Akhirnya Kalla Merapat ke Cikeas

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla tadi malam menemui Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Desa Nagrak, Bogor. Kalla tiba di rumah pribadi Yudhoyono pukul 22.00, dengan menaiki Mercedes S-500 dan dikawal empat kendaraan. Pertemuan kedua tokoh partai itu berlangsung tertutup.

Siang kemarin Kalla dan Yudhoyono juga sudah bertemu. Namun, pertemuan keduanya dalam status presiden dan wakil presiden yang memimpin rapat kabinet terbatas. Mereka membahas program pembangunan pada 2010.

Sebagai pemimpin partai, setelah pemilihan legislatif Yudhoyono dan Kalla baru berkomunikasi dua kali melalui telepon. Pertama, saat Kalla mengucapkan selamat atas kemenangan Partai Demokrat. Kedua, seperti dituturkan juru bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng, saat kedua tokoh membicarakan rencana koalisi Demokrat dan Golkar.

Mereka sebenarnya berencana untuk bertemu Minggu (12/4), namun batal. Para petinggi Golkar mendesak diadakan pertemuan di rumah Kalla. Akhirnya malam itu terjadi pertemuan. Selesai pertemuan Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya Soemarsono menjelaskan bahwa rencana koalisi itu masih menunggu apat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) Golkar pada 16 April dan 23 April. 

"(Rencana itu) Boleh-boleh saja, namun itu harus didengarkan pernyataan sikap seluruhnya, tidak bisa langsung mengkomentari," ujar Soemarsono usai Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) Golkar di kediaman Jusuf Kalla, Minggu malam (12/4).

Pertemuan Kalla dengan Yudhoyono tadi malam berlangsung pada saat menguatnya desakan dari internal Golkar agar Kalla mempertanggung jawabkan kekalahan partai beringin pada pemilu legislatif.

Mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, misalnya, menuntut Kalla bertanggung jawab atas jebloknya perolehan suara Golkar dalam pemilu 9 April lalu. “Harus dijelaskan kenapa kalah,” kata Akbar.

Pada Pemilu 2004, Golkar mengumpulkan 21 persen suara. Sedangkan pada hasil penghitungan sementara saat ini, Golkar hanya mengumpulkan sekitar 14 persen suara.

Sejumlah fungsionaris Golkar bahkan mengusulkan digelarnya musyawarah nasional luar biasa untuk merespons kegagalan ini. Marzuki Darusman, misalnya, mendesak Kalla menyerahkan kewenangannya di Golkar kepada wakil ketua umum partai. “Kekalahan ini terjadi karena ia tidak fokus memimpin partai.”

Menurut Marzuki, ada banyak masalah di lingkup internal Golkar yang tidak bisa diurus Kalla sambil merangkap jabatan sebagai wakil presiden. Pendapat senada juga dikatakan oleh Suhardiman, Ketua Dewan Penasihat Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia, salah satu organisasi pendiri Golkar. "Memimpin Golkar saja kalah, apalagi memimpin negara."

Marzuki menambahkan, ada tiga pendapat yang berkembang di Golkar setelah pemilu legislatif. Pertama, tetap mengajukan Kalla sebagai calon presiden sesuai dengan ketetapan rapat pimpinan Oktober lalu. Kedua, melanjutkan kepemimpinan pasangan Yudhoyono-Kalla. Dan ketiga, Golkar akan menyerahkan daftar nama orang-orang yang diusulkan untuk mendampingi Yudhoyono. "SBY nanti yang memilih sendiri siapa yang akan menjadi wakilnya.”

Kemarin, Kalla menyatakan siap dimintai pertanggungjawaban atas anjloknya perolehan suara partainya dalam pemilihan umum legislatif. Pertanggungjawaban itu akan disampaikan dalam musyawarah nasional partai berlambang beringin itu pada akhir tahun.

Pernyataan Kalla itu disampaikan melalui Idrus Marham, politikus Golkar yang menemui Kalla di kantor wakil presiden. “Ketua Umum akan menyampaikan pencapaian dan apa yang belum dicapai berikut faktor-faktor yang mempengaruhi," kata Idrus.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono mengatakan keputusan Golkar untuk mengajukan calon presiden atau tidak baru akan ditetapkan dalam rapat pimpinan khusus pada 23 April mendatang. Dalam forum itu pula arah koalisi akan dibahas.

l NININ | KURNIASIH | EKO ARI | NININ PD | NIEKE I | TOMI A | JAJANG

Berita Terkait:

* Pertemuan Kalla- Yudhoyono Berlangsung Singkat
* Jika Demokrat-Golkar Berkoalisi, PKS Ancam Keluar

  • Send
  • Print