Uap Panas yang Muncul di Pacitan Dipicu Gerakan Tanah

Uap Panas yang Muncul di Pacitan Dipicu Gerakan Tanah

Lahan persawahan dan perkebunan warga yang ambles di lereng Gunung Wilis, Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Warga juga sering mendengar suara gemuruh gerakan tanah dan merasakan getaran. TEMPO/Ishomuddin

TEMPO.CO, Pacitan - Petugas Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pacitan memperkirakan uap panas berupa gas yang muncul di Dusun Dodong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, disebabkan gerakan tanah permukaan.

“Di daerah sini memang terdapat sesar (patahan) normal yang berada di tanah permukaan,” kata staf teknis Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pacitan, Hadi Surahman, saat dihubungi Tempo, Kamis, 20 Oktober 2011.

Hadi bersama beberapa petugas lain sudah beberapa hari ini melakukan observasi di lokasi setempat. Selain melakukan pengamatan, pihaknya juga melakukan analisis menurut data geologi yang ada. “Karena ada pergerakan di tanah permukaan, maka muncul rekahan dan energi panas dalam Bumi muncul,” jelasnya.

Diduga, gerakan tanah yang terjadi dipicu oleh gempa yang berpusat di Bali, 13 Oktober 2011 lalu, yang membuat pergeseran patahan-patahan kecil permukaan tanah. Hadi memastikan patahan yang bergeser bukanlah patahan besar Grindulu yang berada di dalam perut Bumi Pacitan dan beberapa kota sekitarnya.

Berdasarkan pantauan petugas, bara api yang sempat muncul di antara rekahan tanah yang amblas sejak Sabtu, 15 Oktober 2011 lalu, kini sudah mulai hilang. Menurutnya, energi yang keluar akibat gerakan tanah permukaan itu tidak signifikan. “Dari hari ke hari, intensitas uap panas maupun bara api berkurang,” ujarnya.

Ia membantah jika pemicu uap panas itu akibat proses dekomposisi (pelapukan) bahan organik dari bekas kayu penggergajian di lokasi kejadian. “Kalau proses seperti itu (dekomposisi), butuh waktu lama, sampai ratusan tahun,” ujar Hadi.

Hadi memastikan bahwa fenomena alam yang terjadi itu tidak berbahaya karena intensitas uap panas berupa gas dan bara api yang muncul semakin berkurang. Namun dinas terkait akan melaporkan kejadian ini ke dinas atau lembaga terkait di provinsi dan pusat.

Kepala Desa Gemaharjo, Pujiono, mengakui bahwa di lokasi kejadian, dulu, memang digunakan sebagai pabrik penggergajian kayu. “Dulu, tanah di lokasi memang digali untuk limbah serbuk kayu bekas gergajian dan terakhir kali beroperasi 2002,” katanya.

ISHOMUDDIN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X