foto

Seorang warga menjual bensin botolan di kawasan Petarani, Makassar, Senin (16/1). TEMPO/Iqbal Lubis



Ujung-ujungnya BBM Naik Juga

JAKARTA – Tarik ulur, pembatasan dan kenaikan harga bahan bakar minyak akhirnya berhenti. Perhentian itu bermuara dalam satu frasa,kenaikan harga. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi sudah tak bisa dihindari pemerintah. "Harga BBM, mau tidak mau, harus disesuaikan dengan kenaikan yang tepat,” ujarnya sebelum sidang kabinet di Kantor Kepresidenan, Rabu 22 Februari 2012.

Menurut Yudhoyono, kondisi perekonomian global telah menghadirkan kerawanan dan ketidakpastian. Dampak dari krisis ini telah berdampak secara langsung atau tidak langsung kepada bangsa-bangsa sedunia.

Kondisi ini ditambah dengan memanasnya situasi di Timur Tengah pasca pemberian sanksi kepada Iran oleh Uni Eropa dan Amerika. Pemberian sanksi ini dibalas Iran dengan menghentikan pasokan minyaknya ke Prancis dan Inggris sejak tiga hari lalu. Penghentian ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$ 120 per barel. "Inilah salah satu titik didih yang mengakibatkan sentimen negatif sehingga mengakibatkan harga minyak naik," kata Yudhoyono.

Lonjakan harga minyak ini dipastikan bakal menambah beban subsidi BBM. Tahun ini saja pemerintah menganggarkan subsidi BBM sebesar Rp 123 triliun dengan asumsi harga minyak US$ 90 per barel. Diperkirakan subsidi bakal membengkak melebihi tahun lalu sebesar Rp 165 triliun jika tak ada kenaikan harga BBM.

Untuk mengatasinya, kata Yudhoyono, pemerintah akan mempercepat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P). “APBN-P untuk membuat asumsi yang realistis sesuai dengan keadaan, termasuk kebijakan subsidi dan kebijakan tentang BBM dan tarif dasar listrik.”

Kenaikan harga BBM akan diikuti dengan pemberian bantuan langsung kepada masyarakat miskin. Bentuk bantuan yang diberikan masih harus dibahas dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Harapannya ini merupakan solusi untuk penyelamatan dan pengamanan ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, dia meminta kementerian/lembaga pemerintah untuk menghitung ulang anggaran pada tahun ini. "Mau tidak mau anggaran kementerian/ lembaga harus dikurangi," ujarnya. Pengurangan anggaran bisa dilakukan untuk proyek-proyek seperti belanja gedung dan belanja operasional.

Langkah pemotongan belanja anggaran juga diungkapkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Pemotongan bertujuan untuk menjaga defisit anggaran tetap sebesar 1,5 persen. Sebab, jika defisit anggaran terlalu besar hanya akan menambah utang. “Dan ini hanya akan memberatkan anggaran.”

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widjajono Partowidagdo, menyatakan, kenaikan harga BBM menjadi pilihan pemerintah untuk menekan subsidi. "Usulan kenaikan mulai dari naik Rp 500 sampai Rp 1.500 per liter," ujarnya kemarin. Namun, besaran kenaikan, kata dia, masih harus mendapat persetujuan DPR.

Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR, Harry Azhar Azis, mengusulkan, kenaikan harga bahan bakar minyak jenis premium dan solar berkisar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per liter. “Jadi kalau ada kenaikan harga minyak dunia, tidak perlu heboh, fiskal tetap aman,” ujarnya.

Asumsi harga minyak mentah Indonesia, kata dia, akan diubah dari US$ 90 menjadi US$ 110 sampai US$ 115 per barel. Perubahan asumsi ini bakal menghemat subsidi sampai 40 persen.

Harry mengusulkan, pemerintah mengajukan APBN-P pada awal Maret sehingga pada akhir Maret bisa diputuskan. Harry mengingatkan jika pemerintah tidak mempercepat pengajuan, maka pembahasan bisa dilakukan awal Mei mendatang. Alasannya, mulai 5 April Dewan akan reses.

EZTHER LASTANIA | AKBAR TRI KURNIAWAN | GUSTIDHA BUDIARTIE

Subsidi BBM Membengkak, Pemerintah Pangkas Belanja

Krisis Iran Picu Kenaikan Harga BBM
 

Naikkan Harga Premium, Menteri Harus Sowan ke DPR

Menteri Agus Lega Presiden Isyaratkan Kenaikan BBM

 

  • Send
  • Print