Topik
12 Trayek Bus Diubah
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 12 trayek bus yang rutenya bersinggungan dengan bus khusus (busway koridor 1 Blok M-Kota diubah. Perubahan ini dalam rangka meningkatkan fungsi feeder (bus pengumpan) pada jalur buswaytersebut. Perubahan dimulai pukul 05.30 WIB pada Rabu (24/8).
Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Rustam Effendy, kebijakan di atas bagian dari program transportasi makro di wilayah Jakarta, yakni bus jalur khusus telah menjadi sarana angkutan yang efektif bagi warga Ibu Kota. "Perubahan trayek sama sekali tidak mengubah tarif, Rp 3.500 untuk Patas AC," kata Rustam di Balai Kota kemarin.
Dijelaskannya, trayek bus yang bersinggungan itu meliputi bus reguler, Patas, serta Patas AC, di antaranya Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) ada 5 trayek, Mayasari Bhakti 2 trayek, Steady Safe 4 trayek, dan Hiba Utama 1 trayek. Dalam catatan Rustam, terdapat 131 kendaraan angkutan yang rata-rata bersinggungan 70-80 persen dengan jalur busway.
Rustam menambahkan, alasan perubahan juga disebabkan rute bus reguler makin padat dan macet sehingga tidak mampu melayani penumpang secara maksimal. Dia mencontohkan bus trayek Bekasi-Kalideres yang seharusnya ditempuh satu jam, kini waktu tempuhnya menjadi tiga jam. Secara alami, kata Rustam, bus-bus itu akan kehilangan penumpang. "Jadi bukan kami yang memaksa mundur, tapi perusahaan bus yang sadar bahwa penataan trayek memang diperlukan," klaim Rustam.
Selain mengubah trayek, Rustam mengaku membatasi halte perhentian bus. Misalnya, bus kota yang semula memiliki 15 halte perhentian, dipangkas menjadi 5 halte. "Ini untuk menghemat waktu," katanya.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Herry Rotty mengatakan, perubahan trayek merupakan kesepakatan antara Organda, perusahaan bus, dan dinas perhubungan. Kesepakatan berlangsung pada Jumat (19/8) setelah melalui berbagai pertemuan. "Mereka semua hadir dan setuju," ujarnya yang dihubungi secara terpisah.
Berdasarkan survei, sebagian besar penumpang yang naik bus reguler turun di Blok M dan selanjutnya naik Transjakarta. Artinya, kata dia, bus-bus yang melintas di rute busway, praktis jarang menaikkan penumpang.
Sebagai kompensasi, kata Rotty, beberapa perusahaan bus, seperti PPD, Steady Safe, Bianglala, Pahala Kencana, dan Tratax Taxi, ikut dalam operator busway melalui konsorsium Jakarta Express Transport. Rotty tak menutup mata ada yang dikorbankan dalam kebijakan ini. "Jumlah pengemudi jadi berkurang," katanya.
Sementara itu, menyangkut proyek busway koridor 2 dan 3, Dinas Pekerjaan Umum Fodly Misbach mentargetkan akhir November pembebasan tanah di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, bakal beres. "Sehingga kami punya waktu satu setengah bulan untuk membangun. Tenggat operasional busway koridor 2 dan 3 akhir Desember," ujarnya.
Hingga saat ini, menurut Fodly, dari 105 keluarga, belum ada yang menerima ganti rugi. "Kami sudah melelang fisik proyek, seperti pengerasan jalan dan pelebaran jalan," katanya. Sesuai dengan keputusan Gubernur DKI pada 1993, Jalan Perintis Kemerdekaan seharusnya memiliki lebar 48 meter. Akibat maraknya pedagang kaki lima, lebar jalan hanya 22 meter.
BADRIAH