Pengunjuk rasa dari elemen mahasiswa dan ormas di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (29/1). Mereka mengkritisi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono yang masih belum memuaskan terutama dalam pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Tempo/Arie Basuki
Berita Terkait
Presiden Himbau Jangan Kondisi Kembali Seperti 1998
TEMPO Interaktif, Jakarta -Berbagai aksi unjuk rasa digelar di seluruh Indonesia. Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para pengunjukrasa menggunakan cara-cara yang tertib, sesuai dengan nilai-nilai budaya dan peradaban bangsa.
"Itulah yang kita harapkan," katanya di Pandeglang, Banten untuk meresmikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Labuan. Kamis (28/1). "Jangan merusak, jangan membakar, jangan membikin korban, jangan menduduki paksa."
Kalau itu terjadi, lanjut Yudhoyono, Jakarta bisa kembali seperti saat kerusuhan pada 1998. "Negara kita bisa mundur, rakyat kita susah, ekonomi lumpuh, apa harus begitu?," katanya.
Di ujung barat Indonesia, aksi unjuk rasa digelar dengan tertib. Para pengunjuk di Lhokseumawe yang tergabung dalam forum komunikasi mahasiswa mengatakan, hingga saat ini berbagai penyimpangan beberapa kasus tak terselesaikan, seperti kasus Century.
Hal itu dinilainya akibat moral kedua lembaga, polisi dan kejaksaan di ragukan kredibilitasnya. ”Indikasi penyimpangan sebenarnya banyak terjadi di dua lembaga ini, tapi sulit diakses masyarakat karena mereka lembaga penegak hukum. Ternyata fenomena selama ini, disanalah yang banyak masalah,” ujar koordinator aksi, Rahmat.
Para pengunjuk rasa menggelar aksinya di Bundaran Simpang Jam Lhokseumawe. Sebelum aksi, pihak kepolisian mengingatkan mahasiswa untuk tidak membakar gambar Presiden SBY.
Sebaliknya di kawasan timur, yakni di Makassar dicederai oleh aksi sejumlah mahasiswa yang melakukan pembakaran ban bekas ditengah jalan hingga pelemparan kantor PT Perkebunan Nusantara XIV di Jalan Urip Sumoharjo.
Ratusan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Alauddin dan Universitas Negeri Makassar membakar dua ban bekas jembatan layang Makassar.
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Inspektur Adang Rochjana yang menyaksikan aksi itu terlihat tenang sambil memegang tasbih di tangan kanannya, dengan mulut yang berkomat kamit. Adang memperkirakan massa yang melakukan aksi hari ini di Makassar dan sekitarnya, sekitar 2.000 hingga 3.000 orang.
Menurutnya pihaknya hanya mengamankan aksi mahasiswa yang ingin menyalurkan aspirasinya. "Di Makassar tidak ada jalur yang kami tutup, semua aksi berlangsung aman," katanya.
GUNANTO ES | IMRAN MA | ARDIANSYAH
Web via