foto

Aburizal Bakrie. TEMPO/Imam Sukamto



Aburizal Terganjal Popularitas

TEMPO Interaktif, Jakarta -  Peluang Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie bakal terganjal popularitas bila mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014. Pria yang akrab disapa Ical ini dinilai tak memiliki faktor ketokohan yang kuat untuk maju sebagai calon presiden.

"Popularitasnya parah," kata pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, kemarin.

Burhanuddin mengatakan popularitas sangat penting dalam tahapan pencalonan. Menurut dia, untuk menjadi calon saja seseorang harus memiliki tingkat popularitas 60 persen. Menurut catatan LSI, tingkat popularitas Ical masih di bawah 60 persen.

Berdasarkan survei LSI, hingga saat ini hanya ada dua tokoh yang memiliki tingkat popularitas di atas 60 persen. "Hanya SBY dan Megawati yang di atas 60 persen, lainnya parah," ujar Burhanuddin.

Namun, kata dia, orang yang popularitasnya tinggi belum tentu akan terpilih sebagai presiden. Popularitas hanya menunjukkan orang kenal atau tidak kepada figur tersebut. Selain populer, seorang calon presiden harus disukai pemilih. "Untuk menjadi calon kuat, dia harus disukai 80 sampai 90 persen orang yang mengenalnya," kata dia.

Untuk mendongkrak popularitas dan agar disukai pemilih, menurut Burhanuddin, Ical harus mampu menyelesaikan berbagai kasus. Sebab, kata dia, Ical kerap dikaitkan dengan sejumlah perusahaannya yang bermasalah, seperti kasus lumpur Lapindo dan kasus pajak tiga perusahaan Grup Bakrie yang dibongkar Gayus Halomoan Tambunan.

Ical mengakui hingga kini Partai Golkar belum memutuskan calon presiden untuk 2014. Ical membantah pemberitaan bahwa dia dicalonkan menjadi presiden pada pemilihan presiden mendatang. (Baca: Aburizal Dituding Incar Kursi Presiden)

"Saya kira itu tidak benar. Golkar hingga saat ini belum memutuskan siapa calon presiden untuk 2014," ujar Ical sebelum membuka Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, kemarin.

Menurut Ical, calon presiden dari Golkar dipilih melalui mekanisme yang sama dengan calon bupati dan calon gubernur. "Kita lihat pada waktunya nanti siapa yang populer, siapa yang dikehendaki rakyat," kata Ical.

Ical mengatakan tak tertutup kemungkinan calon presiden dari Golkar bukan ketua umum partai berlambang pohon beringin tersebut.

Menanggapi isu reshuffle kabinet menjelang setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dia mengatakan Golkar akan ikhlas bila menterinya diganti. "Nanti kami ganti yang lain dari Golkar juga," tutur Ical.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu I ini mengatakan tidak akan membuat evaluasi atas kinerja menterinya di Kabinet Indonesia Bersatu II. Evaluasi kinerja menteri, kata dia, adalah hak presiden. "Tanya Presiden, dong. Kami mana ngerti," ucapnya.

FEBRIYAN | DIANING SARI | SAPTO Y


BERITA TERKAIT:

Aburizal Dituding Incar Kursi Presiden

Aburizal Geser Peran Boediono

Aburizal Berwenang Panggil Menteri

  • Send
  • Print