Istana Negara, Jakarta, Senin (21/12). TEMPO/Subekti
Berita Terkait
Pecah Perang Survei Presiden 2014
TEMPO.CO, Jakarta - Genderang perang survei terkait pemilihan umum Presiden 2014 telah dimulai. Sejumlah lembaga survei memunculkan tokoh yang berbeda yang diprediksi bakal menjadi RI 1 pasca pemerintahan SBY-Boediono.
Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) merilis hasil survei terbarunya yang menyimpulkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto memiliki peluang terbesar. "Dari 1.318 responden kami, 371 responden atau 28,1 persen memilih Prabowo," kata Toto Sugiarto, penanggung jawab SSS, saat memaparkan surveinya di Four Seasons Hotel, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011.
Berbeda dengan Survei Reform Institute yang menyimpulkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai calon presiden paling populer dengan suara 13, 58 persen, disusul Prabowo Subianto 8,46 persen, Jusuf Kalla 7,06 persen, Hidayat Nur Wahid 5,17 persen, dan Ani Yudhoyono 4,13 persen.
Pengamat politik Tjipta Lesmana meragukan kredibilitas lembaga survei khususnya yang melakukan survei prediksi calon presiden.“Harus dilihat siapa yang melakukan survei dan kepentingannya apa,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Rabu, 26 Oktober 2011.
Tjipta berharap lembaga survei khususnya di bidang politik meniru lembaga survei di negara lain yang kredibilitasnya diakui. Ia mencontohkan Gallup Poll, lembaga milik Gallup Organization di Amerika Serikat. “Mereka menolak suap dari pihak mana pun dan 90 persen dipercaya masyarakat Amerika,” ucap dia.
Menanggapi tuduhan ini, Direktur Pengembangan Reform Institute--salah satu lembaga survei politik--Abdul Hamid membantah jika lembaganya memiliki kepentingan politis tertentu. Lembaga ini mengumumkan hasil survei yang menempatkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden paling populer.
"Kami menjaga jarak dengan partai termasuk Golkar. Kami tidak partisan. Hasil survei memang menunjukkan Aburizal paling populer,” tutur Hamid. Dia juga memastikan dana survei murni diambil dari anggaran yang dimiliki lembaga. “Karena ada sisa dana, kami putuskan survei untuk mengecek perkembangan,” katanya.
ISHOMUDDIN I TRI SUHARMAN
Berita terkait:
- Mahfud Md Lebih Populer dari Sri Mulyani untuk Calon Wapres