Gerakan Bebas Bensin Bertimbal Dicanangkan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Minggu (29/5), mencanangkan tahun Indonesia bebas bensin bertimbal. Dia menyatakan, pencanangan ini mestinya dilakukan dua tahun lalu.
"Namun karena masalah dana dan produsen BBM (Pertamina) belum siap, baru tahun ini kita bisa mencanangkannya," katanya kepada wartawan di Jakarta.
Dari data yang tercatat pada Komite Penghapusan Bensin Bertimbal Kantor Kementrian Lingkungan Hidup, kualitas udara di berbagai kota di Indonesia semakin menurun. Parameter NOx, SO2, PM10, dan O3 cenderung melempaui baku mutu kualitas udara.
Masyarakat di Surabaya, Semarang, dan Bandung bahkan hanya menikmati udara baik masing-masing selama 74 hari, 60 hari, dan 64 hari pada 2004. Itu berarti, pada sembilan bulan lainnya masyarakat di tiga kota itu harus menghirup udara dalam kategori sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, atau berbahaya.
Rachmat membantah bahwa kampanye ini sekadar proyek kantor kementrian yang dipimpinnya. "Ini bukan proyek Kementrian Negara Lingkungan Hidup, tapi proyek negara untuk membersihkan udara dari timbal," tuturnya.
Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Pertamina. Ia menjelaskan, saat ini yang bisa memproduksi bensin tanpa timbal hanya kilang minyak Balongan. Raden Rachmadi





