Bidan Yani Menculik Bayi Karena Keguguran  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tersangka penculik bayi ke Puskesmas Kembangan, Suryani Indah Sari, pernah hamil kemudian keguguran tapi tidak memberi tahu siapapun jika keguguran. Bidan berusia 25 tahun ini malah menculik bayi dan mengatakan baru saja melahirkan.

Bidan Yani, demikian ia biasa dipanggil, keguguran Agustus silam. Keguguran begitu memberatkan Yani. Selain ia sudah tiga tahun menikah dan belum memiliki anak, menurut Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar A Kamil Razak, Bidan Yani juga divonis sulit mendapatkan anak kembali.

Hal ini membuat Bidan Yani tidak memberi tahu siapapun bahwa ia keguguran. tidak kepada suaminya, tidak kepada keluarganya, tidak pula kepada tetangga.   Tetangga tentu saja agak heran melihat perut Yani yang kecil meskipun dibilang hamil.

Ia malah mengambil cuti hampir tiga bulan, seperti lazimnya mereka yang hendak melahirkan, mulai 22 Desember hingga 1 Maret 2010.

Seorang tetangga, Siti Rohmah, mengaku pernah iseng bertanya soal ini. "Bidan Yani kan sedang hamil, kok perutnya kecil?" Waktu itu, tutur Rohmah, Yani menjawab bahwa meski sudah bulannya--hamil bulan ke sembilan-- perutnya memang kecil, yang besar payudara.

Karena Yani seorang bidan, dan kadang memberi obat ini dan itu kepada tetangga yang sakit, Rohmah tentu saja tidak berani mendebat soal kehamilan.

Rupanya "kebohongan" Bidan Yani bahwa ia masih hamil diteruskan dengan kenekatan pada Jumat (8/1). Bidan Yani naik ojek dari rumahnya di Kelurahan Gondrong, Cipondoh, Tangerang, menuju Puskesmas Kembangan, Jakarta Barat, yang berjarak beberapa kilometer, tempatnya bekerja sebagai tenaga honorer sejak satu setengah tahun silam. Ojek itu diminta menunggu di halaman Puskesmas.

Ia tidak masuk lewat pintu depan ruang perawatan tapi lewat pintu darurat. Ia sempat bertemu perawat Puskesmas, Heni. Kepada perawat, ia mengatakan hanya main-main saja ke Puskesmas. Tidak lupa ia mengatakan, "Saya sudah lahiran," katanya seperti dikutip Kamil.

Bidan Yani langsung menuju Ruang Cempaka. Ia langsung mengincar bayi yang dilahirkan Evianti dan akan diambil. Kepada Evianti,  ia mengaku akan memeriksa.

Usaha pertama ini gagal karena Evianti mengatakan anaknya sudah diperiksa. Menurut Komisaris Besar Razak, ia kemudian memindahkan sasaran ke ruang sebelah yang hanya dibatasi tirai.

Di sana ada Murtanti, adiknya Tari, serta bayi yang baru beberapa jam dilahirkan. Ia kembali mengatakan akan memeriksa bayi itu. "(Bidan Yani ) bilang kepada adik korban dan korban yang masih terkulai lemah di atas tempat tidur," ungkap Kamil dalam SMS  yang ia kirim kepada Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi.

Tari tentu saja menyerahkan bayi itu kepada Bidan Yani karena ia yakin bahwa Yani memang perawat Puskesmas itu.

Begitu bayi itu didapat, Bidan Yani segera keluar lewat pintu darurat kembali, naik ojek yang menunggu, dan mereka meluncur ke jalan besar Kembangan. "Kemudian pelaku lanjut naik taksi ke rumahnya di daerah Tangerang," kata Kamil.

Bayi itu tiba di rumah Bidan Yani sekitar pukul 20.00 WIB. Tetangga cukup heran dengan kedatangan Bidan Yani, bayinya, serta tas perlengkapan bayi. "Saya kaget, kok Bidan Yani sudah melahirkan, gendong bayi, tanpa didampingi suaminya," kata Rohmah, yang melihatnya dari lantai dua rumahnya.

Para tetangga kemudian tahu bahwa Bidan Yani memiliki anak bernama Arka Rahman. "Saya tahu namanya itu, karena ada tulisan nama bayi pada kertas di rumahnya," salah satu tetangga lain, Etty.

Yang agak aneh bagi tetangga, adalah sikap suami Bidan Yani pada pagi harinya. Rohmah mendengar suami Yani, Arif Rahman Hakim, sopir Puskesmas Kalideres yang juga sopir klinik di perumahan Citra, sedih dan menangis padahal baru punya anak. "Suaminya nangis, kok istrinya melahirkan tanpa memberitahu dirinya," kata Rohmah.

Belakangan, kepada polisi, Bidan Yani mengatakan bahwa di malam itu ia mengatakan kepada suami dan keluarganya bahwa ia baru saja melahirkan.

Tetangga pun cukup senang dengan kehadiran anak bidan yang sering membantu mengobati atau memberi suntik KB bagi para tetangga. Enisa Toni, tetangga, mengaku sudah menjenguk bayi si bidan. Linah, tetangga lainnya, malahan mengaku sudah menggendong dan memuji kemontokan si bayi.

Selain tetangga, sejawat Bidan Yani di Puskesmas Kembangan pun akhirnya memutuskan menengok bayi yang dilahirkan. Bidan Yani memberi tahu bahwa ia melahirkan pada Jumat (8/1)--hari ketika Puskesmas Kembangan menjadi pusat pemberitaan nasional karena ada bayi yang diculik--lewat SMS.

Dua pegawai Puskesmas, Bidan Atun dan Lestari, akhirnya menjenguk Bidan ke rumahnya pada Rabu (13/1). Atun itu bidan yang membantu melahirkan bayi yang hilang diculik di Puskesmas.

Saat menengok, Bidan Atun kaget melihat  bayi yang disebut anak Bidan itu mirip dengan bayi ia bantu melahirkan dan hilang. "Bayinya sama yang dilahirkan sama yang ditolong, karena dia yang membantu proses kelahiran," kata Kepala Puskesmas Kembangan, Dara Pahlarini. Atun melihat kuping bayi yang bentuknya khas.

Atun pun melaporkan ke Kepolisian Sektor Kembangan yang langsung menuju kediaman tersangka di Cipondoh Tangerang. Mereka menangkap Bidan Yani pada Kamis (14/1) sekitar pukul 01.00 WIB. "Kemudian bayi, bersama tersangka, dibawa ke Puskesmas Kembangan," kata Dara.

Selanjutnya, pihak puskesmas melakukan sidik telapak kaki bayi dan tes darah, Hasilnya, kata Dara, "Persis, sama (dengan bayi yang hilang)."

Puskesmas juga melakukan otopsi verbal terhadap Bidan. "Ternyata dia tidak ada bekas melahirkan dalam waktu dekat," ujarnya lagi.

AYU CIPTA/SHOLLA TAUFIQ/DANANG WIBOWO/KURNIASIH BUDI

 

 

  • Send
  • Print