foto

Demonstrasi anti Mubarak di Malaysia. AP/Vincent Thian



Mubarak Mundur dari Partai

TEMPO Interaktif, Kairo - Tanda-tanda tamatnya karir Presiden Mesir Hosni Mubarak sepertinya semakin dekat. Kemarin malam Mubarak menyatakan mundur dari jabatan ketua Partai Nasional Demokratik, partai yang berkuasa saat ini. Langkah ini diambil setelah dia memastikan tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan umum September mendatang. 

 
 
 
Meski mundur Mubarak tetap menjabat sebagai Presiden Mesir. Mundurnya Mubarak tersebut dilaporkan oleh televisi pemerintah Mesir kemarin malam. Selain Mubarak, anaknya Gamal Mubarak juga mundur dari partai, serta beberapa tokoh kunci lainnya di Partai Nasional Demokratik. 

Sementara itu, demonstran anti-pemerintah masih terus berkumpul di Tahrir Square hingga kemarin. Mereka terus menuntut Mubarak yang telah 30 tahun berkuasa untuk turun dari jabatannya. Mereka tidak akan pergi sebelum Mubarak mundur. 

Selain Mubarak dan anaknya, tokoh kunci partai berkuasa, Safwat El Sherif, yang menjabat Sekretaris Jenderal juga ikut mundur. Dia digantikan Hossam Badrawi. Safwat El Sherif, 77 tahun, selama ini dikenal sebagai tangan kanan Mubarak yang amat berkuasa di parlemen. Sedangkan Badrawi tokoh reformis dari sayap kanan. 

Langkah mundurnya para pimpinan partai ini tidak membuat para demonstran anti-pemerintah bersorak. "Perombakan partai bukan tuntutan kami, ini hanya trik yang dilakukan rezim Mubarak," kata seorang demonstran anti-pemerintah, Bilal Fathi, 22 tahun. 

Hal yang sama juga diungkapkan anggota Ikhwanul Muslimin, Mohammed Habib. "Ini hanya pencitraan partai, tapi ini bukan tujuan revolusi, rombak rezim ini dan turunkan Mubarak," katanya. 

Selama 12 hari terakhir Mesir terus bergolak. Gelombang demonstrasi menuntut Presiden Mesir Hosni Mubarak mundur dari kekuasaannya juga belum surut. Perserikatan Bangsa Bangsa memperkirakan 300 orang tewas, namun menurut Kementerian Kesehatan Mesir ada 11 orang tewas dan 5.000 orang luka-luka. 

Sejumlah pemimpin demonstran Mesir dan partai oposisi kemarin bertemu dengan Perdana Menteri Ahmad Shafiq, membicarakan cara untuk memudahkan Presiden Husni Mubarak mundur. Dalam sebuah skenario diusulkan bagaimana Mubarak menyerahkan kekuasaan segera seperti tuntutan demonstran, tapi “tidak boleh dibuang dengan cara memalukan” seperti diungkapkan para pembantu Mubarak dalam beberapa hari terakhir.

Dalam pembicaraan yang juga melibatkan kelompok elite Mesir yang menyebut diri “kelompok orang-orang bijak” itu, pemimpin 82 tahun tersebut akan “mewakilkan” kekuasaan kepada Wakil Presiden Omar Suleiman--istilah lain untuk mundur. Suleiman kemudian akan melibatkan kelompok oposisi dalam pemerintahan transisi.

Amr el-Shobaki, juru bicara kelompok ini, mengatakan mereka telah bertemu dua kali dalam beberapa hari terakhir dengan Suleiman dan Shafiq. Dalam skenario penyelamatan muka ini Mubarak tetap menjabat presiden secara de jure sampai September mendatang, tapi secara de facto tak lagi berkuasa.

Ketika dimintai konfirmasi soal hasil pertemuan itu, Abdel-Rahman Youssef, seorang aktivis pemuda yang ikut dalam rapat, mengatakan bahwa delegasi pengunjuk rasa memang membahas soal cara-cara keluar dari kebuntuan politik saat ini. Tapi, kata dia kepada Associated Press, itu bukan awal dari negosiasi. 

”Itu adalah pesan untuk melihat cara mengatasi krisis. Pesannya adalah, mereka harus mengakui legitimasi revolusi, dan presiden harus meninggalkan kekuasaan,” katanya.

Di Tahrir Square, seperti dilaporkan wartawan Tempo Qaris Tajudin, puluhan ribu orang tetap turun berdemonstrasi. Mereka menyebut aksi demo hari ke-12 kemarin sebagai ”Hari Solidaritas”. Sedangkan unjuk rasa Jumat lalu mereka sebut ”Hari Kepergian”--meski Mubarak tak kunjung pergi hingga hari ini.

Di Sinai Utara, tak jauh dari Kota Al-Arish, yang berbatasan dengan Gaza Palestina, terjadi ledakan besar jalur pipa gas kemarin pagi. Stasiun TV pemerintah, mengutip seorang pejabat, menyebutkan bahwa situasinya sangat berbahaya. Ledakan itu berlanjut dari satu titik ke titik lain. Jalur itu, kata sumber aparat keamanan di Sinai Utara, adalah pipa gas yang bercabang ke Yordania, bukan yang menuju Israel.

“Ini operasi teroris,” kata seorang reporter TV pemerintah. Tapi, hingga tadi malam, belum ada yang menyatakan bertanggung jawab atas peledakan itu. Sejumlah analis menduga pelaku peledakan ada kemungkinan masyarakat asli Sinai yang selama beberapa tahun ini memprotes keberadaan pipa itu lantaran mereka sama sekali tak dilibatkan.

Gelombang protes antipemerintah selama 12 hari ini telah menggerogoti perekonomian Mesir. Diperkirakan, Mesir merugi Rp 28,2 triliun per hari akibat aksi itu.

Qaris Tajudin (Kairo) | YR (AP, Al Jazeera, BBC) | Poernomo G. Ridho (ABC, Reuters) 




  • Send
  • Print