Pemerintah Impor Beras Lagi 500 Ribu Ton
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah memutuskan mengimpor beras lagi sebanyak 500 ribu ton. "Kami instruksikan impor ditambah lagi," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla usai memimpin rapat cadangan beras di Gedung Bulog kemarin.
Impor tambahan itu akan masuk ke Indonesia pada Maret-April. Dananya, menurut Kalla, menggunakan pembiayaan perbankan dan tidak akan memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sedangkan mekanisme impor akan dipilih antara bussiness to bussiness atau government to government.
Keputusan itu diambil dalam rapat pembahasan peta perberasan nasional yang dihadiri Menteri Perekonomian Boediono, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto. Menteri Pertanian Anton Apriyantono tidak hadir dalam rapat tersebut.
Kalla menjelaskan, impor untuk memperkuat stok beras di Bulog, mengantisipasi cuaca buruk dan banjir, serta untuk operasi pasar dengan jumlah tidak terbatas. Operasi pasar tak terbatas itu diperlukan karena di beberapa tempat melonjak hingga Rp 5.000 dan harus diturunkan menjadi Rp 4.000 per kilogram. "Demi kesejahteraan masyarakat, tidak boleh ada gejolak harga (beras) yang berlebihan," ujarnya.
Kalla menambahkan, tingginya impor beras tahun ini merupakan fenomena siklus lima tahunan. Data beras nasional dari tahun ke tahun menunjukkan impor beras tinggi setiap lima tahun, mengikuti siklus cuaca buruk dan banjir setiap lima tahun.
Menurut Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog Widjanarko Puspoyo, tambahan impor beras akan ditujukan terutama di Jakarta dan Surabaya. "Kami akan memenuhi kebutuhan operasi pasar yang diperlukan dengan beras kualitas bagus," kata Widjanarko.
Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, keputusan impor tersebut merupakan kebijakan darurat. "Ini sangat kondisional," ujarnya yang ketika dihubungi Tempo sedang berada di Palembang.
Kebijakan ini diambil, kata Anton, karena harga beras ditingkat konsumen sudah di atas normal. Padahal, pemerintah menginginkan harga beras Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram.
Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo menyatakan, keputusan impor beras menjelang musim panen merupakan bukti ketidakjelasan kebijakan pemerintah tentang perberasan.
Bulog juga gagal membeli beras petani pada saat musim panen tahun lalu. "Bulog hanya membeli kurang dari satu juta ton beras, " katanya.
Akibatnya, saat musim paceklik Bulog menjerit kekurangan beras. Pembelian beras yang sedikit oleh Bulog, menurut dia, mengakibatkan sepanjang tahun lalu sampai sekarang masih banyak beras yang berada di tangan pedagang. “Sehingga kenaikan harga beras saat ini bisa saja terjadi karena ulah spekulan.”
Menurut Siswono, agar kejadian ini tidak terulang maka tahun ini Bulog harus mampu membeli beras petani sebanyak 2,5 juta ton. Dengan stok yang cukup, spekulan tidak akan bisa bermain.
Masduki, pedagang beras asal Karawang, Jawa Barat mengungkapkan kenaikan harga beras saat ini terjadi sebagai efek banjir di sejumlah daerah. "Pasokan terganggu, " kata dia. Tapi dia mengakui tidak ada kelangkaan beras. Karena pasokan terganggu harga beras melonjak menjadi Rp 5.100 per kilogram.
OKTAMANDJAYA WIGUNA | EWO RASWA | RR ARIYANI
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Berita Utama Bisnis
- KRL Mania: Tarif Progresif Untungkan Konsumen
- Dahlan: Lima Holding Saja Sudah Alhamdulilah
- Sri Mulyani Masuk 100 Wanita Berpengaruh Forbes
- DPR Minta Konstruksi Terowongan Freeport Diaudit
- Impor Mesin Domestik Sulit Ditekan
- Indonesia Butuh 2 Kawasan Industri Aviasi Terpadu
- Pemerintah Ajukan Dana BLSM Rp 11,6 Triliun













