tergantung pada kinerja industri di Jepang, sehingga demand-nya bisa turun signifikan bila produktifitas industri di Jepang kontraksi karena resesi,” ujar Shinta.

Untuk consumer products juga tetap berpotensi mengalami perlambatam, meski penurunannya tidak terlalu terasa. Hal ini, akrena porsi ekspornya lebih sedikit dibandingkan ekspor komoditas. Adapun beberapa produknya, terutama produk-produk seperti plywood, kertas, cigars, produk perikanan, dan lain-lain.

Sebagai salah satu industri yang terdampak, asosiasi alas kaki yang berbahan dasar karet mengungkap adanya ancaman penurunan ekspor sebagai imbas dari resesi Jepang. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakrie, mengatakan hal tersebut dikarenakan Jepang merupakan salah satu pembeli terbesar Indonesia. Namun, untuk saat ini Firman belum bisa menyajikan datanya karena belum tersedia. Yang jelas, kondisi tersebut pasti memengaruhi industinya.

Jika pasar terus lesu, kata Firman, mungkin pemerintah mungkin bisa mendorong investasi alas kaki dengan merebut pasar dari negara-negara pesaing. “Pemerintah perlu meningkatkan daya saingnya untuk bisa merebut investasi dari Cina dan Vietnam,” katanya.

Firman juga menyebutkan pemerintah bisa memberikan insentif ekspor, menguatkan kerja sama ekonomi dengan negara-negara mitra, hingga memberikan insentif penggunaan bahan baku lokal agar bisa mendorong investasi industri bahan baku. “Kemudahan perizinan juga masih terkendala, sehingga penguatan kemudahan perizinan juga penting.”

DEFARA DHANYA | REUTERS

Pilihan Editor: Ekonom BCA Sebut Impor Produk Jepang Bisa Lebih Murah Gara-gara Resesi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus