Berita Terkait
Kalla Mentahkan Desakan Pengumuman Calon Presiden
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum Partai Golongan Karya Jusuf Kalla mementahkan desakan sebagian besar dewan pimpinan daerah dan organisasi massa binaan partai untuk segara memutuskan calon presiden pada Rapat Pimpinan Nasional IV ini.
Menurut Kalla, dari berbagai pengalaman partai, memutuskan calon presiden akan membuat partai tidak fokus dan terjadi tabrakan kepentingan ketika dilakukan sebelum pemilihan legeslatif.
"Kita tetap mengacu pada keputusan sebelumnya, harus ada strategi yang jelas dan fokus. Tanpa strategi yang baik kita tidak bisa menang," kata Kalla saat memberi tanggapan atas pemandangan umum 33 DPD dan 12 organisasi massa Partai Golkar di Ruang Cenderawasih Jakarta Convention Center Sabtu (18/10).
Menilik pada tahun 1999 dan 2004, ujar Kalla, tidak ada presiden yang berasal dari Golkar. Hal ini karena kader partai tidak kompak dan terpecah sehingga tidak solid mendukung calonnya. "Kita terus berkelahi secara internal," kata Kalla.
Penentuan calon presiden jauh-jauh hari, ujar Kalla, dengan mencontoh sistem konvensi Golkar 2004 membuat isu yang bergulir justru terus-menerus soal itu. "Hasilnya suara partai menurun, padahal pada pemilu 1999 kondisi jauh lebih buruk," kata Kalla.
Dengan penentuan buru-buru, kata Kalla, sistem konvensi 2004 justru menghasilkan calon presiden partai dari Golkar justru yang dipertanyakan baktinya pada Golkar. Bahkan tragisnya wakil preidennya pun dari luar.
"Ini bisa memecah belah, lihat Wiranto sekarang keluar begitu saja, ini sangat dratis," kata Kalla. Kalla yakin keputusan ini bisa memberikan kekuatan Golkar memperoleh suara sebesar 30 persen.
Mengenai koalisi, Kalla pun menyatakan hal yang sama. Menurut Kalla koalisi penting namun keputusannya setelah pemilihan legeslatif 2009. "Supaya tidak tabrakan kepentingannya, supaya kepentingan partai tidak dikesampingkan," kata Kalla.
Anton Aprianto