indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Nostalgia Teater Mbeling

Nostalgia Teater Mbeling

Pementasan Jalan Tambong di Gedung Kesenian Jakarta. (TEMPO/Novi Kartika)

TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang pria paruh baya berpenampilan dandy muncul di atas pentas. Mengenakan jas, topi pet, dan sepatu merah yang dipadu celana panjang serta dasi putih, pria itu berjalan sambil menyeret koper putih berisi bunga plastik merah-putih menuju sebuah apartemen berlantai 20 – yang tampak menjulang sebagai latar panggung.

Dialah Mas Joko, bujangan 50 tahun yang hendak menemui kekasihnya, seorang gadis 20-an tahun yang tinggal di lantai 19 apartemen itu. Diperankan aktor senior Jose Rizal Manua, Mas Joko adalah tokoh dalam drama musikal Remy Sylado, bertajuk sama dengan nama tokoh tersebut, yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu dan Kamis malam lalu.

Selain Mas Joko, dipentaskan dua naskah drama Remy lainnya: Jalan Tamblong dan Sekuntum Melati buat Rima. Semuanya naskah yang ditulis Remy antara 1969 dan 1980-an, serta pernah dimainkan sendiri oleh pengarangnya bersama Dapur Teater 23761 yang dipimpinnya.

Tapi malam itu Remy hanya berdiri sebagai sutradara. Remy mementaskan ketiga naskah drama itu dalam bentuk sajian teater terpadu: drama-musik-tari. Remy sendiri lebih suka menyebut bentuk pementasannya itu sebagai sandiwara nyanyi.

Dalam pementasan teater terpadu malam itu, para aktor – dengan play back – menyanyikan lagu yang diciptakan dan dilantunkan Remy, seperti Mas Joko, Ingin Tidur di Sebuah Dusta, Serenade, dan Jalan Tamblong. Lalu, saat adegan menyanyi, para penari masuk memberi ilustrasi. Sayangnya, karena tak dinyanyikan aktor sendiri, lagu-lagu itu justru terasa mengganggu.

Meski begitu, naskah yang dipentaskan tetap terasa nakal, kurang ajar, dan mbeling khas Remy. Dialog-dialognya mengalir dalam kalimat yang cerdas, nakal, kurang ajar, lucu, satiris. Kalimat-kalimatnya campur-baur antara bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Inggris, dan Prancis – membicarakan segala hal, dari soal korupsi pejabat, ketimpangan sosial, agama, hingga linguistik.

Simak Jalan Tamblong. Ini kisah tentang denyut kehidupan di Jalan Tamblong, seruas jalan yang terkenal di Bandung. Lewat dialog petugas pos (dimainkan Sammy Patty) dan seorang aktris teater (Herlina Syarifuddin), Remy mengkritik perubahan tata nilai masyarakat di sepanjang Jalan Tamblong. Dalam dialog tersebut kedua tokoh menyindir beragam realitas sosial, dari soal pelajar yang menjadi gongli (pelacur) hingga polisi dan jaksa yang korup. Semuanya disampaikan dengan gaya mbeling, kritik yang satiris, dan kadang jenaka.

Hal yang sama juga terasa dalam Sekuntum Melati buat Rima. Lewat dialog pria muda (Anang Dasoel) dan seorang nenek (Renny Djajoesman), Remy menyampaikan kritiknya. Misalnya tentang gaya feodal para ningrat, politikus busuk, para cendekiawan yang arogan, dan gaya masyarakat kita yang kebarat-baratan.

Boleh jadi, ketika dipentaskan pada 1970-an, drama-drama musik itu sangat bunyi, nakal, dan kurang ajar. Kritik-kritik yang dilontarkannya terasa menohok. Setidaknya pementasan-pementasan Remy yang mbeling waktu itu bikin panas kuping pejabat dan membuat gerah aparat. Saban usai pentas, Remy selalu diinterogasi aparat, bahkan ia pernah diinterogasi aparat sampai 10 hari.

Tapi, di tengah situasi masyarakat yang kian terbuka seperti sekarang, kritik-kritik yang disampaikan dengan gaya mbeling, nakal, dan kurang ajar itu terasa biasa. Remy tak membuat perubahan dan improvisasi pada naskahnya untuk disesuaikan dengan kondisi sekarang supaya kritik-kritiknya lebih bunyi.

Kesan biasa juga terlihat dari setting panggungnya. Dalam Jalan Tamblong, misalnya, hanya sebuah layar yang dibentangkan, bergambar perspektif seruas jalan yang diapit bangunan rumah di kiri-kanannya. Ditambah sebuah bis surat. Setting-nya terkesan seadanya.

Begitu pula dalam lakon Sekuntum Melati buat Rima. Panggung hanya berlatar sebuah layar dengan gambar rumah kuno peninggalan zaman kolonial Belanda dengan ornamen yang mengesankan pintu dan jendela. Lalu, properti kursi sofa di halaman rumah tempat dua pemain – Renny Djajoesman dan Anang Dasoel – duduk bercengkerama terasa kurang pas. Sofa putih nan empuk itu lebih cocok untuk ruang tamu atau keluarga.

Menurut Remy, pementasan kali ini memang berbeda dengan dulu. Para penontonnya malam itu adalah mereka yang hidup di tengah situasi masyarakat yang lebih terbuka, sehingga naskah yang dulunya terasa nakal, kurang ajar, dan mbeling boleh jadi terkesan biasa. Kritik-kritik yang disampaikan juga terasa kurang bunyi.

Remy menyatakan, ia memang tak banyak mengubah dan membuat improvisasi naskahnya untuk disesuaikan dengan kondisi sekarang. Naskahnya dibiarkan seperti aslinya. Paling-paling, yang dikurangi adalah dialog-dialog berbahasa Prancis dalam Sekuntum Melati buat Rima. “Itu karena Renny (Djajoesman) ampun-ampun enggak bisa melafalkan Prancis dengan baik,” katanya.

Langkah itu sengaja ditempuh karena pementasan drama yang menelan biaya sekitar Rp 100 juta itu hanya sebagai dokumentasi menyusul diterbitkannya buku kumpulan naskah drama karya Remy, Jalan Tamblong, pada pengujung Januari lalu. “Ini semacam dokumentasi pementasan sekaligus untuk mengingatkan orang saja,” ujarnya.

NURDIN KALIM

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X