Puting Beliung Ancam Jakarta

TEMPO Interaktif, Jakarta: Badan Meteorologi dan Geofisika memperkirakan sepekan ke depan angin puting beliung berpeluang menerjang wilayah Jakarta dan sekitarnya. Munculnya angin Gusty ini ditandai oleh timbulnya awan yang tiba-tiba gelap (cumulus nimbus).

"Hanya saja, datangnya angin belum bisa dipastikan kapan harinya," kata Siswadi pengamat cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika kepada Tempo, Minggu (15/1) malam.

Menurut Siswadi, sekarang awan cumulus nimbus telah menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia. Awan tersebut muncul ketika suhu udara pagi tinggi sehingga meningkatkan pembentukan awan yang menjulang.

Puting beliung, kata dia, biasanya memiliki kecepatan 25 hingga 30 knot. Pusaran angin bisa mengangkat benda berat seperti pohon, rumah, dan atap bangunan. Angin tersebut berdurasi sekitar 15 menit.

Meski tidak lama, Siswadi mengingatkan, puting beliung cukup berbahaya terutama bagi dunia penerbangan dan pelayaran. Di udara, sifat Gusty bisa menciptakan ruang menjadi hampa, sedangkan di laut mampu membalikkan kapal-kapal kecil.

Beberapa waktu lalu, puting beliung sempat memporak-porandakan kampung Citaringgul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Belasan rumah rusak. Ada rumah yang temboknya retak, plafon jebol, genting berhamburan, bahkan lantai teras bergeser. Beberapa pohon patah menimpa sedikitnya lima rumah penduduk. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa pada Kamis pekan lalu itu.

Selain puting beliung, Siswandi menambahkan, cuara di Jakarta dan sekitarnya juga bakal memburuk. Diperkirakan hujan terus menerus walaupun tidak sampai sepanjang hari. "Itensitas hujannya mulai ringan hingga lebat dan disertai petir," paparnya.

Kondisi di atas juga mengancam sebagian besar wilayah Indonesia. Cuaca buruk itu dibarengi angin kencang, terutama wilayah utara Pulau Jawa mulai dari Jawa Barat, Jawa Timur hingga Flores sekitar Selat Karimata dan Selat Makasar.

Siswadi mencatat, di belahan utara Australia, tepatnya di Kepulauan Capentaria juga berpotensi badai. Ini karena akhir-akhir ini tekanan udara di kawasan itu terus menerus turun. "Badai datang apabila tekanan udara di bawah 1.000 milibar," ungkap dia.

Badai di Kepulauan Capentaria itu biasanya badai tropis dengan kecepatan angin sekitar 34 hingga 64 knot. Apabila kecepatan angin makin tinggi dan lebih dari 65 knot, bisa dipastikan terjadi badai Taifun.

Jenis badai ini, kata Siswadi, jarang mencapai wilayah Indonesia. Tapi, dampaknya bisa menimbulkan gelombang laut tinggi, angin kencang dan hujan lebat terutama di Kepulauan Maluku Tenggara dan Pulo Timor.

RAMIDI|DEFFAN PURNAMA