Takhayul

Sabtu, 10 September 2011 | 23:12 WIB

Toriq Hadad

Sering kali kita lebih asyik mengunyah takhayul ketimbang mendengar fakta. Ketika kecelakaan menimpa mobil penyanyi Saipul Jamil dan menewaskan istrinya di jalan tol Cipularang, sangat sedikit orang yang tertarik bicara fakta. Misalnya kilometer 90-97, arah Bandung ke Jakarta, yang disebut-sebut rawan itu, sesungguhnya menurut seorang pakar merupakan area black spot. Jalan yang menurun sering membuat pengemudi tak sadar mobilnya melaju lebih kencang. Di tikungan panjang lokasi itu kerap terjadi gaya sentrifugal, yang efeknya seperti mendorong mobil ke luar.

Tapi fakta selalu dianggap kering, kurang sedap, kurang bumbu. Orang ramai, juga tayangan televisi yang menggebu-gebu, lebih asyik bicara penampakan perempuan yang konon suka tiba-tiba menyeberangi jalan. Banyak yang lebih suka bicara soal batu besar di bawah jalan tol itu yang katanya tak dapat dipindahkan dengan alat sebesar apa pun. Yang lain lebih tertarik membahas "aturan tak tertulis" untuk membunyikan klakson atau menyalakan lampu di lokasi itu, seakan isyarat "numpang lewat" kepada sang penunggu jalan.

Tak ada larangan untuk percaya pada yang gaib. Tapi kepercayaan itu sering kali menenggelamkan fakta bahwa harus ada yang dibenahi. Dalam kasus tol Cipularang, hal-hal yang hidup dalam khayalan itu, misalnya, tidak harus menghilangkan fakta bahwa "ruas 90-97" itu harus diteliti ulang. Perbaikan harus dilakukan bila ditemukan kejanggalan pada struktur, kontur, atau kemiringan jalan, misalnya--terlepas Anda percaya untuk mengedip-ngedipkan lampu atau membunyikan klakson di lokasi itu.

Banyak contoh takhayul yang membenamkan fakta. Salah satunya tentang kehadiran Presiden Yudhoyono di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Takhayul menyebut kehadiran langsung Presiden di stadion membawa sial untuk tim nasional sepak bola Indonesia.

Kekalahan dua gol tanpa balas Indonesia ketika melawan Bahrain dalam kualifikasi Piala Dunia 2014, Selasa lalu, menguatkan takhayul itu. Padahal, meskipun tim nasional lebih sering kalah ketika ditonton SBY, pernah juga Presiden menyaksikan tim nasional menang. Misalnya Desember tahun lalu, ketika Gonzales cs menang melawan Filipina di Gelora Bung Karno.

Pendukung takhayul begini seolah-olah percaya, jika Presiden tak datang ketika Indonesia melawan Bahrain, timnas bisa menang. Padahal, di lapangan, timnas kalah segala-galanya. Nyaris tak ada peluang yang berharga bagi tim Indonesia.

Artinya, SBY hadir atau tidak, fakta menunjukkan tim sepak bola Merah Putih memang perlu pembenahan mendasar. Bukan hanya strategi permainan, kualitas dan teknik permainan timnas pun rasanya tak memungkinkan untuk bersaing di pentas Asia, apalagi panggung dunia. Dalam kondisi sekarang ini, hanya pengikut takhayul fanatik yang percaya PSSI mampu lolos ke Piala Dunia 2014.

Belakangan, takhayul tumbuh lebih subur, terutama manakala kenyataan yang seharusnya dibenahi malah tak bisa disentuh. Sekarang ini sudah sangat sulit mencari orang yang percaya pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir bisa diungkap. Orang tak lagi percaya kasus Gayus Tambunan akan dibedah sampai ke perusahaan besar yang menyuap orang pajak itu.

Yakin kasus Nazaruddin akan sampai ke penindakan petinggi Partai Demokrat? Yakin kasus Miranda Goeltom akan mengungkap penyandang dana suap? Bila Anda tak yakin, artinya Anda percaya takhayul. Saya yakin semua kasus bisa terbongkar. Walaupun, terus terang, ini hanya usaha saya untuk menolak sebutan pengikut takhayul.

Komentar


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan