foto

Wikileaks. REUTERS/Valentin Flauraud



Wikileaks Menolak Menyerah

 
"Dia bukan jurnalis. Dia bukan whistleblower. Dia seorang aktor politik. Dia seorang anarkis." 

KALIMAT itu diucapkan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, PJ Crowley pada Jumat pekan lalu. Dia yang dimaksud Crowley adalah Julian Assange, jurnalis Australia yang mendirikan situs pembocor dokumen rahasia, Wikileaks.  
 
 
 
Julian Assange dan situsnya, Wikileaks membuat geram pemerintah Amerika  Serikat. Setelah membocorkan dokumen rahasia soal perang Irak dan Afghanistan Oktober lalu, Assange pada 28 November mulai membocorkan kawat diplomatik yang berisi laporan para diplomat di kantor perwakilan pemeritah Amerika Serikat di seluruh negara. Wikileaks pun mengguncang dunia.  

Jumlah kawat diplomatik yang dimiliki Wikileaks juga tak tanggung-tanggung, ada 251.187 dokumen yang akan dibocorkan. Kawat diplomatik tersebut bertanggal sejak 28 Desember 1966 hingga 28 Februari 2010. 

Dalam kawat diplomatik ini terungkap banyak hal. Dari mulai Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengejar kelinci anaknya, Pemimpin Junta Militer Burma Than Shwe ingin membeli klub sepakbola Inggris Manchester United, pemerintah Inggris yang takut dengan ancaman pemimpin Libya, Muammar Ghadaffi sampai peretasan Google oleh pemerintah Cina.  

Jaksa Agung Amerika Serikat Eric Holder pun bereaksi. Dia mengatakan pemerintah Amerika sedang aktif dalam penyelidikan kriminal terkait WikiLeaks. Namun sebelum pemerintah Amerika Serikat kebakaran jenggot. Pemerintah Swedia telah lebih dulu mengeluarkan surat penahanan atas Julian Assange. Dia dituduh melakukan kekerasan seksual. 

Di London, kemarin, Assange akhirnya ditangkap.  Dia kini mendekam di penjara pria Wandsworth. Assange bersumpah akan terus melawan penahanan dirinya. Dia menolak untuk diekstradisi ke Swedia. 

Namun, pada Selasa kemarin,  Hakim Inggris tetap menahan Julian Assange, pendiri Wikileaks meski ia memberikan jaminan ke pengadilan setempat, Selasa (7/12). Hakim Howard Riddle mengatakan, Assange akan tetap dipenjara dan akan disidang lagi pekan depan untuk menentukan rencana ekstradisi Assange ke Swedia.  

Anak Julian Assange, pendiri Wikileaks, Daniel Assange yang bermukim di Melbourne, Australia angkat bicara mengenai penahanan ayahnya. Dia meminta ayahnya diperlakukan secara adil dan dilepaskan dari kepentingan politik. "Saya berharap ini bukan langkah awal yang bisa membuat dia diekstradisi ke Amerika Serikat," katanya di situs mikroblogging Twitter. 

Meski Bosnya ditahan, Wikileaks tak gentar. Situs tersebut berjanji akan terus terus mengeluarkan dokumen rahasia yang dimiliki. Lewat akun jejaring sosial Twitter, Wikileaks menulis: "Penahanan bagi pemimpin redaksi kami Julian Assange tidak akan menghentikan kami beroperasi. Kami akan terus mengeluarkan dokumen seperti biasa." 

Sebelum ditahan, harian Australia The Age menurunkan tulisan Assange. Dia meminta pemerintah di seluruh dunia tidak membunuh "sang pembawa pesan". Menurut Assange sebuah masyarakat demokratis membutuhkan media yang kuat dan Wikileaks bagian dari media tersebut. Media ini, kata Assange, terus membantu pemerintah untuk jujur. 

GUARDIAN | TELEGRAPH | HAYATI MAULANA NUR | POERNOMO G RIDHO 

  • Send
  • Print