indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Dewan Desak Pemerintah Beli Gabah Petani


Berita Terkait

TEMPO Interaktif, Serang:Pemerintah Provinsi Banten diminta turun tangan membeli gabah petani. Saat ini harga gabah petani anjlok dari Rp 250-280 ribu per kwintal, kini hanya sekitar Rp 180-200 ribu per kwintal

Desakan agar pemerintah membeli gabah petani disampaikan oleh Komisi Perekomian dan Pemerintahan DPRD Banten. "Pembelian gabah tersebut sebagai bentuk proteksi terhadap kepentingan petani," kata Yayat Suhartono anggota Komisi Perkonomian DPRD Banten, Senin (26/3).

Dengan kebijakan itu, kata dia, diharapkan para petani tidak terjerat oleh para tengkulak.Saat ini, Para tengkulak membeli dengan harga yang rendah. Harga yang yang anjlok ini menyebabkan kerugian besar. "Saya sudah cek ke lapangan Untuk setiap lahan pertanian seluas 100 meter saja, kerugian mencapai Rp 500 ribu," katanya.

Untuk itu, lanjut Yayat, dibutuhkan proteksi dari pemerintah agar kepentingan petani bisa terjaga. "Pemerintah bisa menggunakan dana tak terduga dalam pos APBD. Bahkan di Pos APBN biasanya ada alokasi anggaran untuk keperperluan itu," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan Provinsi Banten Egy Djauniswaty mengatakan, akan memikrikan recana pemeblian gabah. "Tetapi semua tergantung kepada gubernur karena beliau pengambil kebijakan," katanta.

Sementera itu, berdasarkan pantuan, harga gabah panen dari petani di Kabupaten Serang mulai anjlok drastis. Jika sebelumnya harga gabah panen berkisar antara Rp 250-280 ribu per kwintal, kini hanya sekitar Rp 180-200 ribu per kwintal.

"Para tengkulak membeli dengan harga yang rendah," kata Ruslan Sumarlan petandi di Desa Kejambulan, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Ia mengatakan, harga yang anjlok ini menyebabkan banyak petani yang mengalami kerugian besar.

Agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar, petani memilih menyimpan gabah pada musim panen kali ini hingga harga kembali stabil. Tapi, tak semua petani berani menyimpan gabah dan tetap menjual dengan harga murah.

Petani di Teteratai, Kecamatan Kramatwatu juga mengeluhkan anjloknya harga gabah. "Mau bagaimana lagi, kami terpaksa jual gabah dengan harga murah karena tidak ada uang. Kalau tidak jual sekarang saya tidak bisa bayar utang," ujar Faturahman seorang petani. Dia menyadari keputusan ini membuat dirinya merugi.

Faidil Akbar

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X