Presiden Minta TVRI Jaga Netralitas

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Televisi Republik Indonesia (TVRI) menjaga netralitas dalam pemberitaan. Misalnya, dengan memberitakan secara seimbang pemberitaan yang baik dan buruk. 


"TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik harus bisa fair, dan berimbang agar rakyat mendapatkan kebenaran yang sejati," kata Presiden saat peresmian pemancar televisi digital TVRI di Auditorium TVRI, Jakarta, Selasa (21/12).

Dalam kesempatan ini, Presiden didampingi ibu negara Ani Yudhoyono, Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Presiden mengakui saat ini masih ada kekurangan dan kelemahan dalam pemerintahan. Namun, kata Presiden, pemberitaan berkaitan dengan capaian dan yang dilakukan pemerintah dan yang lain juga harus mendapat porsi pemberitaan yang sama. Termasuk juga pemberitaan di provinsi, kabupaten dan kota. "Jangan yang diangkat hanya jelek-jelek saja, agak malu mengangkat yang baik. Sebagai lembaga penyiaran angkat dua-duanya untuk pendidikan," ujar Presiden.

Dalam kesempatan ini, Presiden bercerita soal tayangan televisi penyiaran publik negara sahabat. "Rasanya mereka tidak suka menjelek-jelekan negara sendiri," kata Presiden. Pemberitaan yang seimbang, juga akan memperbaiki citra di dunia internasional. "Memang ini tidak mudah untuk dilakukan," katanya.

Presiden memahami bahwa biasanya ada sikap dan keberpihakan terhadap kepentingan pemilik atau manajemen televisi. Hal ini memang yang banyak terjadi dan merupakan bagian dari kebebasan politik dan demokrasi. "Tapi jangan berlebihan, jangan vulgar,," ujarnya.

Presiden mendukung komitmen TVRI untuk terus membangun dan mengembangakan karakter bangsa serta meningkatkan optimisme bangsa. "Jangan kita menjadi bangsa yang pesimis, skeptis. Dengan optimis kita dapat menyelesaikan segala persoalan," ujarnya.

Direktur Utama TVRI, Imas Sunarya mengatakan TVRI tetap berkomitmen dalam melaksanaan pendidikan karakter bangsa, menjaga citra positif, meninglkatkan optimisme dan keutuhan NKRI. "Juga netralitas dan tidak komersial," ujarnya. 

Hari ini, TVRI memulai tayangan digital yang telah diuji coba pada Mei 2009 lalu. Layanan televisi digital ini, tidak hanya berpengaruh pada kualitas gambar, tapi juga kemampuan untuk mobile. Artinya, televisi tidak hanya statis diakses dan disaksikan di rumah, perkantoran maupun tempat umum tetapi juga dalam perangkat bergerak dengan kualitas jernih. 

Dalam teknologi digital ini, TVRI akan terbagi dalam 4 siaran, yaitu siaran nasional, siaran DKI Jakarta, siaran Olahraga dan budaya dan siaran Dokumenter dan pendidikan. TVRI kini memiliki stasiun 376 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pemerintah telah menambah 70 transmisi. Pembangunan untuk 40 transmisi dibiayai dari APBN, selebihnya dari bantuan Spanyol.

EKO ARI WIBOWO