Berita Terkait
Ombak Ganggu Transportasi ke Kepulauan Seribu
TEMPO Interaktif, Jakarta: Gelombang setinggi hampir tiga meter membuat sebagian kapal penghubung Kepulauan Seribu dengan Jakarta tidak beroperasi sejak Senin (12/1) lalu.
Bupati Kepulauan Seribu, Abdul Rachman Andit, Jumat (16/1), mengatakan sejak awal pekan ini, gelombang sudah mencapai ketinggian 1,5 meter. "Ini sudah membahayakan untuk kapal kecil," ujarnya.
Akibatnya, 17 kapal milik pemerintah kabupaten hanya bersandar di dermaga Marina, Ancol. Kapal ini biasa mengantar warga atau pegawai negeri dari Jakarta ke Pulau Pramuka, pulau utama di Kepualauan Seribu.
Karena kapal pemerintah tidak bekerja, kata Bupati, "Sebagian pegawai naik ojek." Yang dimaksud "ojek" adalah 36 kapal kayu swasta dengan kapasitas masing-masing 80 orang yang setiap hari mondar-mandir dari dermaga Muara Angke, Jakarta, menuju Pulau Pramuka atau Pulau Tidung.
Pemerintah Kepulauan Seribu saat ini hanya menganjurkan kapal itu tidak melaut karena tingginya gelombang. Tapi, karena transportasi ini vital, mereka tetap beroperasi. "Lagi pula mereka lebih ahli," kata Andit.
Pemerintah mengawasi dengan ketat penyeberangan Muara Angke.
"Kalau cuaca tidak memungkinkan, kami larang berangkat," kata Andit.
Ia memberi contoh salah satu kapal yang dijadwalkan meninggalkan dermaga pukul 7.00 WIB, baru meninggalkan Muara Angke pada 15.00 setelah laut lebih tenang.
Cuaca buruk juga membuat waktu tempuh berlipat dua kali. Dari Muara Angke ke Pulau Pramuka, yang biasa ditempuh dua jam, molor jadi 4,5 sampai 5 jam. "Karena kapal banyak berhenti di pulau terdekat untuk berlindung (dari gelombang laut)," kata Andit.
Reza M