indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Penguasa Gaib Gunung Merapi Tertangkap Kamera

Penguasa Gaib Gunung Merapi Tertangkap Kamera

Awan mirip petruk berada di atas puncak merapi. (Photo: Anang Zakaria)

TEMPO Interaktif, Magelang - Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, berbicara tentang gunung Merapi tak lepas dari segala mitos dan cerita misterinya. Mereka meyakini gunung yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta itu dikuasai oleh sosok gaib, Mbah Petruk.

Suswanto, lelaki berusia 43 tahun warga Dusun Sudimoro Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung Magelang, mengabadikan awan berbentuk mirip sosok Petruk dalam cerita Pewayangan di atas gunung Merapi sebelum meletus dalam jepretan kamera. “Awalnya saya hanya iseng memotret,” kata dia, Senin (1/11) siang.

Dalam salinan gambar yang ditunjukan Suswanto, awan mirip petruk itu berada tepat di atas puncak Merapi. Berhidung panjang dengan kuncir rambut di belakang kepala melengkung ke atas. Sosoknya menghadap ke arah selatan. “Ke arah Yogyakarta,” kata dia.

Gambar itu diambil pada Selasa (26/10) pagi atau sehari sebelum Merapi meletus pada petangnya. Dia menambahkan, gambar itu diambil dari depan rumahnya atau sekitar 13 kilometer dari puncak Merapi.

Menurut dia, sejumlah warga yang melihat hasilnya meyakiki itu adalah sosok Mbah Petruk, sang penunggu Merapi. Mereka menduga kehadirannya memperlihatkan diri sebagai pertanda bencana besar di Merapi.

Mbah Diwur (54), warga Desa Dusun Gaten Desa Ketunggeng Kecamatan Srumbung meyakini gambar awan itu adalah sebuah peringatan bagi warga sekitar Merapi. “Dia menghadap selatan, lihat saja sekarang yang para kan Jogja,” kata dia.

Dia membenarkan, adanya keyakinan sosok Mbah Petruk sebagai penguasa Merapi yang berkembang di masyarakat. “Dia bersemayam di dalam kawah Merapi,” kata dia.

Menurut Sugihartono (40), seorang warga Desa Pucanganom Kecamatan Srumbung, kepercayaan tentang adanya sosok mbah Petruk di gunung Merapi itu tak bisa lepas dari sejarah peralihan Hindu Majapahit dan Islam Demak.

Oleh masyarakat sekitar Merapi, kata dia, Mbah Petruk itu diyakini sebagai sosok Sabdo Palon Nolo Genggong, seorang penasehat raja Majapahit Brawijaya V. Di akhir kejayaan Majapahit karena masuknya pengaruh Islam di Demak, Brawijaya memilih berdiam di gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Dia disia-sia,” katanya.

Karena sang Raja telah tersingkirkan maka Sabdo Palon pun memilih mengikuti jejak sang raja. Namun, dia memilih gunung Merapi sebagai tempat tinggalnya. (Lihat Berita Foto: Keindahan di Balik Petaka Merapi)

Sebagai balasan terhadap lawan-lawan yang berkuasa, dia mengangkat sumpah. Kelak akan menagih janji penguasa negeri tentang amanahnya mensejahterakan rakyat.

Letusan Merapi, kata dia, bagi masyarakat yang masih memegang teguh legenda itu dipercaya sebagai peringatan bahwa penguasa negeri ini lalai menjalankan amanah rakyat. “Si Mbah marah dan menagih janji penguasa,” kata dia.

ANANG ZAKARIA

Berita Terpopuler Lainnya:

Rapat TNI AD Bubar Gara-gara Letusan Merapi

Mahasiswa Tewas Setelah Memprediksi Kematiannya di Twitter

Berlusconi Terobsesi Gadis Muda dan Cantik

Tarik Buntut Hiu, Pria Misterius Selamatkan Pemandu Tur



Komentar (57)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
1
paling mereka setan semua......
0
2
Pak Sultan & konco2, jngn miliki sndiri harta simpanan leluhur. Hitung ulang perolehan hasil, Cepat bagikan kpd yg membutuhkan . . . Klo tidak, ya jngn diambil . . .
1
1
semoga merapi cepat berheti mengelurkan awan panas dan berhenti mengamuk,buat kanjeng sulta cepat cari gantinya mbh marijan,siapa th dgn adanya juru kunci baru kita akan tahu apa kemauan penunggu merapi!.......
0
0
Mereka bukan Syirik, Musyrik...setidaknya mereka bisa menghormati alamnya...mereka toh tetap menyembah Sang Pencipta...mereka lebih bijak karena bisa hidup berdampingan dengan alamnya lain dengan anak jaman sekarang kebanyakan tidak menghormati alam...jadilah petaka itu...bukan syirik khan? sekedar menghormati Alam Salam dari Pencinta Alam.
0
0
Mereka bukan Syirik, Musyrik...setidaknya mereka bisa menghormati alamnya...mereka toh tetap menyembah Sang Pencipta...mereka lebih bijak karena bisa hidup berdampingan dengan alamnya lain dengan anak jaman sekarang kebanyakan tidak menghormati alam...jadilah petaka itu...bukan syirik khan? sekedar menghormati Alam Salam dari Pencinta Alam.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X