indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Sekitar 50 Persen Sungai di Magelang Rusak dan Tercemar


TEMPO Interaktif, Magelang - Sebanyak 50 persen sungai di Kabupaten Magelang dilaporkan telah rusak dan tercemar. Sikap masyarakat yang tak peduli terhadap keberlangsung ekosistem sungai dianggap menjadi salah satu penyebabnya.

Pernyataan itu disampaikan Forum Peduli Kali Kabupaten Magelang Imam Joko Prasetyo menanggapi kondisi sungai di Magelang. "Itu dari pengamatan langsung kami ke sungai-sungai," kata dia, Minggu (29/8).

Menurut dia, ada sekitar 90 sungai di Magelang, dari sungai besar hingga sungai kecil yang mengalir di lahan persawahan sebagai sungai irigasi. Tingkat kerusakan dan pencemarannya pun bervariasi, dari ringan hingga berat.

Kerusakan sungai itu ditandai dengan kian banyaknya hewan-hewan air yang menjadi ekosistem sungai mulai langka. Semisal lele, mujair, tawas, hingga uceng yang awalnya hidup di sungai tertentu, kini tak ditemukan lagi. "Banyak yang mati," kata dia.

Selain itu, lanjut dia, banyak tanah di tepian sungai yang longsor sehingga berakibat mempercepat proses pendangkalan sungai. Adapun pencemaran sungai, lebih banyak berasal dari sampah.

Terkait dengan kian langkanya ikan jenis tertentu di sungai, dia menyebutkan hal itu karena kebiasan menangkap ikan yang tak sehat. Semisal menyetrum atau menggunakan racun. Akibatnya, tak hanya ikan dewasa, bibit ikan yang masih kecil pun ikut mati.

Untuk mencegah kerusakan sungai lebih parah, Forum akan bekerja sama dengan pemerintah untuk memasang papan peringatan di sejumlah sungai. Cara itu diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar menjaga kondisi sungai dan ekosistemnya.

Selain itu, lanjut dia, kegiatan pelepasan bibit ikan baik oleh swadaya masyarakat atau bantuan dari pemerintah pun dinilai dapat mengembalikan keragaman ikan di sungai.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang Tri Agung Sucahyono mengatakan ada 94 sungai di Kabupaten Magelang. Menurutnya, kini kian sulit menemui jenis ikan tertentu di sungai. Padahal ikan-ikan itu dulu banyak ditemui di hampir seluruh sungai. "Separuh dari jumlah itu memang rusak," kata dia.

Dia mendukung upaya yang dilakukan masyarakat untuk kelestarian sungai, semisal ide oleh Forum melepas bibit ikan dan memasang rambu peringatan di sungai.

ANANG ZAKARIA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X