Jepret Polisi Sedang Razia, Wartawan Tempo Diperiksa Provos

Jepret Polisi Sedang Razia, Wartawan Tempo Diperiksa Provos

Razia kendaraan bernotor. TEMPO/Hariandi Hafid

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Kepolisian Kota Besar Yogyakarta hari ini memeriksa wartawan Tempo  Bernarda Rurit sebagai saksi pelapor. Pemeriksaan ini terkait kasus penghapusan secara paksa file foto milik Rurit yang diduga dilakukan sejumlah oknum polisi. File foto yang dihapus itu adalah rekaman gambar yang diambil Rurit saat polisi menggelar razia di Jalan Mangkubumi Kota Yogyakarta, 6 Agustus 2001. 

"Sudah ada empat saksi yang kami periksa, termasuk Saudari Rurit. Tiga orang lainnya dari anggota kami," kata Kepala Unit  Pelayanan, Penindakan, Penegakan Disiplin (P3D) Inspektur Satu  Lucas Leo di ruang kerjanya, Selasa (24/8).

Ketiga saksi lain yang sudah diperiksa itu adalah Aipda Suparjoko, Bripka R. Gatot Nugroho, dan Briptu Purnomo. Ketiga saksi itu adalah anggota kepolisian yang berada di lokasi kejadian. Suparjoko dan Gatot adalah oknum yang diduga telah melakukan penghapusan file foto dari kamera Rurit. Sedangkan Purnomo adalah  anggota yang melapor kepada Suparjoko bahwa ada wartawan yang  melakukan memotret proses razia.

Dalm proses pemeriksaan ini, institusi kepolisian  telah  menarik Suparjoko dari tugas dinas lapangan (mutasi demosi). Suparjoko dinilai melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang pelanggaran disiplin anggota Polri pada Pasal 3 dan Pasal 5. "Fokus pemeriksaan kami pada Suparjoko, karena dia yang dilaporkan Saudari Rurit," kata Lucas.

Hasil pemeriksaan itu nantinya akan diserahkan ke Polda Yogyakarta sebelum digelar sidang internal kepolisian. Menurut Lucas,  tak menutup kemungkinan kasus ini  berlanjut ke proses pidana."Karena anggota memang salah. Tapi itu pun tergantung pihak pelapor, apakah akan melanjutkan atau memaafkan," kata Lucas.

Dalam surat tertulis kepada  Jogja Police Watch, Kapoltabes Kota Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Polisi Atang Heradi mengatakan, penghapusan file foto tersebut bukan atas nama institusi kepolisian, melainkan tindakan perorangan. Selain Suparjoko, tindakan mutasi demosi juga dikenakan kepada Brigadir Ruli Gunadi yang terbukti memerintahkan fotografer Antara, Regina Safri untuk menghapus file fotonya. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 15 menit setelah insiden yang menimpa Rurit di tempat yang sama.

"Tindakan itu tanpa sepengetahuan atasan, sehingga membuktikan anggota tidak paham UU Pers," kata Ketua Jogja Police Watch Kusno Utomo, mengutip pernyataan Atang dalam surat tertulisnya.

Dalam pemeriksaan itu Rurit didampingi Koordinator Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta Bambang Tiong dan kuasa hukum dari Jogja Police Watch Aknandari Malisy. "Saya harap  bukan hanya Suparjoko yang diproses, tapi juga tim razia satlantas itu sendiri," katanya.

Bambang Tiong  menegaskan,  kasus yang menimpa wartawan Tempo dan Antara itu adalah  kasus publik. Sehingga tidak cukup jika hanya dengan permintaan maaf saja.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Inilah salah satu bentuk arogansi polisi..
0
0
razia apa ya... kalo razia biasa dan ada surat perintah yang jelas apa salahnya difoto. Kenapa harus meminta wartawan untuk hapus file\" fotonya kalo gak ada apa-apa? Mencurigakan
0
0
Biasa wartawan Tempo membuat berita provokatip,ya dapat dimaklumi.
0
0
Pak polisi wawasannya musti luas dong... Musti tau UU pers, musti tau banyak hal.. Jadi gak petantang petenteng sok bisa ngelakuin apa aja...
0
0
Perwira POLRI nya mana yang mau bertanggung jawab ? Staff nya gak ngerti UU Pers karena gak pernah dikasih tau oleh pemimpinnya . Mestinya pemimpin yang paling bertanggung jawab.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X