indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Ada Kemungkinan Harimau Jawa Belum Punah

Ada Kemungkinan Harimau Jawa Belum Punah

tigerhomes.org

TEMPO.CO, Jakarta - LUMAJANG - Harimau Jawa diduga masih belum punah. Hewan bernama latin Panthera tigris sondaica ini ditengarai masih ada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di antara wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang.

"Mungkin masih ada satu ekor," kata Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Anggoro Dwi Sujiarto, kepada Tempo, Minggu (5/6) hari ini.

Anggoro mengatakan jejak terakhir harimau terlihat di blok Alas Ireng-ireng, taman nasional itu pada awal 2010. Jejak ditemukan oleh almarhum Prof. Dr. Suwantoko dari Universitas Gajah Mada. "Belum dipastikan itu jejak harimau jenis apa. Karena beliau adalah ahli Lutung," katanya.

Saat itu, Suwantoko dan rekannya tengah meneliti habitat lutung di blok itu. Alas Ireng-ireng merupakan salah satu sisa ekosistem alam yang masih murni. "Boleh dikata surga para peneliti," kata Anggoro.

Hanya, kata Anggoro, bukti langsung keberadaan Harimau Jawa ini belum ada. Jejak itu, kata Anggoro, bisa jadi harimau jawa atau macan kumbang.

Sejumlah kamera tersembunyi pernah dipasang di Alas Ireng-ireng. Namun tak satupun berhasil mendeteksi keberadaan harimau jawa. Meski begitu, pihak taman nasional belum bisa memastikan kalau harimau jawa betul-betul punah sebelum dipastikan harimau apa yang meninggalkan jejak yang dilihat Profesor Suwantoko.

"Kemungkinan masih ada," katanya. Alasannya, kawasan taman nasional sangat luas dan makanan harimau di hutan itu masih banyak. Anggoro juga menambahkan kalau warga setempat sesekali masih sempat melihat keberadaan harimau yang diduga sebagai Harimau Jawa. "Warga setempat menjulukinya si Mbah."

Harimau jawa sebelumnya sudah dinyatakan punah sekitar tahun 1980-an. Harimau ini pernah perkeliaran di sepanjang hutan hujan di Pulau Jawa.

DAVID PRIYASIDHARTA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X