foto



Pesawat Jatuh Lagi, TNI Perlu Audit Terbuka Soal Alutsita  

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Agung Laksono, meminta Tentara Nasional Indonesia terbuka dalam audit anggaran perawatan alat utama sistem senjata TNI. "TNI harus terbuka kepada media dalam audit," kata Agung di gedung MPR/DPR, Jumat (12/6).

Pernyataan Agung Laksono ini untuk menanggapi jatuhnya kembali pesawat TNI milik angkatan udara di lapangan udara Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (12/6) siang.

Seperti diketahui, sebuah helikopter jenis Puma dengan nomor penerbangan H 3306 yang merupakan salah satu bagian dari skuadron 8 Atang Sendjaja, hari Jumat (12/6), jatuh di lokasi komplek markasnya sendiri Lapangan Udara Atang Sanjaya. Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Bambang Sulistyo, pesawat ini sedang melakukan flight test (uji terbang) setelah menjalani perbaikan di bengkel skuadron. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti dari kecelakaan pesawat buatan Rusia tahun 1980 ini.

Empat personil prajurit TNI angkatan udara tewas dalam kecelakaan ini, dan 3 lainnya saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Atang Sendjaja. Diantara yang tewas termasuk pilot pesawat Mayor Penerbang Sodik Fernani, kopilot Letnan Satu Wisnu, dan dua orang bintara teknisi pesawat yaitu Sersan Kepala Dodi Herli dan Sersan Kepala Catur.

Ditempat terpisah, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar ketika dimintai komentar atas terjadinya kecelakaan ini, meminta departemen pertahanan untuk segera menyelidiki penyebab kejadian ini dan mengumumkan hasil penyelidikannya ke publik. "Apapun penyebabnya, baik karena cuaca, teknis, maupun faktor manusia, tetap harus diumumkan," ujar Muhaimin Iskandar, Jumat (12/6).

Kecelakaan ini membuat prihatin semua pihak, karena belum sepekan, telah terjadi dua kali kecelakaan pesawat militer.

Pada awal pekan ini, Senin (8/6), sebuah helikopter milik TNI angkatan darat jenis Bolkow 105, juga jatuh dikawasan latihan militer di perbukitan Rawa Beber, Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kecelakaan ini diduga kuat akibat cuaca buruk di lokasi kejadian, karena selama seharian hujan terus di lokasi kejadian. Kecelakaan ini membuat prihatin semua orang. Tiga orang prajurit TNI angkatan darat tewas dalam kecelakaan, sedang 2 lainnya mengalami luka. Diantara prajurit yang tewas adalah Komandan  Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus Kolonel Inf. Ricky Samuel, Kepala Seksi Operasi Kapten Inf. Agung Gunanto, dan Letnan Satu Yuli Sasongko.

Menurut Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono, pemerintah harus segera melakukan audit sistem pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem senjata (Alutsita) yang dimilikinya, agar kejadian-kejadian serupa tidak terulang lagi. "Bisa dilakukan secara bertahap, namun menyeluruh," kata Agung Laksono, Jumat (12/6). Dalam audit ditentukan mana peralatan yang layak dan yang sudah tidak layak.

Agung Laksono mengakui kecilnya anggaran pertahanan merupakan salah satu faktor dalam lemahnya perawatan alutsita yang dimiliki TNI. "Tapi jangan anggaran digunakan sebagai alasan (terjadinya kecelakaan)," ujar Agung. Penghematan memang bisa dilakukan, tetapi sektor yang penting tidak boleh diabaikan, sehingga kemungkinan terjadinya musibah bisa diminimalisir.

Bulan lalu, Rabu 20 Mei 2009, sebuah pesawat angkut jenis Hercules C-130 milik TNI angkatan udara dengan nomor registrasi A1325 juga jatuh di lokasi Lapangan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur. Pesawat yang sebelumnya berangkat dari bandara militer Halim Perdana Kusumah, Jakarta, itu jatuh di lokasi Lapangan Udara Iswahyudi, yang merupakan lapangan terbang khusus militer.  Sekitar 100 orang penumpang tewas dalam kecelakaan ini, dimana mayoritas para korban merupakan para prajurit TNI angkatan udara dan beberapa anggota keluarganya.

Kecelakaan Hercules ini, merupakan salah satu kejadian kecelakaan pesawat yang besar, yang mendapat perhatian tidak saja dari media-media nasional, tetapi juga menjadi sorotan dari media-media internasional.

Kecelakaan ini menambah derita panjang jajaran TNI angkatan udara dalam tiga bulan terakhir, karena sebulan sebelumnya, tepatnya pada tanggal 6 April 2009, sebuah pesawat jenis Fokker 27 milik TNI angkatan udara juga jatuh menimpa hanggar PT Dirgantara, di lapangan udara Hussein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Pesawat latih itu membawa 25 personil pasukan khas TNI angkatan udara (Paskhas) yang semuanya tewas dalam kecelakaan tersebut. Diduga, cuaca buruk yang menjadi penyebab utama dari kecelakaan pesawat latih ini.

Menurut Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Muhaimin Iskandar, departemen pertahanan perlu mengaudit kembali secara ketat, semua alat utama sistem persenjataan TNI untuk mengurangi resiko kecelakaan terjadi kembali. "Audit kurang ketat (selama ini)," ujar Muhaimin, Jumat (12/6), yang tengah berada di Malang, Jawa Timur, untuk mengikuti kampanye presiden dari pasangan SBY-Boediono.

Menurut Muhaimin, jika audit dilakukan secara ketat akan diketahui kekuatan alutsita yang sebenarnya yang dimiliki Indonesia, dan departemen pertahanan bisa menggunakan hasil audit itu untuk memperbaiki standard operasi. Hasil audit diharapkan juga diumumkan ke publik, agar publik tahu gambaran potensi kekuatan TNI, dan kenapa banyak kecelakaan pesawat terjadi akhir-akhir ini.

Sedangkan Agung Laksono mengaku prihatin dengan berbagai kecelakaan pesawat militer yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini. "Pesawat yang berusia tua harus dirawat secara baik. Standar perawatan tidak boleh ada yang dilewati. Harus dipenuhi secara utuh, termasuk human error harus dicegah," kata Agung di Jakarta.

"Jangan sampai kecelakaan dua kali dalam seminggu ini terjadi lagi," ujar Agung Laksono, Jumat (12/6).

WAHYUANA/DEFFAN PURNAMA/BIBIN BINTARIADI/EKO ARI WIBOWO

  • Send
  • Print