Sultan Minta Pasir di Kali Code Dikeruk

Sultan Minta Pasir di Kali Code Dikeruk

Alat berat (amphibi excavator) mengeruk pasir yang terbawa lahar dingin hingga Kali Code Yogyakarta, Rabu (1/12). TEMPO/Arif Wibowo

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, meminta masyarakat tidak takut mengeruk pasir Merapi yang saat ini memenuhi aliran Kali Code. Sebab, jika tidak dikeruk, justru akan membahayakan penduduk Yogyakarta, khususnya yang tinggal di bantaran Kali Code.


“Mengambil pasir di Kali Code menjadi sangat penting saat ini. Sebab, kalau pasir itu tidak diambil, akan makin luas menggenangi rumah-rumah penduduk,” tegas Sultan Hamengku Buwono X saat memimpin gotong-royong pengerukan pasir Kali Code di halaman rumah susun Jogoyudan, Minggu (12/12).

Dalam sambutannya, Sultan HB X menegaskan bahwa lahar dingin hasil erupsi Merapi yang masuk ke Kali Code terbawa oleh air hujan, menjadi persoalan serius bagi Pemerintah Provinsi DIY. Idealnya, kata Sultan, pasir Merapi yang menumpuk di Kali Boyong dikeruk agar tidak terbawa air hujan masuk ke Kali Code. Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena akan membahayakan Kali Kuning dan lereng Merapi.

Yang bisa dilakukan Pemprov DIY, lanjut Sultan, adalah memotong pohon-pohon pinus di kawasan hulu Kali Boyong yang sudah mati akibat letusan Merapi agar tidak terbawa aliran lahar dingin masuk ke kota Yogya melalui Kali Code. Jika batang-batang pohon pinus yang mati itu sampai terbawa ke aliran Kali Code, akan sangat membahayakan waega Yogya.

“Meski sudah ditebang, kami kesulitan membersihan kayu-kayu itu. Warga tidak berani mengambil kayu-kayu yang sudah ditebang itu karena ada kepercayaan pesta Merapi belum usai. Warga tidak berani mengambil sesuatu dari Merapi karena takut dalam mimpinya diminta mengembalikannya lagi,” kata Sultan.

Karena itulah, Sultan HB X meminta warga Yogya untuk tidak takut mengambil pasir Merapi di Kali Code. Pasir dari lereng Merapi yang masuk ke Kali Code terbawa air hujan itu bahkan harus terus dikeruk atau diambil. “Jika tidak diambil, justru akan membahayakan warga Yogya sendiri,” tegas Sultan.

Kepada warga di bantaran Kali Code yang rumahnya tak bisa dihuni karena tertutup pasir Merapi, Sultan menawarkan tempat tinggal sementara di sebelah timur stadion Mandalakrida. Di lokasi ini sudah dibangun 200 unit rumah sementara dari rencana 500 rumah bagi warga bantaran Kali Code yang rumahnya tak bisa lagi ditinggali akibat banjir lahar dingin Merapi.

“Fasilitas sudah lengkap, tinggal masuk di dimanfaatkan. Nanti setelah tidak ada banjir lagi, silakan pulang kembali ke rumahnya lagi,” kata Sultan yang disambut tepuk riuh warga penghuni bantaran Kali Code di kawasan Joyonegaran tersebut.

Gotong royong pengerukan pasir Merapi di Kali Code ini disonsori oleh sebuah stasiun televisi dan sebuah perusahaan operator telepon seluler. Warga memperoleh bantuan tiga buah mesin penyedot pasir, 900 serok pasir, 100 buah pacul, 50 buah sekop, 7.200 karung plastik, 20 alat pencetak batako dan 40 alat pencetak paving blok. Dengan bantuan alat-alat tersebut diharapkan pasir yang dikeruk dari aliran Kali Code bisa dimanfaatkan menjadi batako dan paving blok.

 

HERU CN


 

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X