Berita Terkait
Petenis Amerika Dikepung Tiga Petenis Rusia
TEMPO Interaktif , Perjuangan Svetlana Kuznetsova berakhir di tangan Serena Williams di perempatfinal Australia Terbuka. Petenis Rusia ini gagal menyusul tiga rekan senegaranya mencapai putaran semi final. Namun, Serena Williams belum lolos dari hadangan petenis tiga Rusia lainnya yang sudah menanti di semi final.
Setidaknya Williams harus menghabisi dua dari tiga petenis Rusia yang tersisa, untuk bisa meraih gelar juara Australia Terbuka keempat kalinya, setelah sebelumnya juara di tahun 2003, 2005, dan 2007.
Petenis unggulan kedua ini --seperti halnya petenis Amerika lainnya-- menyukai lapangan keras. Namun tipikal lapangan di Melbourne yang berjenis plexi pave --lapangan yang menggunakan lapisan materi akrilik--, merupakan lapangan yang selain keras juga memantul lebih cepat.
Untuk servis Williams yang rata-rata mencapai 160 kilometer per jam, bola akan semakin cepat memantul sehingga sulit bagi lawan-lawannya mengembalikan. Mungkin hanya dibiarkan saja daripada mencari masalah kalau dikejar. Toh dalam hitungan statistik, servis keras yang menjadi andalan beberapa petenis, tidak lebih dari 20 persen mendongkrak poin.
Menghadapi unggulan keempat Elena Dementieva, yang sudah malang melintang di papan atas tenis dunia sejak 2002, Williams tidak bisa anggap enteng. Peraih medali emas Olimpiade Beijing ini sebelumnya mengalahkan Williams di pertemuan terakhir mereka di turnamen di Sydney.
Kebangkitan Tenis Putri Rusia
Sejarah tenis putri Rusia, mulai terlihat cemerlang dalam satu dekade ini diawali dari gebyarnya sicantik Anna Kournikova awal tahun 2000-an. Petenis yang kemudian mempunyai profesi bawaan sebagai selebritas dunia ini akhirnya tenggelam, setelah cedera yang menghantuinya. Tak begitu lama, muncul Maria Sharapova yang juga tak kalah cantik dan tentu saja piawai di lapangan.
Sharapova yang malang melintang di top sepuluh dunia, juga mulai tenggelam tahun 2008. Sharapova mundur dari Australia Terbuka 2009 ini, setelah gagal memulihkan cedera tendon ototnya yang membutuhkan perawatan lebih lama.
Sebagai negara komunis, Rusia sebenarnya menunjukkan gelagat meningkatnya olahraga tenis sejak kebijakan ekonomi-politik Glasnot dan Perestroika tahun 1980-an. Untuk petenis putra, ada Yefgeny Kafelnikov -yang setiap tur menggunakan pesawat jet pribadi--, sampai pada kejayaan Marat Safin – petenis yang mencapai peringkat pertama dunia dan mampu menginspirasi adiknya Dinara Safina juga menjadi bintang tenis.
Setidaknya tahun 2009 ini kembali menjadi ajang pembuktian bagi dominasi tenis Rusia, khususnya tenis putri untuk mempertahankan kejayaannya. Stok pemain di papan atas dunia masih banyak, tercatat ada Elena Dementieva yang hampir empat tahun bercokol di top sepuluh besar dunia, yang lainnya menyusul seperti Svetlana Kuznetsova, Dinara Safina, dan Vera Zvonareva.
Kini ajang pembuktian tinggal selangkah lagi, siapakah dari tiga petenis Rusia ini yang mampu merebut gelar Australia Terbuka 2009, setelah Maria Sharapova tahun 2008. Ataukah semuanya tumbang oleh satu petenis Amerika yang tersisa, yakni Serena Williams. Kita tunggu saja.
NUR HARYANTO