Serangan Batuk pada Malam Hari

Serangan Batuk pada Malam Hari

TEMPO/Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Jakarta -Sudah beberapa hari ini batuk menyerang Hadriani. Tenggorokan perempuan ini terasa gatal jika menjelang malam, walau tak disertai demam. Rasa gatal yang disertai dahak ini sudah berkali-kali menyerang pekerja media itu. Tenggorokan gatal, sehingga susah tidur, "Tengah malam, batuk memuncak hingga pukul empat pagi," kata dia sambil menjelaskan pada pagi hari batuknya sembuh, tapi saat malam tiba, batuk itu datang lagi.

Perempuan itu sudah mencoba antibiotik untuk mengobati batuknya. Namun tak mempan juga. Akhirnya obat ia ganti dengan minuman jahe. "Sempat reda, tapi datang lagi," katanya. Kini batuk itu mengiringinya hampir setiap malam.

Menurut dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Dr Sosialisman, SpTHT-KL, batuk yang diderita Hadriani adalah batuk noninfeksi. Batuk jenis ini bukan gejala dari suatu penyakit. Namun gangguan ada pada tenggorokan. "Penyebabnya bisa beragam," kata dia ketika dihubungi. Di antaranya, daya tahan tubuh yang lemah, alergi, paparan asap polusi, dan kebiasaan merokok. Alergi juga bisa terjadi karena debu, cuaca dingin, atau alergi karena penyebab lain. Karena lebih disebabkan oleh menurunnya daya tahan tubuh, gangguan ini tak menular.

Untuk membedakan antara batuk infeksi dan batuk noninfeksi, ada beberapa tanda yang bisa diketahui. Batuk infeksi biasanya disertai demam, sakit tenggorokan, dahak, atau badan lesu. "Jika batuk disertai dengan gejala ini, mungkin batuk hanya gejala dari penyakit lain, misalnya pilek atau gangguan paru-paru," kata Sosialisman.

Sementara itu, pada batuk noninfeksi, batuk hanya merupakan gangguan lokal pada tenggorokan. Biasanya, penyebab batuk noninfeksi yang sering terjadi adalah menurunnya daya tahan tubuh. Kerja yang terlalu menguras daya tahan tubuh bisa membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Lalu, apakah komputer juga berpengaruh? "Belum tentu juga," kata dia. Sosialisman mengatakan selama ini memang dikenal sindrom vision computer syndrome. Selain menguras penglihatan, kerja di depan komputer terlalu lama bisa menguras daya tahan tubuh. Dia menyarankan agar, selama duduk di depan komputer, seseorang duduk dengan benar agar tak menguras daya tahan fisiknya. Selain itu, kerja memerlukan batasan waktu. "Jangan diforsir," ujar dia. Normalnya, durasi kerja adalah 8 jam sehari dan diselingi istirahat.

Dr Sosialisman menambahkan, justru udara malam sangat berpengaruh. Sebab, udara malam lebih dingin ketimbang udara pada siang hari. "Itulah kenapa yang sering lembur lebih rentan sakit," kata dia. Apalagi jika seseorang itu menderita alergi dingin. Kantor yang kotor oleh debu juga rentan timbulnya bibit penyakit. Mereka yang alergi debu seharusnya lebih bersih dengan lingkungan sekitarnya.

Untuk menghilangkan gangguan batuk ini, Sosialisman menyarankan agar setiap orang menjaga daya tahan tubuhnya. Jika lembur, waktu istirahat juga harus diganti dengan setimpal. Selain itu, hindari udara dingin atau udara malam. Bila memiliki alergi, hindari alergen (pemicu alergi). | NUR ROCHMI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X