indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Musibah Tanah Longsor di Mojokerto


TEMPO Interaktif, Mojokerto:Sedikitnya 21 orang tewas dalam musibah tanah longsor yang terjadi di kawasan wisata Pemandian Air Panas di Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Mojokerto Jawa Timur, Rabu (11/12). Pemandian Air Panas itu sendiri terletak di lereng Gunung Welirang yang gundul. Musibah yang terjadi sekitar pukul 15.30 tersebut sontak membuat kalang kabut ratusan pengunjung yang memadati kawasan wisata tersebut. Suasana gembira dalam sekejap berubah menjadi lolongan kengerian.
Budi Joko, salah seorang pengunjung asal Surabaya mengisahkan, saat itu ia melihat ada sekitar 25 orang yang sedang mandi di pemandian tersebut. Ratusan orang lainnya berada di sekitar pemandian. Budi lantas mengajak anaknya menuju warung makan untuk beristirahat. Sepuluh menit kemudian ia mendengar suara gemuruh yang disusul longsornya tanah disertai potongan kayu-kayu gelondongan dari atas gunung. Longsoran itu menimbun lokasi pemandian hingga airnya berubah menjadi hitam pekat. Tanah longsor juga menghempaskan para pengunjung lainnya hingga ratusan meter.

Akibatnya, ratusan pengunjung diduga terkubur dan terseret dalam longsoran tersebut. Menurut Kapolsek Pacet, Iptu Zaenal Reo Candra, ada 4 korban meninggal di lokasi pemandian dan 11 lainnya ditemukan telah terseret arus hingga 30 Meter. Kondisi mayat yang sebagian anak kecil dan ibu-ibu itu rata-rata sulit dikenali karena terbungkus lumpur. Selain itu ada mayat yang organ tubuhnya patah-patah dan hancur. Korban-korban tersebut dilarikan ke Puskesmas Pacet. Korban selamat dibawa ke Rumah Sakit Sumberglagah dan Rumah Sakit Umum Mojokerto. Pasca musibah tersebut, lokasi wisata ditutup untuk sementara waktu.

Bambang, dokter di Puskesmas Pacet kepada Tempo News Room mengatakan bahwa sampai pukul 19.45 ada 21 mayat telah dievakuasi ke Puskesmas. Mayat-mayat itu dijajar di teras puskesmas karena terbatasnya tempat. "Sebelas diantaranya telah berhasil diidentifikasi," katanya. Menurutnya, jumlah korban meninggal diperkirakan akan terus bertambah mengingat masih banyak yang tertimbun lumpur dan belum berhasil dievakuasi. Sulitnya medan dan situasi yang sudah gelap membuat proses evakuasi yang dilakukan oleh tim Satkorlak Mojokerto terhambat. "Peralatan terbatas, medannya sulit dijangkau. Apalagi terhalang malam," kata Bambang.

Kepala Bagian Humas Pemkab Mojokerto, Henny Suhendra menambahkan bahwa di setiap Hari Raya Idul Fitri, Pemandian Air Panas selalu disesaki pengunjung. Selain dari Mojokerto sendiri, umumnya banyak diantara mereka yang datang dari Surabaya. Pada siang yang nahas itu sedang terjadi hujan deras mengguyur lereng Gunung Welirang. Namun para pengunjung tetap bersenang-senang walaupun bahaya dari atas lereng sedang mengancam. "Jadi tanah longsor itu akibat Kondisi lereng Welirang yang memprihatinkan karena gundul akibat penebangan liar," kata Henny.

(Kukuh S Wibowo – Tempo News Room)

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X