Empedu Menjadi Sinyal E-Coli Bertahan Hidup

Empedu Menjadi Sinyal E-Coli Bertahan Hidup

.

TEMPO Interaktif, Mintana - Peneliti dari Mintana State University dan University of New England menemukan kemampuan bakteri E-Coli mengubah prilaku dalam proses sekresi empedu di usus kecil. Perubahan prilaku ini memungkinkan bakteri penyebab sakit usus itu bertahan hidup.

"Kami menemukan empedu menyebabkan bakteri mematikan gen yang meningkatkan lampiran ketat pelindung sel inang. Empedu efektif mencegah bakteri menempel ke sel-sel epitel yang melapisi usus kecil," kata Dr Hamner dalam presentasi karyanya di pertemuan musim semi Society for General Microbiology di Edinburgh.

Temuan ini memungkinkan kita bisa melindungi makanan dari kontaminasi bakteri berbahaya, serta memahami bagaimana cara mereka menyebabkan sakit. Pada kondisi itu, bakteri bergerak melalui saluran pencernaan menuju usus besar dimana konsentrasi empedu menurun.

"Sedikitnya konsentrasi empedu di usus besar menjadi sinyal bagi bakteri mengaktifkan kemampuan mereka melekat ke sel epitel dan mempersiapkan diri mengeluarkan racun kembali," kata dia.

Diskresi empedu pada usus kecil merupakan antibakteri yang berpengaruh merusak membran bakteri dan DNA bakteri. Meskipun empedu adalah mekanisme pertahanan manusia, tapi Dr Hamner dan rekannya menemukan bakteri seperti Escherichia coli O157: H7 - suatu patogen yang bertalian dengan makanan penting - mampu bertahan dengan berevolusi.

Bakteri ini menggunakan sinyal kehadiran empedu sampai menemukan usus untuk beradaptasi dan mempersiapkan diri untuk menyebabkan penyakit. Tim Dr Hamner menemukan empedu menyebabkan bakteri mengaktifkan gen yang meningkatkan penyerapan zat besi.

"Hal ini berguna dalam lingkungan tekanan kuat - seperti usus kecil – mereka bertahan dengan nutrisi penting bagi pertumbuhan bakteri. Dengan meningkatkan peluang menyerap zat besi, bakteri bisa memaksimalkan peluang kelangsungan hidupnya."

Mempelajari kemampuan bakteri yang lebih cenderung menempel pada sel-sel bisa membantu mengurangi dampak keracunan makanan. "Dengan belajar bagaimana bakteri melekat pada permukaan makanan seperti daun bayam atau menjadi tuan rumah jaringan seperti lapisan usus, kami berharap lebih dapat melindungi sumber-sumber makanan terkontaminasi bakteri ini. Belajar bagaimana bakteri ini berinteraksi dengan tuan rumah seperti pada manusia atau sapi bisa mengajar bagaimana mengganggu cara bakteri mengakibatkan penyakit, "kata Dr Hamner.

SCIENCEDAILY | PURW

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X