Cina Sebagai Negara Adidaya
Senin, 18 Oktober 2010 | 10:00 WIB
TEMPO Interaktif, Dengan keberhasilan pembangunan yang dicapainya secara cepat, tidak diragukan lagi Republik Rakyat Cina bakal menjadi salah satu kekuatan global yang dominan pada abad ke-21 ini. Kendati dihadapkan pada persoalan-persoalan yang massif, negara ini bisa muncul bahkan sebagai kekuatan global yang sebenarnya. Salah besar jika dikatakan bahwa munculnya apa yang dinamakan “negara ukuran XXL”, seperti Cina dan India, bakal berkembang menurut tradisi Barat. Kita akan berhadapan dengan tipe adidaya (superpower) yang berbeda.
Sejak pelaut-pelaut Eropa mengarungi samudra pada akhir abad ke-15 untuk menaklukkan dunia, historiografi dan politik internasional sudah terbiasa dengan suatu pola tertentu: kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi diterjemahkan menjadi alat mempengaruhi dan menaklukkan bangsa-bangsa lain, serta mendominasi dan membentuk emporium skala global. Pola yang sama berlaku pada abad ke-20 ketika, setelah pecahnya dua perang dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet menggantikan kedudukan negara-negara besar Eropa di panggung global. Perang Dingin dan masa dominasi global AS setelah 1989/1990 juga mengikuti pola ini.
Tapi kebangkitan Cina sebagai kekuatan global, saya yakin, tidak akan mengikuti pola yang sama, karena besarnya jumlah penduduk yang massif sebanyak 1,2 miliar orang, yang akan menjadi beban berat bagi sistem pemerintahan serta para pengambil keputusan di negara mana pun. Ini berlaku terutama pada waktu-waktu perubahan mendasar yang cepat, seperti yang terjadi di Cina sekarang. Bahaya beban yang harus dipikul struktur politik internal negara itu tidak memungkinkan adanya peran kebijakan luar negeri yang menuju pembentukan suatu imperium. Sepanjang gambaran ini benar, Amerika Serikat tidak akan tergantikan kedudukannya sebagai negara besar yang dominan kecuali dan sampai ia melepaskan peran itu. Mungkin terdengar sederhana, tapi ia bakal membawa konsekuensi yang menjangkau jauh bagi tatanan internasional di abad yang akan datang.
Kepentingan vital yang mendasari kebijakan Cina adalah modernisasi internal, stabilitas politik, dan kelanjutan eksistensi rezim yang berkuasa serta kesatuan negara (termasuk Taiwan). Kepentingan-kepentingan in tidak mungkin berubah dalam waktu dekat.
Walhasil, Cina bakal menjadi suatu superpower yang pada dasarnya inward looking (melihat ke dalam), yang--persis karena alasan itu--bakal menjalankan kebijakan luar negeri yang sifatnya sama sekali tidak sentimental. Secara militer, Cina akan berfokus terutama pada supremasi regional, karena kesatuan negara itu bergantung pada supremasi di kawasan ini. Tapi, jika tidak, transformasi ekonomi dan masyarakat Cina bakal menjadi mahapenting karena stabilitas rezim ini bergantung pada transformasi ini.
Bagi para pemimpin Cina, ini berarti mutlak diperlukan laju pertumbuhan sekitar 10 persen per tahun dalam jangka waktu panjang. Jika tidak, transformasi yang cepat dan mendasar negeri ini dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri yang ultramodern tidak bisa berjalan tanpa mengguncang stabilitas sistem yang ada. Tapi fokus pada pertumbuhan internal ini bakal membawa konsekuensi politik yang massif, baik di dalam negeri maupun dalam kebijakan luar negeri. Di dalam negeri, Cina bakal menjadi negara pertama yang, karena besarnya dan perlunya keseimbangan pertumbuhan PDB-nya, harus menempuh jalan ekonomi ”hijau.” Jika tidak, Cina bakal dengan cepat tiba pada “batas pertumbuhan” dengan konsekuensi ekologi yang berat dan, akibatnya, konsekuensi di bidang politik.
Karena Cina bakal menjadi pasar paling penting di masa depan, maka yang bakal menentukan bukan hanya apa yang kita produksi dan konsumsi, tapi juga bagaimana melakukan hal ini. Bayangkan transisi dari mobil tradisional ke mobil listrik. Meskipun Eropa berilusi sebaliknya, transisi ini bakal ditentukan di Cina, bukan di Barat. Apa yang bakal ditentukan oleh industri mobil Eropa yang dominan di dunia adalah apakah ia akan beradaptasi dan punya peluang bertahan (survive) atau mengalami nasib yang sama seperti industri-industri tua Barat lainnya: berpindah ke negara-negara berkembang.
Dalam kebijakan luar negeri, Cina akan berupaya melindungi transformasi di dalam negerinya dengan menjamin pasokan sumber daya yang dibutuhkannya serta akses ke pasar internasional. Namun, cepat atau lambat, Cina bakal menyadari bahwa peran Amerika sebagai regulator global mutlak perlu bagi kepentingan kebijakan luar negeri Cina yang vital--karena Cina tidak mampu memegang peran itu lantaran tidak adanya pemain-pemain global lainnya, dan karena satu-satunya alternatif selain dari AS adalah ambruknya tatanan yang ada.
Sejoli AS-Cina bakal berlangsung jauh dari mulus, dan tidak bakal banyak meredakan krisis-krisis dan masa-masa konfrontasi ekonomi dan politik yang serius, seperti konfrontasi yang saat ini berkembang menyangkut ketidakseimbangan perdagangan. Namun, secara strategis, Cina dan AS bakal terpaksa harus bergantung satu sama lain untuk waktu yang lama. Saling ketergantungan ini, pada satu titik, juga bakal mengambil bentuk politik yang mungkin disesalkan semua pemain internasional lainnya, terutama negara-negara Eropa.
Eropa bisa mengubah arah perkembangan ini hanya jika ia menampilkan diri sebagai pemain yang serius dan berdiri teguh mempertahankan kepentingannya di panggung global. “G-2” Cina dan AS ini mungkin akan menyambut gembira hal itu. Tapi Eropa terlalu lemah dan terlalu terpecah-belah untuk bisa bekerja efektif secara global, dengan para pemimpinnya yang tidak bersedia menjalankan kebijakan bersama menurut kepentingan strategisnya masing-masing. *
Hak Cipta: Project Syndicate/Institute of Human Sciences, 2010.