Udara Bersih di Bandung Tinggal 32 Hari dalam Setahun

Udara Bersih di Bandung Tinggal 32 Hari dalam Setahun

TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung - Dampak polusi udara di Kota Bandung semakin gawat. Dua tahun lalu, Bandung masih punya 55 hari bersih dalam setahun. "Sekarang tinggal 32 hari. Tiga tahun lagi Bandung tidak punya udara bersih kalau begini terus kondisinya," kata Mubiar Purwasasmita, anggota Dewan Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Sabtu 10 September 2011.

Data tersebut berasal dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat. Menurut Mubiar, polusi udara menunjukkan kondisi lingkungan Bandung semakin berat, setelah sebelumnya pencemaran air dan tanah. Penyebabnya karena jumlah kendaraan bermotor semakin banyak dan kondisi alam cekungan Bandung. "Akibatnya udara kotor yang terkumpul tak pergi kemana-mana," katanya.

Kondisi itu tak terkurangi oleh penerapan hari bebas tanpa kendaraan (car free day) di Jalan Dago dan Buah Batu setiap Ahad. Begitu pula penghijauan dengan mengalih fungsikan bekas lahan pom bensin menjadi taman kota. Mubiar menyarankan dua langkah jalan keluar.

Pertama, penghijauan terutama di jalur Dago-Lembang. Penanaman pohon itu untuk mendinginkan suhu sehingga udara kotor turun lalu mengalir keluar cekungan. Daerah perbukitan Dago sampai Lembang, kata Mubiar, satu-satunya cerobong yang menjadi jalan keluar udara kotor karena tebingnya landai.

Langkah kedua, mengubah moda transportasi ke angkutan masal bertenaga listrik. Cara ini untuk mengurangi emisi bahan bakar. Bandung dinilai cocok menjadi kota prioritas untuk pemakaian kendaraan tenaga listrik karena sejumlah pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi berada di sekitar cekungan. "PLN harus prioritaskan, sebab kalau tidak, Bandung bertambah kritis," ujarnya.

Selain itu, kata Mubiar, pasokan listrik ke industri juga harus cukup. Tujuannya untuk mengurangi asap pembakaran dari pemakaian batu bara. "Polusi udara terjadi dari akumulasi yang berjalan pelan, dan itu pembersihannya sangat lama," katanya.

Sementara itu, sejumlah aktivis lingkungan dan komunitas kreatif di Bandung Ahad, 11 September 2011, akan menghancurkan aspal di dalam kawasan hutan Babakan Siliwangi. Penghancuran aspal itu untuk menambah area resapan di dalam hutan.


Aksi tersebut, menurut salah seorang peserta dari Bandung Creative City Forum, Ridwan Kamil, mengawali rencana deklarasi Babakan Siliwangi sebagai World City Forest pada 27 September mendatang. "Acara deklarasi itu akan dihadiri oleh Wakil Presiden juga perwakilan Perserikatan Bangsa-bangsa," katanya hari ini.

Menurut Ridwan, badan PBB yaitu United Nation Environtmental Program baru-baru ini telah mengakui Babakan Siliwangi sebagai hutan kota. Sehingga kawasan itu harus bebas dari pembangunan. "UNEP juga minta seluruhnya dihutankan tanpa ada bangunan," katanya.

Saat ini, di kawasan Babakan Siliwangi berdiri gedung Sasana Budaya Ganesha serta arena olahraga seperti lapangan sepakbola dan trek lari serta kolam renang yang dikelola oleh ITB. "Katanya ITB menyewa sampai beberapa tahun," ujarnya. Lahan hutan juga rencananya akan dibangun hotel baru, namun terus dihambat aksi penolakan para aktivis lingkungan.

ANWAR SISWADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X