Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Director Business Innovation and Sales and Marketing PT Honda Prospect Motor atau HPM Yusak Billy, menilai kenaikan pajak kendaraan LCGC menjadi 3 persen masih kompetitif. Dia pun berencana akan menyesuaikan harga baru tanpa membebani konsumen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Masih ada dua tahun, jadi kita lihat nanti, yang jelas kita usahakan tidak membebani konsumen,"ujar Billy di sela-sela kegiatan Honda di Bogor, akhir pekan lalu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Selain itu, skema tarif pajak PPnBM baru juga dinilai tidak signifikan. Kalau pun harga mobil naik, kata dia, paling tinggi hanya sekitar Rp 3 jutaan. Nilai itu dianggap masih wajar dan kompetitif.
"Naik 3 persen, itu tidak terlalu besar, Paling nanti naiknya tiga jutaan,"ujarnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa sepanjang daya beli masyarakat masih bagus, maka pasar otomotif akan stabil. Terlebih jika, kata dia pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 bisa di atas 5 persen.
Skema baru Pajak Penyesuaian Atas Barang Mewah atau PPnBM tidak lagi spesial bagi mobil LCGC. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019 tentang Pajak Penyesuaian Atas Barang Mewah (PPnBM), mobil LCGC dipastikan terkena pajak 3 persen. Padahal sebelumnya mobil ini, mendapat keistimewaan dengan pajak nol persen.
Honda sendiri memiliki andalan di segmen ini, yakni Honda Brio. Mobil ini memiliki tren penjualan yang cukup positif di Tanah Air. Sepanjang tahun 2019 misalnya, Brio kerap berada di 10 besar penjualan mobil terlaris berdasarka data wholesales Gaikindo.
Bisa dibilang, mobil LCGC adalah salah satu ceruk Honda di Indonesia.