foto

Demonstran merayakan pengunduran diri Presiden Mesir Hosni Mubarak di Tahrir Square, Kairo, Mesir (11/2). AP/Khalil Hamra



Mubarak dan Kemiripan Kejatuhan Presiden Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta - Lengsernya Presiden Mesir Husni Mubarak mengingatkan kita akan kejatuhan Soeharto pada 1998. Saat itu, demontsrasi besar-besaran tak hanya digelar di Jakarta tapi juga pelbagai kota lain. Mereka satu suara: Turunkan Soeharto. 

Ini pula yang terjadi di Mesir tiga pekan terakhir ini. Massa terus menekan agar Mubarak turun. Itu harga mati.

Perjuangan para demonstran selama tiga pekan itu akhirnya membuahkan hasil. Jumat (11/2) kemarin, Mubarak benar-benar lengser. Mubarak, seperti diucapkan Wakil Presiden Mesir, Omar Suleiman, telah berketetapan hati meletakkan jabatannya. Selanjutnya, Mubarak menyerahkan tampuk kekuasaannya pada militer. Demonstran pun bersorak riang.

Sesungguhnya lengsernya Mubarak ini sudah diisyaratkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sehari sebelum Mubarak mundur. Saat itu Obama telah memberikan sinyal-sinyal bahwa AS mendukung turunnya Mubarak.

"Kita akan melihat sejarah baru di Mesir," begitu kata Obama, Kamis 10 Februari, sehari sebelum Mubarak lengser.

Keputusan itu tak terlalu mencengangkan, mengingat Amerika Serikat juga sudah mempersiapkan tiga skenario untuk Mesir. Pertama skenario seperti penggulingan Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi. Kedua, skenario seperti lengsernya Soerhato di Indonesia. Ketiga, skenarioa seperti Rumania.

Dari ketiga skenario itu, skenario Indonesia adalah yang paling cocok buat Mesir. Terbukti, Mubarak mundur dan menyerahkan kekuasaannya dengan damai kepada militer. Di Indonesia Soeharto mundur, lalu diserahkan kepada wakil presiden B.J. Habibie.

Pengamat politik internasional Dewi Fortuna Anwar menilai kejatuhan bekas Presiden Mesir Husni Mubarak mirip mantan Presiden Indonesia, Soekarno dan Soeharto.

Dari segi kekuatan rakyat yang menuntut demokratisasi, gerakan massa di Mesir serupa dengan jatuhnya Soeharto di Indonesia pada 1998. "Konteksnya, people power versus pemerintahan yang otoriter," ujarnya saat dihubungi Tempo, Sabtu (12/2).

Namun jika dilihat dari sisi lain, yakni saat tampuk pemerintahan diserahkan pada militer, maka apa yang terjadi di Mesir justru mirip dengan kondisi Indonesia pasca-Soekarno tahun 1966.

Namun, kata Dewi Fortuna, konteks Mesir dan Indonesia soal kekuasaan militer itu berbeda. "Di Mesir, militer tidak terlibat langsung dalam pemerintahan, berbeda dengan dwifungsi ABRI di masa Orde Baru," kata Deputi Sekretariat Wakil Presiden Bidang Politik tersebut.

Karena tak terlibat dalam pemerintahan, kata Dewi, militer masih memiliki kredibilitas di mata rakyat Mesir, sehingga masyarakat tak terlalu cemas ketika kekuasaan dipegang militer. Rakyat justru tidak percaya pada polisi, yang dulu digunakan Mubarak untuk menekan rakyatnya.

Presiden Mubarak, Jumat malam kemarin mundur dari jabatan yang telah didudukinya selama sekitar 30 tahun. Pengunduran diri Mubarak ini disampaikan Wakil Presiden Mesir, Omar Suleiman melalui saluran televisi setempat. Selanjutnya, Mubarak menyerahkan kekuasaannya kepada militer Mesir.

BUNGA M | VOA | BBC

Berita Terkait:

Sharm el-Sheikh, Pilihan Pelarian Mubarak 

Militer dan Demonstran Pun Berpesta 

Mengapa CIA Salah Menginformasikan Pengunduran Diri Mubarak 

Ini Dia Dewan Tertinggi Militer Mesir 

Swiss Bekukan Aset Mubarak 

  • Send
  • Print