Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Abqaiq – Otoritas Arab Saudi mengadakan kunjungan media ke lokasi fasilitas pengolahan minyak milik Saudi Aramco, yang terkena serangan drone dan rudal pada sepekan lalu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Petugas di lapangan menunjukkan kepada awak media pipa minyak yang rusak dan peralatan yang terbakar akibat serangan pada Sabtu menjelang pagi pada pekan lalu itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Perusahaan minyak terbesar dunia Saudi Aramco memiliki salah satu fasilitas pemrosesan minyak terbesar dunia di Abqaiq. Vice Presiden Saudi Aramco, Khalid Buraik, mengatakan salah satu menara stabilizer terbakar dalam serangan itu dan akan diganti.
“Ada 15 menara pengolahan minyak yang terkena serangan di Abqaiq. Tapi fasilitas ini akan kembali pulih mencapai kapasitas penuh pada akhir September,” kata Buraik kepada media seperti dilansir Reuters pada Jumat, 20 September 2019.
Sejumlah pekerja juga sedang memperbaiki fasilitas pengolahan minyak di Khurais, yang rusak akibat serangan empat rudal.
Sejumlah crane berdiri di dekat dua pipa stabilizer minyak, yang berfungsi memisahkan minyak dan gas. Sejumlah pipa terlihat meleleh di sini.
“Kami yakin fasilitas akan kembali beroperasi penuh seperti sebelum serangan pada akhir September,” kata Fahad Abdulkarim, yang merupakan manajer umum Saudi Aramco di Khurais. “Kami bekerja 24 jam penuh.”
Sejumlah pekerja mengenakan jaket merah menyala dan helmet putih terlihat menyusuri lokasi ini, yang luasnya mencapai beberapa kali stadium bola. Sejumlah struktur pipa dan menara bermunculan di area ini.
Sejumlah pekerja terlihat menyiram air ke tanah dan beberapa mobil serta truk pengangkut air berdiri di dekat menara minyak.
Militer Arab Saudi menuding Iran sebagai pelaku serangan ini. Pemerintah Iran membantah tudingan ini dan menyebut pelakunya kelompok Houthi.
Kelompok Houthi, yang didukung Iran pada perang di Yaman, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Namun, pemerintah Amerika Serikat meragukan klaim Houthi karena tidak pernah melakukan serangan sebesar dan presisi seperti ini sebelumnya.
Menteri Negara urusan Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, mengatakan serangan itu sebagai perpanjangan tangan sikap bermusuhan rezim Iran dan perilaku yang melanggar hukum. Iran merupakan pendukung kelompok Houthi di Yaman, yang berperang lawan Saudi.