Lee: Indonesia Beruntung Punya Soeharto
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Mentor Singapura Lee Kuan Yew menyayangkan bahwa sahabatnya, mantan Presiden Indonesia Soeharto, tak mendapat kehormatan sebagaimana mestinya.
"Saya sedih sahabat lama saya, yang bekerja sama dengan saya selama 30 tahun terakhir, tak sungguh-sungguh memperoleh kehormatan seperti sepantasnya," kata Lee kepada media Singapura setelah menjenguk Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada Ahad lalu.
Menurut Lee, apa yang telah dilakukan Soeharto layak diakui. Tapi, "Generasi-generasi muda -- baik di Indonesia maupun dunia-- tak ingat bagaimana Indonesia dimulai. Saya ingat. Itu sebabnya mengapa saya datang ke mari menjenguknya," kata perdana menteri pertama Singapura itu seperti dikutip Channel NewsAsia hari ini.
"Dia memberi Indonesia kemajuan dan pembangunan. Dia mendidik masyarakat, membangun jalan dan infrastruktur. Dan, dengan adanya konfrontasi (Malaysia) era Soekarno dan ekses kebijakan luar negeri lainnya, dia telah menstabilkan hubungan internasional, bekerja sama di ASEAN dan membuat ASEAN lebih sukses daripada SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) di Asia Selatan. Dan, kini kita punya sebuah Asia Tenggara yang stabil," katanya.
Meski demikian, Soeharto juga menuai badai kritik dan tuntutan hukum terkait berbagai tuduhan dalam kasus penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi.
"Ya, memang ada korupsi. Ya, dia menguntungkan keluarganya dan teman-temannya. Tapi, ada pertumbuhan dan kemajuan yang nyata (dalam pembangunan). Saya pikir rakyat Indonesia itu beruntung. Mereka punya seorang jenderal pemimpin, yang punya sebuah tim administratur yang kompeten -- termasuk sebuah tim ekonom yang sangat bagus untuk membangun negaranya," kata Lee.
Membandingkan Soeharto dengan Ne Win, mantan junta militer Burma yang berkuasa hampir bersamaan waktunya, Lee menilai Indonesia menjadi lebih baik sekarang karena kepemimpinan Soeharto.
"Pada 1960-an, Burma mengalami kudeta serupa, yang dilakukan Jenderal Ne Win. (Sayangnya), dia (Ne Win) tak punya tim ekonom seperti (Soeharto) ini. Dia memimpin dengan caranya sendiri -- jalan sosialisme Burma -- dan jika dibandingkan antara Burma dengan Indonesia, Anda akan tahu perbedaan apa yang telah Soeharto buat," kata Lee.
| CNA | IWANK





